Pada banyak film dan serial hukum, jaksa selalu digambarkan berdiri di ruang sidang dengan berkas tebal dan sorot mata dingin. Dalam 'A Few Good Men', 'The Lincoln Lawyer', atau 'Better Call Saul', peran jaksa hidup di antara pasal, saksi, dan palu hakim.
Namun, kisah ini tidak bermula dari ruang sidang. Ia tumbuh dari ruang kelas anak-anak berkebutuhan khusus, dari dapur kantin sekolah, dan dari meja makan sederhana yang pelan-pelan menjadi ruang perlawanan terhadap ketidakadilan yang nyaris tak terlihat.
"Kisah ini sebenarnya dimulai dari Paris," kata Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor, Denny Achmad, saat berbincang dengan detikJabar, Kamis (8/1/2026).
Tahun 2024, Denny bersama sejumlah jaksa yang tergabung sebagai tim pendamping ditugaskan Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk mengawal atlet disabilitas Indonesia di ajang Paralimpiade Paris.
Mereka menyaksikan sendiri bagaimana para atlet bertanding dengan keterbatasan fisik, namun pulang membawa kehormatan bangsa. Empat belas medali internasional dibawa pulang ke Tanah Air, salah satunya emas dari cabang bulu tangkis.
"Mereka mengharumkan nama bangsa. Namun ketika kami telusuri latar belakang mereka, banyak yang berasal dari sekolah disabilitas yang bahkan belum tersentuh program Makan Bergizi Gratis," ujar Denny.
Sepulang dari Paris, kegelisahan itu tidak hilang. Hal itu justru tumbuh menjadi percakapan demi percakapan, pertemuan kecil, diskusi panjang, hingga akhirnya berubah menjadi sebuah keputusan: sesuatu harus dilakukan.
Denny bersama Jaksa Agung Muda Intelijen Reda Manthovani mulai menyusun langkah. Mereka menemukan satu fakta penting bahwa hingga 2024, belum ada skema nasional yang secara khusus mengatur pemenuhan gizi bagi anak-anak disabilitas, padahal kebutuhan mereka jauh lebih kompleks dibanding anak-anak pada umumnya.
"Kami turun ke sekolah-sekolah. Guru-gurunya menyampaikan kalau anak-anak disabilitas belum mendapatkan MBG dari pemerintah. Dari situ kami berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional. Negara memang belum menyiapkan skema khusus untuk mereka," tutur Denny.
Program pertama dijalankan di Banten, wilayah dengan konsentrasi sekolah disabilitas tinggi yang belum tersentuh bantuan gizi. Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB) menggandeng Grab dan OVO sebagai mitra distribusi. Mereka berfungsi sebagai sistem logistik dan kontrol, bukan sekadar sponsor, yang memastikan setiap porsi makanan sampai ke meja anak-anak yang membutuhkan.
"Kami tidak membangun dapur baru. Kami memberdayakan kantin sekolah dan UMKM sekitar dengan bantuan perusahaan fintech," beber Denny.
"Menu disusun bersama guru, orang tua, dan pendamping. Untuk anak autisme, misalnya, bumbu harus ditakar, tidak boleh MSG, kadar gula dan garam tertentu. Itu kebutuhan yang sangat spesifik," lanjutnya.
Kebersihan setiap dapur diverifikasi dan diawasi ketat oleh Dinas Kesehatan. Proses ini bahkan dipantau melalui CCTV. Setiap pesanan tercatat dalam sistem. Jika ada keluhan, guru dan orang tua bisa langsung menyampaikan.
Cakupan Program
Sekretaris Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB), M. Anzar Latifansyah, menjelaskan bahwa sejak April 2025, program ini telah menjangkau 13 sekolah disabilitas. Jumlah siswa penerima manfaat berbeda dengan sekolah umum.
"Ada sekolah dengan 100 anak, ada yang 200, ada yang 300," kata Anzar.
Pendanaan program berasal dari CSR sejumlah perusahaan swasta dan disalurkan langsung ke mitra pelaksana. Tidak ada keuntungan pribadi yang melekat dalam pelaksanaannya. Anzar mencontohkan saat bersama OVO dan Grab, pihak yayasan cukup memberikan jumlah penerima setiap bulannya lalu perusahaan swasta yang membayarkan, layaknya pembeli yang menggunakan platform.
"Ini murni sosial. Kami hanya inisiator. Setelah yayasan dikelola secara profesional, kami mundur dari kepengurusan agar program ini bisa ditiru siapa saja," tegas Denny.
Kini program mulai disiapkan untuk berkembang ke Kediri melalui dukungan Gudang Garam, tetap dengan fokus khusus pada sekolah disabilitas.
Dalam siaran pers yang diterima detikjabar, Grab-OVO menyatakan bahwa program 'MBG Swasta' merupakan program mereka yang sejalan dengan arahan Presiden Prabowo untuk mendorong keterlibatan sektor swasta dalam mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu program strategis nasional.
"Seluruh pendanaan Program 'MBG Swasta' tidak bersumber dari APBN dan sepenuhnya berasal dari dana CSR Grab-OVO serta dukungan dari berbagai mitra swasta yang bersifat non profit," tulis Grab-OVO dalam siaran pers-nya.
Sebagai bagian dari komitmen inklusivitas, perusahaan fintech tersebut menggandeng YIPB, yayasan yang didirikan Reda Manthovani, tokoh penggerak disabilitas dan Chef de Mission Tim Indonesia pada Paralimpiade 2024, untuk menjangkau sekolah dan siswa berkebutuhan khusus.
Program ini telah berjalan sejak September 2024 hingga sekarang, dengan cakupan lebih dari 4.500 siswa dan guru di lebih dari 30 sekolah. Selain itu sebanyak lebih dari 20 UMKM di kabupaten/kota dilibatkan.
"Pelaksanaannya dilakukan melalui pemanfaatan teknologi dan ekosistem digital, dan terbukti mendorong dampak ekonomi lokal, dan pendapatan UMKM mitra meningkat 2-4 kali lipat serta membuka lapangan kerja baru."
Simak Video "Video: Jamintel Kejagung Hadiri Perayaan Hari Disabilitas Internasional 2025"
(dir/dir)