Pagi baru datang saat sinar matahari merambat pelan menciptakan sosok bayangan ranting pohon yang menerpa Jalan Siliwangi, jantung ibu kota Kabupaten Sukabumi.
Suara klakson motor bersahut-sahutan, bersaing dengan deru mobil yang melintas cepat. Di tepi jalan, deretan gerobak pedagang kaki lima berdiri rapat, sementara motor dan mobil memenuhi trotoar yang seharusnya jadi jalur aman bagi pejalan kaki.
Di dekat Pendopo Bupati Sukabumi, pemandangan yang muncul justru kontras dengan fungsinya sebagai pusat kota. Ubin trotoar yang retak dan pecah berserakan, sebagian hilang tertutup gerobak dan kendaraan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akar-akar pohon mencuat ke permukaan, membuat permukaan tak rata. Seorang ibu terlihat menggandeng anak kecilnya, berjalan di pinggir aspal, menembus arus kendaraan karena tak ada ruang tersisa di trotoar.
Risa Febrianti (24), warga Desa Citepus, setiap pagi melewati jalur ini saat mengantar anaknya ke sekolah. Ia mengaku selalu waswas setiap kali melintas.
"Trotoarnya penuh motor sama mobil parkir, jadi kita mau enggak mau turun ke jalan. Kalau orang dewasa mungkin masih bisa jaga-jaga, tapi anak-anak yang lewat sekolah itu bahaya banget," kata Siti, Jumat (29/8/2025).
Ia bercerita, hampir setiap hari melihat anak-anak berjalan beriringan sambil berpegangan tangan di pinggir jalan. Mobil-mobil melintas dekat sekali dengan tubuh mereka.
"Setiap kali lewat rasanya deg-degan. Anak-anak itu kan enggak semua ngerti bahaya kendaraan. Kalau ada motor ngebut, bisa celaka. Pemerintah harus cepat ambil langkah," ujarnya.
Beberapa meter dari situ, Asep Saepuloh (44), pedagang asongan berdiri di delay trotoar. Pandangannya tertuju pada barisan motor dan mobil yang menutupi trotoar. Menurutnya, jalur pejalan kaki di kawasan ini sudah lama hilang.
"Setiap hari pasti ada mobil parkir di trotoar, terutama pas jam-jam siang. Kadang sampai nutup jalur pejalan kaki. Harusnya ada penertiban, jangan sampai pejalan kaki yang dikorbankan," ucap Asep.
Ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan, mengatakan kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa ada penanganan serius.
"Kalau begini terus, ya kasihan pejalan kaki. Kita yang punya hak lewat malah tersingkir. Apalagi ini pusat kota, kesannya jadi enggak tertib dan dibiarkan begitu saja," imbuhnya.
Pantauan detikJabar, trotoar di Jalan Siliwangi kini lebih sering jadi lahan parkir ketimbang jalur pejalan kaki. Dampaknya, pejalan kaki harus berbagi ruang dengan pengendara di jalan raya yang padat.
Terkadang, bahu jalan juga habis oleh kendaraan roda empat yang juga parkir mepet ke trotoar. Di lokasi tersebut juga terdapat klinik kesehatan, sebuah mobil ambulans juga terparkir menghalangi torotoar, memaksa pejalan maki menginjak aspal jalan.
Rahmat salah seorang warga berharap pemerintah daerah segera bertindak tegas.
"Harus ada penertiban dan pengawasan supaya trotoar benar-benar dipakai sesuai fungsinya. Jangan tunggu ada korban baru bergerak," ujarnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Plt Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Kabupaten Sukabumi, Herdiawan Waryadi, mengatakan pihaknya akan melakukan intervensi penataan trotoar sesuai kewenangan.
"Iya, nanti akan diintervensi penataannya sesuai dengan kewenangan, Pak," kata Herdiawan saat dikonfirmasi detikJabar.
Ia menambahkan, untuk kebersihan ruas Jalan Siliwangi dan sekitarnya, pihaknya bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melakukan perawatan rutin setiap hari.
"Untuk rute itu kebersihannya rutin oleh personel Perkim dan DLH setiap hari," ujarnya.
Namun, Herdiawan menjelaskan bahwa status kewenangan Jalan Siliwangi berbeda dengan ruas lainnya.
"Sepemahaman saya kalau ruas itu statusnya jalan kabupaten oleh kabupaten, Pak. Namun untuk Jalan Siliwangi, kewenangan pusat," pungkasnya.
(sya/mso)