Sekilas Mirip Dinosaurus, Tapi Hewan Ini Ternyata Leluhur Buaya

Kabar Internasional

Sekilas Mirip Dinosaurus, Tapi Hewan Ini Ternyata Leluhur Buaya

Rachmatunnisa - detikJabar
Sabtu, 29 Nov 2025 23:00 WIB
Nenek moyang buaya
Nenek moyang buaya (Foto: Earth.com)
Jakarta -

Di sebuah kawasan fosil di Brasil selatan, para peneliti menemukan seekor predator purba yang mudah membuat banyak orang terkecoh. Sekilas, wujudnya mengingatkan pada dinosaurus, bertubuh ramping, berpelat keras, dan dilengkapi moncong penuh gigi tajam.

Namun makhluk ini ternyata berasal dari garis keturunan yang berbeda sama sekali. Ia adalah Tainrakuasuchus bellator, anggota kelompok Pseudosuchia, leluhur jauh buaya dan aligator masa kini.

Melansir detikInet, hewan ini hidup sekitar 240 juta tahun lalu, ketika Zaman Trias sedang membentuk panggung bagi kemunculan dinosaurus. Dengan panjang hampir dua setengah meter dan berat sekitar 60 kilogram, tubuhnya dirancang untuk serangan kilat, leher panjang yang lincah, rahang ringan bertaring melengkung, serta moncong ramping yang memudahkannya melakukan gigitan akurat. Bagi mangsa, sentakan kepalanya saja sudah cukup menjadi peringatan terlambat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Punggungnya dilapisi pelat kulit bertulang osteoderm seperti baju zirah alami, mirip pola yang masih kita lihat pada buaya modern. Namun bila diperiksa lebih jauh, struktur pinggul dan tulang pahanya menegaskan bahwa hewan ini bukan dinosaurus, seberapa pun miripnya bagi mata awam.

ADVERTISEMENT

"Hewan ini merupakan predator aktif, tetapi meskipun ukurannya relatif besar, ia jauh dari pemburu terbesar pada masanya," kata penulis utama studi, Rodrigo Temp Müller dari Universidade Federal de Santa Maria, dikutip dari Earth.com.
"Meskipun penampilannya sekilas menyerupai dinosaurus, Tainrakuasuchus bellator tidak termasuk dalam kelompok itu," tambahnya.

Perbedaan paling jelas memang terlihat pada panggulnya: anatomi yang dibuat untuk kecepatan dan kendali, bukan kekuatan brutal. Walau fosil anggota tubuhnya tidak ditemukan, tim menilai hewan ini kemungkinan berjalan dengan empat kaki, memberi stabilitas untuk melakukan penyergapan dan manuver tajam.

Dalam ekosistem Trias, predator ini hidup berdampingan dengan pseudosuchia yang ukurannya jauh lebih besar. Ia menempati relung tersendiri, bukan raja paling puncak, tetapi cukup gesit untuk mengisi ruang antara pemburu besar dan menengah. Menurut Müller, keberadaannya menunjukkan betapa kompleksnya dunia purba sebelum dinosaurus mengambil alih hegemoni.

"Penemuan ini membantu menjelaskan momen penting dalam sejarah kehidupan, periode sebelum munculnya dinosaurus," ujar Müller.

Fosil Tainrakuasuchus bellator ditemukan pada Mei 2025 di dekat Dona Francisca, Rio Grande do Sul. Temuannya berupa kerangka parsial, fragmen rahang bawah, ruas tulang belakang, serta bagian korset panggul. Setelah melalui proses pembersihan laboratorium yang teliti, ciri-ciri anatominya perlahan terungkap dan jelas tidak cocok dengan spesies mana pun yang pernah dideskripsikan.

"Meskipun pseudosuchia beragam, mereka masih kurang dipahami, karena fosil beberapa garis keturunan mereka sangat langka dalam catatan fosil. Fosil-fosil yang kami temukan menjalani proses persiapan yang sangat teliti di laboratorium, di mana batuan di sekitarnya disingkirkan dengan hati-hati," jelas Müller.

"Begitu detail anatomi terungkap, kami sangat gembira dan bersemangat untuk mengungkapkan bahwa spesimen tersebut mewakili spesies yang sebelumnya tidak diketahui oleh sains," kenangnya.

Nama Tainrakuasuchus merupakan gabungan bahasa Guarani dan Yunani-tain (gigi), rakua (runcing), dan suchus(buaya)-menunjuk pada gigi melengkungnya. Sementara bellator, bahasa Latin untuk "pejuang", diberikan sebagai penghormatan kepada penduduk Rio Grande do Sul yang baru-baru ini menghadapi banjir besar.

Secara evolusi, spesies ini menunjukkan hubungan dengan Mandasuchus tanyauchen dari Tanzania. Kesamaan tersebut masuk akal, mengingat pada Zaman Trias benua-benua masih menyatu dalam Pangea sehingga hewan dari Amerika Selatan dan Afrika dapat menyebar bebas.

"Hubungan antara hewan dari Amerika Selatan dan Afrika ini dapat dipahami berdasarkan paleogeografi Periode Trias. Pada masa itu, benua-benua masih menyatu, yang memungkinkan penyebaran organisme secara bebas di wilayah-wilayah yang kini dipisahkan oleh lautan. Akibatnya, fauna Brasil dan Afrika memiliki beberapa kesamaan," kata Müller.

Melalui publikasi di Journal of Systematic Paleontology, para peneliti menegaskan betapa pentingnya temuan ini untuk memahami ekosistem prasejarah. Tainrakuasuchus bellator mengingatkan bahwa jauh sebelum dinosaurus memerintah Bumi, dunia sudah dihuni oleh aneka predator yang tidak kalah memukau, kadang begitu mirip dinosaurus, sampai kita mudah tertipu oleh bentuknya.

Artikel ini sudah tayang di detikInet




(rns/dir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads