Menakar Koalisi Gerindra-PKB dan Peluang Bubar Prematur

Wisma Putra - detikJabar
Senin, 15 Agu 2022 18:00 WIB
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kedua kanan) bersama Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (kanan) saat deklarasi koalisi antara Partai Gerindra dan PKB dalam Rapimnas Gerindra di SICC, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (13/8/2022). Partai Gerindra dan PKB secara resmi menyatakan berkoalisi untuk pemilu 2024. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/nym.
Deklarasi koalisi Partai Gerindra dan PKB. (Foto: ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA)
Bandung -

Partai Gerindra dan PKB resmi berkoalisi. Namun belum ada nama calon presiden dan calon wakil presiden dalam koalisi ini.

Pengamat Politik Universitas Padjajan Firman Manan mengatakan, Ketum Gerindra Prabowo Subianto dan Ketum PKB Muhaimin Iskandar masih mengukur elektabilitas sehingga belum ada nama capres dan cawapres dari koalisi ini.

"Ini soal mengukur elektabilitas, karena yang menjadi ukuran partai mengusung calon, apalagi untuk capres, yaitu elektabilitas. Saya pikir penentuan capres dan cawapres ditentukan pada saat-saat terakhir," kata Firman via sambungan telepon, Senin (15/8/2022).


Koalisi Gerindra-PKB ini sudah memenuhi presidential threshold atau ambang batas pencalonan presiden dan wakil presiden. Partai Gerindra meraih 78 kursi di DPR RI atau 13,57 persen dan PKB meraih 58 kursi atau 10,09 persen.

Selain melihat elektabilitas, koalisi ini juga melihat perkembangan partai-partai lain. Sebab tidak menutup kemungkinan koalisi ini bisa membesar dan partai lain bisa bergabung.

"Atau sebaliknya, partai ini pecah dan membangun koalisi baru. Jadi misalnya Gerindra bangun koalisi sendiri, PKB membangun kolaisinya sendiri," ujarnya.

Firman menuturkan, Gerindra dan PKB melakukan koalisi sejak awal karena membangun bargaining position atau daya tawar. Sehingga sebagai partai yang awal berkoalisi, keduanya punya posisi tawar tinggi.

"Ini sangat cair dan bisa saja berubah, tergantung manuver partai-partai politik lain dan tingkat elektabilitas siapa yang akan dicalonkan dan seperti apa dinamikanya," tuturnya.

Firman menyebut, jika koalisi ini terus bertahan, Prabowo dan Muhaimin Iskandar harus berkompromi menentukan siapa yang akan jadi capres dan siapa yang akan jadi cawapres.

"Kalau koalisi ini bertahan sampai akhir yang tentukan kedua figur itu. Karena bagaimanapun Cak Imin di PKB dan Prabowo di Gerindra, mereka yang ambil keputusan akhir," jelasnya.

"Tapi ketika ada partai lain bergabung, tentu ada variabel lain, tidak bisa ditentukan oleh Prabowo dan Cak Imin, apalagi partai yang bergabung punya banyak suara. Tapi jika tidak mencapai titik kesepakatan, koalisi ini bisa saja bubar," pungkasnya.

(wip/orb)