Sejarah Buahbatu Bandung: dari Telaga Mangga hingga Landasan Pesawat

Sejarah Buahbatu Bandung: dari Telaga Mangga hingga Landasan Pesawat

Gheyna Sabila Z - detikJabar
Rabu, 31 Des 2025 13:00 WIB
Sejarah Buahbatu  Bandung: dari Telaga Mangga hingga Landasan Pesawat
Buahbatu Bandung. (Foto: Sistem Informasi Kearsipan Nasional Dipusipda Jabar)
Bandung -

Bagi warga Bandung, Buahbatu sering kali identik dengan kemacetan dan jalan legendaris yang menghubungkan pusat kota dengan daerah pinggiran.

Namun, jika ditarik ke lorong waktu, Buahbatu bukan sekadar ruas aspal. Ia adalah jalan yang tumbuh bersama waktu, menyimpan cerita rakyat, jejak kolonial, hingga denyut perubahan kota.

Nama Buahbatu sendiri lahir dari kisah sederhana yang puitis. Kisah dari mulut ke mulut diwariskan dari masyarakat tempo dulu saat mereka menemukan buah mangga di sebuah telaga yang dipenuhi batu-batu besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gabungan antara mangga, atau biasa disebut 'buah' dalam bahasa Sunda, dan 'batu' kemudian melekat sebagai penanda kawasan tersebut.

ADVERTISEMENT

Tak ada catatan resmi yang memastikan kebenarannya, tetapi dari situlah kekuatan cerita itu. Hidup dari kepercayaan yang diwariskan, nama Buahbatu bertahan sampai saat ini, bahkan ketika telaga dan pepohonan mangga telah lama hilang dari pandangan.

Jauh pada masa itu, Buahbatu pernah menjadi daerah yang sunyi. Ketika wilayah Bandung bagian selatan masih berupa hamparan sawah dan kebun, yang terdengar hanyalah aktivitas agraris dan kehidupan pedesaan yang bergerak perlahan.

Sulit membayangkan suasana itu ketika berdiri di Buahbatu saat ini. Lapisan sejarah Buahbatu mulai berubah saat kolonialisme menancapkan kepentingannya.

Pernah Jadi Jalur Pacu Udara

Bukan hanya sebagai penghubung antara selatan Bandung, tetapi sebagai ruang darurat di masa genting. Kawasan ini masuk ke dalam perhitungan strategis pemerintah Belanda dengan kekayaan hasil buminya.

Dalam buku Jendela Bandung: Pengalaman Bersama Kompas karya Her Suganda, Jalan Buahbatu pernah menjadi landasan pacu darurat. Jalan ini digunakan Belanda untuk membawa lari para petinggi sipil dan militer seperti HJ Van Mook dan Jenderal Mayor Van Oyen dari kejaran tentara Jepang.

Jalanan desa yang lurus dan lengang pernah digunakan sebagai tempat pesawat lepas landas. Hal ini terasa kontras. Tak ada penanda pasti di bagian mana landasan darurat itu berada. Sejarahnya tak utuh, tapi keberadaannya diakui.

Buahbatu pernah menjadi bagian dari kisah pelarian dan pergantian kekuasaan. Hal ini mungkin sulit dibayangkan saat jalanan ini kini lebih dikenal sebagai pusat kemacetan.

Menjadi Perlintasan Kereta Api

Selepas masa kolonial, Buahbatu kembali mengalami perubahan. Adanya rel kereta api yang melintasi kawasan ini menjadikannya simpul pergerakan manusia dan barang.

Stasiun Buahbatu pernah berdiri sebagai tempat persinggahan hasil bumi dari selatan Bandung sebelum menuju ke pusat kota. Di sekitar jalur itu pula aktivitas perekonomian kecil tumbuh. Warung, rumah pekerja, dan aktivitas ekonomi kecil hadir dan menghidupkan kawasan.

Seiring dengan perubahan zaman, ketika transportasi jalan raya mengambil alih, rel-rel itu perlahan kehilangan fungsinya. Jalur kereta ditutup, stasiun menghilang, dan Buahbatu memasuki babak baru sebagai kawasan permukiman dan koridor ekonomi.

Era 1970-1980 menjadi titik penting ketika perumahan dan bangunan komersial mulai mendominasi kawasan ini. Sawah mulai menghilang dan digantikan tembok serta aspal.

Hingga sekarang, Buahbatu menjadi wajah Bandung modern yang padat, dinamis, dan terus bergerak. Pusat perbelanjaan, kuliner, kampus, hingga akses tol menjadikan kawasan ini hidup nyaris 24 jam.

Banyak orang yang datang dan pergi di atas jalan dengan lapisan sejarah yang panjang ini.

Buahbatu bukan hanya soal asal-usul nama atau catatan kolonial, melainkan contoh nyata bagaimana ruang berubah mengikuti pergerakan manusia dan zamannya.

Dari telaga berbatu dan pohon mangga, menjadi jalan bertanah, landasan pesawat darurat, lalu berubah menjadi perlintasan kereta, kini Buahbatu menjadi koridor urban yang sibuk.

(sud/sud)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads