Macan Tutul: Ciri Fisik hingga Statusnya yang Terancam Punah

Macan Tutul: Ciri Fisik hingga Statusnya yang Terancam Punah

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Jumat, 29 Agu 2025 12:45 WIB
Ilustrasi Macan Tutul
Ilustrasi macan tutul. (Foto: AFP)
Bandung -

Macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) kabur dari objek wisata Lembang Park and Zoo, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kamis (28/8/2025) sekitar pukul 05.30 WIB.

Dilansir detikJabar, karnivora berumur 3 tahun itu sejatinya adalah hewan yang dievakuasi dari kantor balai desa di Kabupaten Kuningan, beberapa hari sebelumnya, yang kemudian dititipkan ke Lembang Park and Zoo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Lembang, macan tutul itu kabur dengan menjebol bagian atap kandang tempatnya dikarantina. Rencananya, macan itu akan menjalani observasi dan kembali dilepasliarkan di kawasan Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan.

Untuk menangkap kembali macan tutul itu, tiga tim yang terdiri atas pengelola Lembang Park and Zoo, dokter hewan, penembak bius, Dinas Kehutanan, BBKSDA, hingga TNI dan Polri bersenjata bergerak. Hewan itu skenarionya ditangkap hidup atau mati.

ADVERTISEMENT

Ciri Fisik Macan Tutul Jawa

Macan tutul Jawa punya dua rupa. Ada yang kulitnya berwarna kuning dan ada yang gelap. Namun, keduanya tetap memiliki corak totol-totol.

Dinukil dari situs Peka Muria, hewan ini punya tubuh yang lebih kecil jika dibandingkan dengan sub-spesies macan tutul lainnya di dunia. Macan tutul Jawa punya berat badan berkisar antara 40-60 kilogram, dengan ukuran panjang badan termasuk ekornya mencapai 2 meter.

Ciri utama pada macan tutul Jawa adalah pola bintik-bintik hitam pada kulitnya. Apakah yang kulitnya kuning maupun yang hitam, sama punya totol-totol.

"Terdapat dua variasi warna pada macan tutul Jawa: bulu kuning dengan bintik hitam dan bulu hitam yang dikenal dengan istilah melanistik. Meskipun berbulu hitam, bintik-bintiknya tetap terlihat samar ketika berada di bawah cahaya terang," tulis situs Peka Muria.

Makanan Utama Macan Tutul Jawa

Sebagai karnivora, macan tutul Jawa memakan daging dari hewan-hewan yang biasa menjadi buruannya. Menu utama santapan macan tutul Jawa adalah hewan berkuku. Misalnya, rusa dan antelop, serta primata (monyet) dan babi hutan.

Hewan-hewan itu, macan tutul Jawa juga bisa memangsa burung, hewan pengerat (tikus), ikan, dan reptil. Ketika mereka terdesak karena kerusakan habitat akibat ulah manusia, mereka mendesak ke pemukiman dan memangsa hewan ternak seperti kambing dan domba, jika ada kesempatan.

Macan tutul Jawa tersebar di banyak tempat di Pulau Jawa. Terutama di Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, dan Taman Nasional Baluran, dan sekitar tempat-tempat itu.

Sub-Spesies Macan Tutul di Dunia

Panthera pardus punya sembilan subspesies yang tersebar di sejumlah tempat di dunia. Dikutip dari berbagai sumber, binatang ini menempati sejumlah negara mulai dari India hingga Persia.

Berikut ini kesembilan subspesies macan tutul, dikutip dari berbagai sumber:

  1. Panthera pardus delacouri (Macan Tutul Indochina)
  2. Panthera pardus fusca (Macan Tutul India)
  3. Panthera pardus japonensis (Macan Tutul China utara)
  4. Panthera pardus kotiya (Macan Tutul Sri Lanka)
  5. Panthera pardus melas (Macan Tutul Jawa)
  6. Panthera pardus nimr (Macan Tutul semenanjung Arab)
  7. Panthera pardus orientalis (Macan Tutul Amur)
  8. Panthera pardus pardus (Macan Tutul Afrika)
  9. Panthera pardus saxicolor (Macan Tutul Kaukasus, Macan Tutul Asia Tengah, Macan Tutul Persia)

Status Macan Tutul Jawa yang Terancam Punah

Dinukil dari situs Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dikatakan bahwa macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) berada dalam status terancam punah.

"Satwa liar endemik Pulau Jawa (ini), memiliki status Genting (Endangered) menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources)," tulis situs tersebut, dilihat detikJabar, Jumat (29/8/2025).

BRIN menjelaskan, macan tutul jenis tersebut telah ditetapkan sebagai satwa dilindungi sejak tahun 1931 oleh undang- undang pemerintah kolonial Belanda.

Macan tutul Jawa menjadi semakin populer sebab menjadi kucing besar endemik satu-satunya yang masih bertahan, terutama setelah harimau Jawa dinyatakan punah pada 1980-an.

Konflik Macan Tutul Jawa dengan Manusia

Macan tutul Jawa punya peran penting bagi kelangsungan hidup manusia secara tidak langsung. Dikutip dari situs Biologi Universitas Padjadjaran, macan tutul Jawa 'menjaga keseimbangan ekosistem sebagai predator pengendali populasi mangsa. Selain pada ekosistemnya, macan tutul jawa pun berperan menjaga kesehatan manusia dari vektor-vektor penyakit'.

Tetapi, manusia sering sekali berkonflik dengan macan tutul dan dari sekian banyak 'pertempuran', macan tutul adalah pihak yang selalu dirugikan.

Profesor riset bidang konservasi keanekaragaman hayati Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hendra Gunawan mengatakan 'hidup berdampingan' merupakan solusi konflik manusia dan satwa liar.

Dikutip dari laman BRIN, Hendra menjelaskan bahwa sejak tahun 1993 hingga 2020, terjadi konflik antara macan tutul dan manusia dengan jumlah yang terus meningkat. Telah terjadi lebih dari 180 konflik di 26 kabupaten di Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Selama periode tersebut, sebanyak 45 macan tutul ditangkap oleh petugas Rescue, 21 ekor ditangkap oleh masyarakat, 12 ekor mati dibunuh atau terbunuh, 6 ekor terjerat atau terperangkap, dan 5 ekor mati karena racun. Bandingkan dengan kasus macan tutul sebagai pelaku, yakni terjadi 75 kasus pemangsaan ternak dan 19 kali macan tutul memasuki pemukiman.

Hendra menjelaskan, dalam konflik, pihak macan tutul selalu menjadi yang paling banyak dirugikan. Karenanya, penting untuk diadakannya upaya serius dalam mencegah dan menangani konflik dari akar penyebabnya. Hal ini untuk mencegah kepunahan macan tutul.

Macan di Dalam Sastra Indonesia

Pihak macan menjadi pihak yang dirugikan dalam konfliknya dengan manusia. Dan, satu-satunya kejadian macan menuntut 'keadilan' dengan melakukan pembalasan kepada manusia hanya ada di dalam sastra.

Cerita pendek (cerpen) berjudul 'Macan' karya sastrawan Seno Gumira Ajidarma (Kompas, 2020) mengisahkan pembalasan macan betina di mana jantan yang menjadi pasangannya tewas diburu manusia. Pasangannya itu ditombaki dengan bambu runcing sebelum akhirnya dikuliti untuk dijadikan pajangan di kantor desa.

Warga kampung yang dikomandoi seorang pemburu profesional, juga ingin menghabisi macan betina itu dan anak-anaknya. Alasannya, ya macan adalah hewan buas yang mungkin bisa menyerang perkampungan kapanpun. Di samping itu, kulit macan juga bernilai.

Sementara itu, macan betina begitu rapi menyimpan dendam. Dia tahu siapa yang harus menjadi sasaran. Tiada lain adalah pemburu yang bau tubuhnya dia sudah kenali.

Pada suatu malam berhujan, sang pemburu itu keluar dari gubuknya untuk mengambil air di sumur. Macan menemuinya, dan pemburu itu sudah terlambat menyadari kehadiran 'Simbah' itu.

Halaman 2 dari 2
(orb/orb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads