Dear Perempuan Jabar, Jangan Takut Laporkan Kasus Kekerasan

Dear Perempuan Jabar, Jangan Takut Laporkan Kasus Kekerasan

Rifat Alhamidi - detikJabar
Rabu, 05 Okt 2022 15:26 WIB
Diskusi BenihBaik di Gedung Sate.
Diskusi BenihBaik di Gedung Sate. (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar)
Bandung -

Kasus kekerasan, baik secara fisik maupun seksual perlu mendapat perhatian dari semua kalangan. Sebab, kasus ini bisa saja menjadi fenomena gunung es jika tidak segera mendapat penanganan.

Hal itu disampaikan Bunda Jawa Barat Atalia Praratya usai mengisi diskusi bersama lembaga amal atau crowdfounding BenihBaik di Aula Timur Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu (5/10/2022). Menurutnya banyak kasus kekerasan yang tidak terekspose sehingga sulit untuk dilakukan pendampingan.

"Jadi terkait dengan kekerasan, terutama pada anak, ini memang perlu disikapi bersama dengan cara seluruh stakeholder merapat. Karena kita tidak bisa sendirian, dari komunitas juga sudah berbagi. Termasuk saya juga sekarang sudah masuk ke sekolah dan kampus. Karena kekerasan itu lengkap tidak hanya kekerasan terkait dengan fisik saja, tapi ada seksual dan termasuk juga psikis," katanya.


Atalia juga turut menyorot fenomena masih banyaknya warga di Jawa Barat yang enggan melaporkan kasus kekerasan tersebut. Apalagi, jika pelakunya merupakan orang terdekat seperti contohnya suami di rumah tangga.

Fenomena ini, menurut istri Gubernur Jabar Ridwan Kamil, terjadi karena korban takut jika suaminya yang merupakan pelaku kekerasan bakal dipenjara. Alasan besarnya setelah beberapa kali ia tanyakan, karena mereka yang menjadi korban khawatir tak bisa lagi mendapatkan nafkah keuangan.

"Ada satu hal yang harus saya sampaikan bahwa masih banyak masyarakat yang merasa khawatir untuk melaporkan kejadian atau kasus-kasus kekerasan, baik terhadap perempuan atau anak. Karena mereka khawatir nanti orang yang melakukan itu langsung masuk penjara," ucapnya.

"Saya tanya waktu itu kenapa bunda nggak lapor, sampai akhirnya separah ini dan harus masuk rumah sakit karena sakit. Terus mereka bilang karena nggak mau suaminya masuk penjara. Kalau masuk penjara mereka makan apa," tuturnya.

Atalia pun berkomitmen memberikan pendampingan bagi korban kekerasan hingga ke tingkat terbawah di wilayah RW. Atalia ingin ruang pendampingan untuk korban diberikan supaya mereka juga bisa mendapat perhatian.

"Ini untuk mendekatkan mereka-mereka yang bisa menolong di dalam lingkungannya supaya kita tidak sampai kebobolan lagi terhadap kasus kekerasan perempuan dan anak. Kalau kasus sudah besar, contohnya kasus pelecehan seksual misalkan di lembaga-lembaga. Nah itu kan karena tidak ada yang melapor. Maka semakin cepat pelaporan itu, maka kita bisa melakukan menekan angka-angka kekerasan yang terjadi," ungkapnya.

Ajak Suami Berperan dalam Rumah Tangga

Sementara saat diskusi berlangsung, CEO sekaligus Founder BenihBaik Andi F Noya turut mengajak suami untuk berperan dalam lingkungan rumah tangga. Sebab menurutnya, peran orang tua untuk perkembangan hanya bukan hanya bertumpu terhadap seorang ibu, namun harus ada kontribusi seorang ayah untuk anaknya.

"Karena laki-laki juga harus berperan, jangan menganggap orang tua itu ibu saja. Hasil riset, diperlukan peran ayah. Sering kita melupakan hal itu," kata Andi.

BenihBaik kata Andi, memilih Jawa Barat karena memiliki bonus demografi dengan lebih dari 50 persen total jumlah penduduknya merupakan generasi milenial. Jika hal ini tidak dikelola dengan bijak, para generasi milenial tersebut bisa saja malah terjerumus ke arah narkoba hingga perilaku seks bebas.

"Karena bahayanya setelah pandemi, jangan-jangan jadi beban. Mereka jadi kecanduan narkoba, pendidikan tak tuntas. Nah kita bertanggung jawab agar hal itu tidak terjadi, kita ingin masyarakat ini produktif," katanya.

Sementara artis Donna Agnesia turut mengampanyekan tentang peran penting seorang guru dalam mendidik anak di sekolah. Ia mengharapkan guru bisa memberikan pendidikan yang anak-anak sekarang supaya nantinya setelah dewasa mereka tak terjerumus terhadap pergaulan bebas.

"Poinnya adalah jangan anggap enteng ucapan ke murid, itu adalah energi, kekuatan. Harapannya, ini adalah formula awal, bahwa ada resiko ke depan kalau generasi nggak sesuai harapan. Jadi jangan berhenti sampai di sini saja," pungkasnya.

(ral/orb)