Ini Tandanya Genteng Rumah Kamu Sudah Kedaluwarsa

Ini Tandanya Genteng Rumah Kamu Sudah Kedaluwarsa

Sekar Aqillah Indraswari - detikJabar
Jumat, 29 Agu 2025 05:30 WIB
Batu bata terbuat dari tanah liat yang dibakar sampai berwarna kemerah merahan. Seiring perkembangan teknologi, penggunaan batu bata semakin menurun. Munculnya material-material baru seperti gipsum, bambu yang telah diolah, cenderung lebih dipilih karena memiliki harga lebih murah dan secara arsitektur lebih indah.
Genteng (Foto: dikhy sasra)
bandung -

Genteng menjadi salah satu pilihan atap yang paling banyak digunakan karena kemampuannya meredam panas sehingga membuat rumah terasa lebih sejuk.

Selain itu, genteng dikenal kuat, tidak mudah terhempas angin, serta memiliki daya tahan yang panjang. Dari sekian banyak jenisnya, genteng tanah liat termasuk yang paling populer.

Meski dikenal awet, genteng tanah liat juga memiliki batas usia pakai, umumnya berkisar antara 40 hingga 50 tahun. Ketahanan tersebut bahkan termasuk yang terlama dibandingkan dengan jenis atap lain. Umur genteng bisa lebih panjang apabila dibuat dari material berkualitas serta dipasang dengan teknik yang benar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cara sederhana untuk mengetahui kondisi genteng masih baik adalah ketika rumah jarang mengalami rembesan. Biasanya, kebocoran baru muncul saat hujan turun deras disertai angin kencang.

Namun, usia genteng bisa lebih pendek jika mulai ditemukan banyak retakan maupun pecahan pada permukaan. Celah-celah kecil inilah yang memungkinkan air meresap ke dalam rumah. Bila dibiarkan, biaya perbaikan akan semakin besar.

ADVERTISEMENT

Menurut kontraktor Wildan, ketika terjadi kebocoran, kerusakan tidak hanya menimpa genteng, tetapi juga berpotensi merusak plafon serta rangka baja pada atap. Air yang merembes dapat menimbulkan karat pada baja dan menyebabkan jamur tumbuh di plafon.

Oleh karena itu, pemilik rumah perlu mengenali tanda-tanda genteng tanah liat sudah saatnya diganti. Mengutip Kin.com, berikut beberapa indikasinya:

1. Air, Cahaya, atau Hewan Masuk ke Dalam Rumah

Tanda paling mudah dikenali adalah munculnya kebocoran. Tetesan air yang sampai ke plafon bukan hanya merusak tampilan interior, tetapi juga dapat memicu pertumbuhan jamur hitam (black mold) yang berbahaya bagi kesehatan.

Jika kerusakan semakin parah, sinar matahari dapat menembus celah, dan hewan-hewan seperti kelelawar, tikus, atau musang bisa masuk dan bersarang di atap. Keberadaan mereka tidak hanya menyulitkan perbaikan, tetapi juga menimbulkan kebisingan saat hewan-hewan tersebut beraktivitas.

2. Muncul Lumut atau Karat pada Atap

Area atap yang sering terpapar hujan dan panas secara bergantian akan cenderung lembap, sehingga menjadi tempat ideal bagi lumut untuk tumbuh. Bila tidak segera ditangani, kondisi ini bisa mempercepat kerusakan genteng maupun struktur atap secara keseluruhan.

Artikel ini telah tayang di detikproperti

(aqi/yum)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads