Pergulatan Wa Amif 10 Tahun 'Bertempur' di Jalanan

Serba-serbi Warga

Pergulatan Wa Amif 10 Tahun 'Bertempur' di Jalanan

Bima Bagaskara - detikJabar
Minggu, 31 Agu 2025 13:00 WIB
Wa Amif, driver ojek online di Bandung.
Wa Amif, driver ojek online di Bandung. (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar)
Bandung -

Pagi menjelang siang di sebuah warung kopi sederhana di kawasan Cimindi, Kota Bandung. Di antara deru kendaraan yang berseliweran, seorang pria berjaket sibuk menunduk, memeriksa pelat nomor motornya yang bengkok. Namanya Miftah.

Saat itu, motornya baru saja ditabrak dari belakang oleh pengendara lain. Bagi Miftah, hal itu bukan kejadian besar, hanya pelat nomor sepeda motor kesayangannya saja yang ringsek. Wajahnya tetap tenang, tidak marah dan tidak banyak bicara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang penting saya baik-baik saja," ucapnya sambil tersenyum beberapa waktu lalu.

Miftah merupakan seorang pengemudi ojek online alias ojol. Di kalangan sesama pengemudi, ia lebih dikenal dengan Wa Amif. Perjalanan Wa Amif sebagai pengemudi ojek online dimulai pada 2015, ketika transportasi berbasis aplikasi itu pertama kali hadir di Bandung.

ADVERTISEMENT

"Saya driver ojol dari awal mula, waktu itu masih satu aplikator. Enggak kayak sekarang, terlalu banyak," kenangnya.

Dari Panggung Hiburan

Sebelum jadi ojol, hidupnya jauh berbeda. Ia lama berkecimpung di dunia hiburan, bekerja di tempat karaoke hingga menjadi kru band. Namun sebuah keputusan besar mengubah jalan hidupnya di tahun 2015 silam.

"Saya memutuskan hijrah. Dari dulu memang ingin pindah ke Bandung, tapi belum dapat pekerjaan. Pas ada (ojek) online, saya coba. Saya asli Leuwipanjang. Jadi sudah 10 tahun sekarang," ujarnya.

Hijrah bukan sekadar pindah kota, tapi juga meninggalkan dunia lama yang penuh godaan. "Buat apa saya hijrah kalau masih tetap kayak dulu. Saya ingin berubah," katanya.

Jauh sebelum menjadi ojol, Wa Amif juga sesekali menjalani profesi sebagai ojek pangkalan. Dari pengalamannya itu, memberi pelajaran bagi dia untuk bersosialisasi saat hadirnya ojol menimbulkan pro kontra di masa-masa awal.

Menurut dia, sebagai mantan ojek pangkalan, Wa Amif tahu betul lika-liku konflik di awal hadirnya ojol. Untuk menghadapi itu, hanya satu yang dia pegang teguh, yakni etika. Baginya, hidup di jalanan adalah sekolah yang keras.

"Etika itu penting. Ada yang nerima, ada yang enggak. Orang Sunda bilang, hade goreng ku basa. Baik buruk itu tergantung cara kita membawa diri," ucapnya.

"Kalau di jalanan, hidupnya keras," imbuhnya.

Suka dan Duka Mengaspal

Sepuluh tahun mengaspal membuatnya paham betul pahit manis profesi ini. Sukanya, ia merasa bebas, tidak terikat aturan seperti pekerja kantoran pada umumnya.

"Alhamdulillah enggak terlalu diatur. Kalau kerja di pabrik kan banyak aturan. Kalau ojol mah tergantung niat. Keluar rumah, niatnya ngasih rezeki buat anak istri," katanya sambil senyum.

Tapi duka jauh lebih panjang untuk diceritakan. Dari permintaan aneh pelanggan seperti membeli minuman kera, hingga tuntutan aplikasi yang kadang tak masuk akal.

"Saya enggak mau beli minuman, bukan munafik, tapi kejahatan berawal dari situ. Saya pernah nolak, sampai dimarahin customer. Tapi saya datangi, saya jelaskan baik-baik. Akhirnya mereka ngerti," ucapnya tegas.

Ada pula cerita tentang peta digital yang menyesatkan. Tak jarang, Wa Amif harus mengikuti petunjuk arah yang menyesatkan. Dia diarahkan melewati gang sempit bahkan turunan tajam saat membawa penumpang.

"Kadang aplikasi nyuruh lewat tangga, jalan curam, gang sempit. Itu kan jalan buat pejalan kaki. Kita sudah ngadu, katanya ngikutin Google Maps. Jadinya customer suka marah-marah, padahal bukan salah kita," keluhnya.

Tak Ada Kata Libur

Menjadi seorang ojol, tak ada jadwal libur bagi Wa Amif. Hampir setiap hari, dia keluar rumah, menyalakan aplikasi dan menunggu orderan datang.

"Mau enggak mau tiap hari onbid. Kalau ada urusan keluarga, baru libur. Kadang dari pagi pulang malam, kadang sampai subuh, tergantung situasi. Kalau mau bagus, ya harus konsisten," katanya.

Namun begitu, getir dialami Wa Amif. Pendapatan tak lagi semanis dulu. Untuk mengantongi Rp 100 ribu saja, dia harus bekerja keras dari pagi hingga malam hari.

"Sekarang buat dapat Rp100 ribu sehari aja agak sulit, soalnya driver sudah kebanyakan. Harus kerja keras banget. Tapi ya, tetap dijalani. Bersyukur aja karena enggak ada penghasilan lain," ujarnya.

Namun di balik semua keluh kesah itu, ada alasan yang membuatnya tetap bertahan, keluarga. Ia ingin anak-anaknya tumbuh dengan pendidikan yang layak, ingin istrinya tidak perlu pusing memikirkan dapur, dan ingin perubahan hidupnya membawa berkah.

Bagi Wa Amif, hidup di jalanan adalah ujian kesabaran. "Kalau di jalanan itu keras, tapi kita harus kuat. Rezeki enggak akan ke mana," katanya menutup obrolan.

Beberapa menit kemudian, ia mengenakan helmnya. Motor matiknya menyala. Dengan pelat nomor belakang yang masih bengkok, ia kembali meluncur ke jalan, menjemput orderan.

(bba/orb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads