Pemuda Loji Sukabumi Olah Sampah di Pesisir Pantai Jadi Cuan!

Pemuda Loji Sukabumi Olah Sampah di Pesisir Pantai Jadi Cuan!

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Selasa, 04 Okt 2022 07:00 WIB
Aksi Pemuda Loji Sulap Lautan Sampah di Pantai Jadi Bahan Utama Cofiring PLTU
Aksi Pemuda Loji Sulap Lautan Sampah di Pantai Jadi Bahan Utama Cofiring PLTU (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi -

Beraneka jenis sampah berserakan di pesisir Pantai Talanca, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Sampah-sampah itu merupakan kiriman dari dua muara Sungai Cibutun dan Cimandiri.

Setiap hari, laut memuntahkan sampah-sampah tersebut ke pesisir. Hal ini lah yang kemudian membuat sejumlah pemuda desa setempat bergerak, berawal dari rasa prihatin dengan kondisi tumpukan sampah itu. Kemudian mereka bergerak menyulap sampah-sampah itu menjadi pundi rupiah.

Lokasi pantai berdekatan dengan PLTU, sampah kayu itu mereka olah menjadi salah satu solusi untuk Cofiring PLTU Jabar 2 Palabuhanratu. Sekedar penjelasan, Cofiring merupakan proses penambahan biomassa sebagai bahan bakar pengganti parsial atau bahan campuran batu bara di PLTU.


"Kalau aktivitas hari ini kita mengumpulkan sampah kayu-kayu yang ada di pantai lalu kita olah menjadi biomassa, ini hasilnya kita kirimkan ke PLTU Palabuhanratu dan kebetulan pihak mereka yang membantu kami di lapangan selama ini," kata Bayu Nugraha, yang akrab dengan panggilan Kang Sabay, kepada detikJabar, Senin (3/10/2022).

Sabay bukan orang sembarangan, namanya dikenal luas terutama di jalanan. Dulunya ia adalah salah satu ketua geng motor yang kemudian bertransformasi menjadi ormas. Mengajak kawan-kawannya yang dulu di jalanan Sabay kemudian menciptakan mesin yang merubah sampah kayu menjadi Sawdust atau serbuk gergaji.

"Mesin ini dibuat oleh rekan-rekan yang memang sudah biasa ngoprek untuk pembuatan mesin dimodali oleh PLTU, mereka memfasilitasi kami menjadi mitra binaan PT Indonesia Power. Ya Alhamdulillah, sampai hari ini program yang memberdayakan kami ini berjalan, anak-anak tidak lagi turun ke jalan, lebih sibuk mencari cuan," canda Sabay menjelaskan awal mula jalan hijrahnya.

Sebuah bangunan dengan beberapa ruangan berdiri di tengah ladang dekat pesisir pantai, sebuah mesin besar digunakan Sabay dan rekan-rekannya menggiling kayu yang mereka kumpulkan dari pesisir. Setiap hari berkarung-karung kayu mereka pungut, tanpa perlu pengeringan lagi karena sudah secara alami dikeringkan oleh panasnya sengatan matahari pesisir.

"Bahan baku bisa kami bilang tidak terbatas, karena setiap hari lautan mengirim sampah-sampah kayu ini ke pesisir pantai kami ke pesisir sekaligus melakukan aksi bersih-bersih pantai memilih dan memilah sampah yang bisa dimanfaatkan. Kebutuhan PLTU untuk Sawdust ini sampai saat ini adalah 150 ton perharinya," ungkap Sabay.

Tidak hanya ke PLTU, Sawdust buatan Sabay juga sudah dilirik beberapa perusahaan besar yang bergerak di bidang furniture. Bahkan salah satu perusahaan Eropa sudah ancang-ancang untuk menggunakan serbuk kayu olahan Sabay dan kawan-kawan. Sabay kemudian putar otak untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

"Teman-teman sampai saat ini masih ngoprek mesin, yang lebih ramah lingkungan. Mungkin harapan kami ke depan menggunakan tenaga listrik yang memanfaatkan panasnya pesisir misalkan dengan panel surya. Dengan begitu kami bisa membuat mesin pencacah kayu berbahan energi listrik, kapasitas bisa diperbesar dengan kuantitas hasil jauh lebih bagus," papar Sabay.

