Jalan di bawah Flyover Nurtanio kini ditutup permanen menyusul dioperasikannya flyover tersebut dengan dua jalur sejak 5 Januari 2026. Penutupan ini sekaligus menandai berakhirnya perlintasan sebidang yang selama bertahun-tahun kerap menjadi titik kemacetan di kawasan tersebut.
Pantauan di lokasi, Senin (12/1/2026) pagi, arus lalu lintas di atas Flyover Nurtanio tampak lancar. Kendaraan sudah dapat melintas dua arah, baik dari Jalan Abdurahman Saleh menuju Jalan Nurtanio, maupun sebaliknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mobil, sepeda motor, hingga angkutan umum mengalir tanpa hambatan berarti, kontras dengan kondisi sebelumnya yang kerap tersendat akibat perlintasan kereta api.
Sementara itu, suasana berbeda terlihat di jalan tepat di bawah flyover. Ruas jalan yang dahulu selalu padat kini tampak lengang. Hanya sesekali kendaraan melintas, itupun dalam jumlah sangat terbatas.
Akses di bawah flyover praktis tertutup setelah perlintasan sebidang diblokade dengan tembok beton, membuat kendaraan tak lagi bisa melintas langsung seperti sebelumnya.
Penutupan ini membawa dampak langsung bagi warga sekitar. Hendi, salah seorang warga, mengaku harus beradaptasi dengan kondisi baru tersebut.
"Saya memang jarang lewat, tapi kan kalau ditutup gini sekarang jadi tidak bisa (menyeberang). Jadi tadi saya memilih 'ngolong' karena kalau lewat jembatan bahaya juga banyak kendaraan," ujar Hendi.
Perubahan arus lalu lintas juga dirasakan para pedagang yang biasa beraktivitas di sekitar lokasi. Pery, pedagang buah yang sehari-hari mangkal di kawasan itu, terpaksa menyesuaikan titik jualannya.
"Sekarang (jualan) sampai bawah jembatan saja karena lumayan nanjak, kan capek kalau mendorong gerobak (naik flyover)," katanya.
Di sisi lain, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyambut positif penutupan perlintasan sebidang di kawasan Flyover Nurtanio. Manager Humas KAI Daop 2 Bandung, Kuswardojo, menegaskan bahwa keberadaan flyover ini membawa dampak besar terhadap keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna jalan.
"Pada intinya KAI berterima kasih kepada pemerintah pusat dan daerah melalui PUPR yang sudah merealisasikan Flyover Nurtanio sehingga tidak ada lagi perlintasan sebidang di lokasi tersebut," ujar Kuswardojo.
Ia menambahkan, penghapusan perlintasan sebidang merupakan langkah penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan.
"Keberadaan perlintasan tidak sebidang akan meningkatkan keamanan perjalanan kereta api dan pengguna jalan," lanjutnya.
KAI juga berharap pembangunan serupa dapat terus dilakukan di titik-titik lain yang masih memiliki perlintasan sebidang, seiring dengan meningkatnya frekuensi perjalanan kereta api.
"Kami berharap akan lebih banyak lagi dibangun perlintasan tidak sebidang demi keamanan dan keselamatan bersama, apalagi frekuensi KA yang terus meningkat," pungkas Kuswardojo.
(bba/orb)










































