Khawatirnya Warga Cipatuguran Kampungnya Hilang Tergerus Abrasi

Kabupaten Sukabumi

Khawatirnya Warga Cipatuguran Kampungnya Hilang Tergerus Abrasi

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Selasa, 01 Nov 2022 07:31 WIB
Abrasi di Sukabumi.
Abrasi di Sukabumi (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar).
Sukabumi -

Abrasi ekstrem yang terjadi di pesisir Pantai Selatan Teluk Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Kondisi itu membuat warga yang tinggal di Cipatuguran, Kampung Babakan Anyar, Kelurahan/Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi menjadi khawatir.

Mereka khawatir kampungnya hilang karena tergerus ganasnya gelombang yang terjadi nyaris di setiap musim angin barat. Senin (31/10/2022) siang, detikJabar kembali bertemu dengan Eni Anggraeni (48), pemilik warung wisata di kawasan pesisir Pantai Cipatuguran. Pada Februari awal tahun ini, Eni juga sempat menceritakan kondisi abrasi yang terus meluas menggerus pesisir.

"Kami terus bersuara karena takut suatu saat kampung kami hilang, luas pantai terus bertambah karena terkena gelombang. Ketika musim barat lebih parah lagi karena ombak bisa naik ke daratan," kata Eni.


Berbagai upaya bukan tidak dilakukan. Pemasangan bronjong hingga karung pasir berukuran besar dipasang untuk menahan gempuran ombak. Namun, penahan itu tidak berdaya menahan kekuatan alam.

"PLTU (Palabuhanratu) sudah membangun, kalau saya hitung tiga kali membangun, sudah langganan. Pertama bronjong diserahkan ke warga. Kemudian hancur lalu pemasangan kantong pasir hilang sekarang di pasang lagi baru lagi kantong pasir," ujar Eni.

Rata-rata penahan ombak tidak bertahan lama. Eni yakin tidak sedikit uang yang dikeluarkan PLTU untuk membangun penahan ombak itu. Ia berharap bangunan kuat dan permanen dipasang membelah lautan untuk menahan gempuran ombak.

"Bronjong sekitar 6 bulan bertahan, kalau pakai kantong pasir seperti sekarang juga nggak bertahan lama lagipula ombak masih menyambar hingga ke daratan kena ke sini (warung) ini harus oleh pemerintah. Harus pakai pemecah ombak, dulu itu dari sini (posisi warung) ke bibir pantai jauh banget. Kalau dibiarkan lama-lama bisa habis semuanya bangunan di sini," ujar dia.

Bangunan permanen pengasinan dan tempat pembuatan abon ikan adalah bukti keganasan abrasi di pesisir Cipatuguran. Hampir seluruh bagian di bangunan itu hancur, atap sendiri terbang karena angin barat sementara tembok karena kekuatan ombak.

"Tiga tahun lalu bangunan masih utuh, tapi karena abrasi satu persatu dinding tembok hancur karena abrasi. Akhirnya aktivitas berhenti, ditinggalkan menyisakan bangunan saja," kata Asep, masih warga setempat.

Dilihat detikJabar, kondisi bangunan korban abrasi itu memang terlihat menghawatirkan. Selain retak dan hancur, setiap sudut ruangan sudah dipenuhi pasir pantai. Tangan-tangan 'kreatif' pelaku vandalisme juga sudah menghiasai dinding bangunan tersebut.

(sya/mso)