Serba-serbi Warga

Skuteris Nyentrik dari Sukabumi, Tebar Pesan Baik dari Vespa Campursari

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Sabtu, 13 Agu 2022 05:30 WIB
Slamet Sumarson si skuteris nyentrik dari Sukabumi
Slamet Sumarsono si skuteris nyentrik dari Sukabumi (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi -

Deru mesin sepeda motor Vespa membelah keramaian di Jalan Siliwangi, pusat Kota Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sesekali pria penunggang vespa kuning itu berteriak menggunakan mic yang tersambung ke pengeras suara yang terpasang di bagian depan vespanya.

Skuteris bernama Slamet Sumarsono itu sudah dikenal baik oleh nyaris semua masyarakat yang biasa beraktivitas di tempat-tempat keramaian karena selain penampilannya yang nyentrik, Slamet juga dikenal karena kerap meneriakkan berbagai imbauan dengan menaiki vespa kesayangannya.

"Ini saya menyebutnya Vespa Campursari, Body tahun 1984 mesin tahun 1994, bentuk saya panjangin dan pakai tangki motor besar. Kalau isi penuh cukup buat sampai ke Cirebon dari Palabuhanratu," kata Slamet mengawali perbincangan dengan detikJabar di Alun-alun Palabuhanratu, Jumat (12/8/2022).


Slamet Sumarson si skuteris nyentrik dari SukabumiSlamet Sumarsono si skuteris nyentrik dari Sukabumi Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Keterlibatan Slamet di komunitas Vespa bukan hanya sekedar nebeng nama. Ia terlibat aktif dalam beberapa event nasional penggila vespa bahkan ikut dalam jajaran koordinator. Sebut saja event Java Scooter Rendezvous (JSR). Beberapa emblem komunitas vespa menempel di jaket jeansnya, salah satunya adalah komunitas Veta atau Vespa Tanah Air.

"Terakhir kan sempat vakum selama 2 tahun karena COVID-19, setelah itu ada kemarin kegiatan di Bali namun saya enggak ikut karena biayanya enggak cukup," tuturnya.

Usianya sudah 59 tahun, namun suaranya masih lantang ketika berteriak mengingatkan warga baik itu soal kebersihan, ketertiban hingga saat masa Pandemi COVID-19 Slamet berperan aktif mensosialisasikan soal protokol kesehatan kepada masyarakat. Setiap ada isu terbaru, tanpa diminta Slamet turun sendirian untuk memberikan imbauan.

"Sebentar lagi penilaian Adipura kebersihan, ketertiban, agar terjaga, mengingatkan masyarakat soal pemasangan umbul-umbul dan bendera menjelang 17 Agustus. Padahal sudah ada dari Pak Bupati Marwan Hamami, 1 Agustus harusnya masyarakat pasang bendera. Tapi ya begitu, masyarakat sekarang susah harus diingetin padahal enggak ikut berjuang disuruh masang bendera susah," ungkap Slamet.

"Saya inisiatif sendiri terbangun dari jiwa saya ya, saya enggak mau lihat kemacetan ketika ada macet saya turun, ketika banyak wisatawan di pantai saya ingatkan soal jangan berenang hati-hati ombak besar karena saya tidak mau lihat hal-hal yang tidak menyenangkan," sambungnya.

Karena aktivitasnya itu, Slamet banyak mendapat kenalan mulai dari tukang sapu jalan, pedagang hingga Bupati Sukabumi Marwan Hamami. Beberapa kali juga Slamet bertemu dengan orang nomor satu di Kabupaten Sukabumi itu hanya untuk sekedar bertukar pikiran dan memberikan masukan harapan dari masyarakat. Menurutnya hal itu jauh lebih santun dibandingkan dengan cara-cara lainnya.

"Prinsip seorang skuteris itu 'Satu Vespa Sejuta Saudara', harus baik dengan siapapun, harus membantu tanpa diminta. Saya sekarang melakukan ini sendiri saja, karena kadang-kadang sungkan kalau ngajak orang selalu bilang punya beteung (perut) ninggalin beteung (perut). Padahal rezeki mah ngikutin. Setiap bergerak wawar ke masyarakat enggak pernah minta duit kordinasi-kordinasi, paling terakhir ke Dinas Pariwisata minta toa kecil, nanti mau dipasang. Begitu saja," bebernya.

Slamet Sumarson si skuteris nyentrik dari SukabumiSlamet Sumarson si skuteris nyentrik dari Sukabumi Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Slamet terbatuk saat mengisap rokoknya dalam-dalam, ia mengerutkan keningnya mengingat-ingat kegiatannya sebagai relawan.

"Kalau disebut satu-satu saya tidak ingat. Hanya beberapa kali ke Merapi saat ada bencana alam sebagai perwakilan relawan Jawa Barat. Ada beberapa kegiatan lainnya termasuk yang di lokalan Sukabumi," pungkasnya.

Beberapa kali Slamet mendapat penghargaan sebagai pelopor berlalu lintas dari Satlantas Polres Sukabumi. Tidak lama setelah berbincang Slamet berpamitan, ia kemudian menyalakan mesin vespanya. Ia menarik sebuah mic kecil agar pas dengan mulutnya, dengan peralatan sederhana itu ia kembali "menunaikan tugasnya".

(sya/yum)