Aksi Pemuda Loji Sulap Lautan Sampah di Pantai Jadi Bahan Utama Cofiring PLTUAksi Pemuda Loji Sulap Lautan Sampah di Pantai Jadi Bahan Utama Cofiring PLTU Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

"Idealnya ada 4 mesin yang bergerak aktif mengolah sampah kayu di Lantai Loji, karena limpahan sampah yang cukup luar biasa di wilayah kami. Harapannya dengan banyaknya mesin kita bisa maksimal dilapangan, tidak hanya untuk mengais rupiah tapi juga solusi membersihkan pantai Loji secara berkesinambungan," sambungnya.

Pantai Loji selama ini memang menjadi langganan sorotan soal menumpuknya sampah di kawasan tersebut, beberapakali agenda bersih-bersih pantai digelar oleh pemerintah setempat maupun organisasi nirlaba. Namun, seiring berjalannya waktu sampah terus berdatangan tanpa bisa ditahan.

"Kalau bicara tumpukan sampah, setiap hari mereka datang terbawa ombak. Dua muara mengantarkan berbagai jenis sampah ke pesisir, kalau saling menyalahkan itu juga bukan solusi namun kita olah jadikan berkah. Setiap hari kita dikirim limbah kayu dari hulu ke hilir, jadi setiap hari kita masih bisa produksi, artinya bahan baku ini datang sendiri," pungkas Sabay.

Dikonfirmasi terpisah, GM PT indonesia power PLTU Jabar 2 Pelabuhan Ratu Rizqi Priatna membenarkan cerita Sabay, ia mengatakan Sabay dan rekan-rekannya bergerak sebagai mitra binaan PLTU. Bagian dari kepedulian mereka terhadap lingkungan pesisir pantai.

"Mitra Binaan ini awalnya terbentuk karena kepedulian terhadap sampah-sampah yang menumpuk di Pantai Loji, karena kiriman dari dua muara yang ada di sekitar pantai. Mereka juga bekerja sama dengan BUMDES Loji dan para pemuda Loji yang peduli terhadap kebersihan dan keindahan pantai," kata Rizqi saat dikonfirmasi detikJabar.

Aksi Pemuda Loji Sulap Lautan Sampah di Pantai Jadi Bahan Utama Cofiring PLTUAksi Pemuda Loji Sulap Lautan Sampah di Pantai Jadi Bahan Utama Cofiring PLTU Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Menurut Rizqi, kelompok mitra binaan tersebut kemudian dinamakan PERMADANI (Pemuda Mandiri Pengelola Sampah Pantai Loji). Kelompok ini secara rutin mengambil sampah-sampah kayu pantai Loji untuk dikumpulkan dan diolah menjadi biomassa berupa sawdust yang menjadi bahan baku cofiring PLTU Pelabuhan Ratu.

"Sebagai bentuk kepedulian PLTU Palabuhanratu terhadap Pantai Loji itu maka dibangunlah Workshop pengolah kayu pantai, tidak jauh dari pantai Loji, dimana bahan bangunannya sebagian besar berasal dari FABA (Fly Ash dan Bottom Ash) dan diberikan 1 Unit Mesin Penghancur Kayu (Wood Crusher) untuk pengolahan kayu pantainya menjadi Biomassa (Sawdust)," jelasnya.

Pola Kerjasama, PT Indonesia Power PLTU Pelabuhan Ratu menjadikan kelompok pemuda ini sebagai mitra binaan yang kemudian dibantu falisitasnya yaitu berupa sebuah Workshop, sebuah Unit Mesin Penghancur Kayu, Alat Pengaman Diri (APD) berupa pakaian kerja, sarung tangan, googles, masker dan Pelatihan pengolahan sampah kayu pantainya.

"Semua hasil produksi mitra binaan akan dibeli langsung oleh PLTU Pelabuhan Ratu dan digunakan untuk bahan baku Cofiring. Hal ini tentunya akan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat sekitar," pungkasnya.

(sya/yum)