Pasien Gangguan Jiwa di Bandung Capai 37 Ribuan

Data Bandung

Pasien Gangguan Jiwa di Bandung Capai 37 Ribuan

Sudirman Wamad - detikJabar
Selasa, 06 Sep 2022 09:53 WIB
Depressed man
Ilustrasi kesehatan mental (Foto: Getty Images)
Bandung -

Jumlah kunjungan pasien gangguan jiwa di sejumlah fasilitas kesehatan di Kota Bandung mencapai 37.497 orang pada 2021.

Pelayanan kesehatan jiwa bagi masyarakat ini disediakan di sejumlah fasilitas kesehatan, hal ini sesuai dengan undang-undang tentang kesehatan jiwa.

Dikutip dari bandung.go.id, jumlah pasien gangguan jiwa mencapai 37.497 pada 2021. Pelayanan kesehatan jiwa yang paling banyak diakses masyarakat di RSUD Kota Bandung.


Jumlah pasien gangguan jiwa di RSUD Kota Bandung mencapai 5.250 orang. Kemudian, pelayanan kesehatan jiwa di RS Sentosa Bandung juga tercatat paling banyak diakses masyarakat, sepanjang 2021 mencapai 4.082 pasien.

Dari data yang diolah detikJabar ini, sejumlah rumah sakit mengosongkan kolom di tabel jumlah pasien gangguan jiwa, ada juga yang hanya menuliskan nol.

Sebagian masyarakat juga mengakses pelayanan kesehatan jiwa di puskesmas. Memang jumlah pasiennya tak sebanyak rumah sakit. Masin-masing puskesmas di Kota Bandung melayani puluhan hingga tiga ratusan pasien. Salah satunya di Puskesmas Pasirkaliki, pasien gangguan jiwa mencapai 372 orang.

Sementara itu, jumlah pasien gangguan jiwa pada tahun 2021 relatif menurun dibandingkan 2020, awal pandemi COVID-19. Pada 2020, jumlah pasien gangguan jiwa mencapai 43.580 orang. Data ini masih dari sumber yang sama, dan berdasarkan kunjungan pasien di rumah sakit dan puskesmas.

Jumlah pasien yang mengakses layanan kesehatan jiwa pada 2020 lebih banyak dibandingkan 2019, atau sebelum pandemi COVID-19. Pada 2019, pasien gangguan kejiwaan mencapai 41.532.

Sekadar diketahui, layanan kesehatan jiwa ini sangat penting bagi masyarakat. Pemerintah telah menerbitkan Undang-undang Nomor 18/2014 tentang kesehatan jiwa.

Masyarakat yang memiliki masalah kejiwaan mendapatkan hak dan kewajiban untuk mendapatkan layanan kesehatan. Hal itu tertuang dalam Bab V dalam UU tersebut.

Terhalang Stigma

Sementara itu, salah seorang psikiater Kota Bandung Elvine Gunawan mengatakan stigma terhadap isu kesehatan jiwa sejatinya menjadi kendala. Stigma ini kerap menyebabkan pasien terhambat mendapatkan pertolongan kesehatan.

"Terutama kalangan remaja, karena tidak semua orang tua mengetahui dengan pasti soal isu kesehatan jiwa ini," kata Elvine kepada detikJabar, Selasa (6/9/202).

Lebih lanjut, Elvine tak menampik orang tua kerap menyangkal dan melarang anaknya untuk mendapatkan pertolongan kesehatan jiwa. Kondisi ini bisa merugikan.

"Bisa berujung pada perburukan gejala atau anak melakukan perbuatan menyakiti diri sendiri," ucap Elvine.

(sud/yum)