Hari Santri Nasional 2022: Begini Asal-usul dan Sejarah Peringatannya

Hari Santri Nasional 2022: Begini Asal-usul dan Sejarah Peringatannya

Tim detikJabar - detikJabar
Kamis, 20 Okt 2022 09:35 WIB
Sejumlah santri mengikuti kajian kitab kuning di Pondok Pesantren Darussalam, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Rabu (13/4/2022). Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencanangkan 17 Program Pesantren Juara dalam upaya memperkuat dan memandirikan pesantren dalam lembaga pendidikan yang ramah zaman, kompatibel dengan perkembagan zaman, dan siap menjawab tantangan zaman. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/aww.
Ilustrasi Hari Santri (Foto: ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI)
Bandung -

Sejak 2015, Indonesia memperingati Hari Santri Nasional setiap tanggal 22 Oktober. Penetapan ini dikeluarkan oleh Presiden RI, Joko Widodo dalam Keppres Nomor 22 Tahun 2015. Belum banyak orang tahu, bagaimana awal mula Sejarah Hari Santri hingga dirayakan setiap tahunnya

Sebelumnya perlu diketahui apa itu santri. Santri adalah sebutan bagi para pelajar yang belajar di pondok pesantren dan berguru kepada para kiai.

Dalam catanan sejarah, sejak dahulu para santri sejak mewakafkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut.


Seperti dikutip dari laman Setkab.go.id, dengan caranya masing-masing, para santri bergabung dengan seluruh elemen bangsa melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, ikut berperan mengatur strategi hingga mengajarkan tentang arti kemerdekaan.

Hingga ada salah satu momen perjuangan santri untuk kemerdekaan adalah ketika pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy'ari yang menyerukan resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945.

Sejarawan NU KH Agus Sunyoto pun menegaskan bahwa santri merupakan representasi bangsa pribumi dari kalangan pesantren yang sangat berjasa membawa Indonesia menegakkan kemerdekaan melalui Resolusi Jihad 22 Oktober yang dicetuskan oleh KH Hasyim Asy'ari.

Agus menerangkan istilah santri berasal dari Indonesia, berbeda dengan istilah siswa yang berasal dari Belanda. Jika dirunut sejarahnya, awalnya Indonesia dianggap negara boneka Jepang oleh negara sekutu karena kemerdekaannya dinilai pemberian dari Nippon tersebut.

Ini tergambarkan, menjelang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Ir Soekarno dan Mohammad Hatta menyambangi Jepang untuk bertemu Kaisar.

"Rapat besar di Lapangan Ikada juga dijaga ketat oleh tentara Jepang. Belum lagi Naskah Teks Proklamasi yang diketik oleh orang berkebangsaan Jepang Laksamana Meida," jelas Agus.

Setelah Jepang kalah perang dengan tentara sekutu atau NICA, mereka berusaha kembali menjajah Indonesia dalam agresi militer kedua. Ternyata tentara NICA dikagetkan oleh perlawanan orang-orang pribumi dari kalangan santri.

"Dari sinilah mereka berpikir bahwa kemerdekaan Indonesia bukan karena pemberian dari bangsa Jepang, melainkan betul-betul didukung oleh seluruh rakyat Indonesia," tutur penulis buku 'Atlas Wali Songo' ini.

Maka itu, menurut Agus, penetapan Hari Santri Nasional bukan hanya sebagai agenda kepentingan kelompok tertentu, tetapi untuk kepentingan seluruh bangsa Indonesia yang ketika itu digerakkan oleh Resolusi Jihad, yakni fatwa jihad KH Hasyim Asy'ari untuk membela Tanah Air dari penjajah hukumnya fardlu'ain atau wajib bagi setiap individu.

Berdasarkan perjuangan santri itu pula Presiden Jokowi menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional lewat Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Dalam pidatonya, Kepala Negara mengatakan penetapan ini dilakukan menginat peran santri termasuk KH Hasyum Asy'ari.

"Mengingat peran historis itu, mengingat peran sejarah itu, mengingat peran santri menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengingat peran tokoh-tokoh santri seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Ahmad Dahlan, KH Ahmad Hasan, Syech Ahmad Suropati, Kiai Mas Abdurahman, tadi dari Nahdlatul Ulama, dari Muhammadiyah, dari Persis, dari Al Irsyad, dari Mathaul Anwar, tadi juga dibisiki oleh Kiai Said Aqil Sirad (ketua umum PBNU), masih ada nama-nama perwira PETA yang berasal dari kalangan santri," ucap Presiden Jokowi pada 2015 lalu.



Simak Video "Ma'ruf Amin Wanti-wanti Santri dan NU Tak Boleh Cari-cari Jabatan"
[Gambas:Video 20detik]
(tey/tey)