Pengakuan Eks Radikalis dan Isu Tiket Surga Rp 25 Ribu di Garut

Tim detikTravel - detikJabar
Selasa, 09 Agu 2022 09:03 WIB
Garut dan Islam radikal
Garut dan Islam radikal (Foto: Pradita Utama/detikcom)
Garut -

Paham radikalisme menyusup ke wilayah Garut Selatan. Dari kawasan ini pula, muncul ungkapan infak Rp 25 ribu bisa mengantarkan masuk surga.

Warga Desa Mekarwangi, Cibalong, Garut membuat pengakuan kepada detikcom terkait geliat kelompok radikal di Garut. Salah seorang warga yang pernah dibaiat, Agus mengaku kesal karena dipaksa untuk masuk ke kelompok itu secara terus menerus.

"Dia masukin paham tentang pembaiatan. Saya sebenernya masuk dibaiat enggak dengan ikhlas, sebab saya kesal karena diajak terus," ujar Agus seperti dikutip dari detikTravel.


Setelah berada di dalam kelompok itu, Agus merasa ada yang janggal. Pada dasarnya, Agus yang kini dikenal sebagai seorang ustaz telah memiliki dasar pengetahuan agama yang baik.

"Sedang tiga teman sudah masuk dan saya ingin tahu apa tujuannya. Ternyata di dalamnya banyak yang janggal," kata dia.

"Yang dibilang menyimpang, kita berbuat pada siapapun kalau di ajaran ahli sunnah wal jamaah. Kalau di situ, ajaran baiat, menolong apalagi ngasih dibilangnya mubazir kepada yang tidak pernah bersyahadat (tidak dalam kelompoknya)," kata dia.

"Kalau kita nolong orang akan hampa karena belum seperti saya. Itu bagi saya janggal. Kedua, kalau ingin menegakkan hukum Islam di Indonesia. Pernah mendengar orang baiat sudah melebihi jumlah TNI, itu kan makar tujuannya kalau sudah dibandingkan," kata dia.

Agus mengaku ikut pembaiatan pada 11 tahun yang lalu. Begitu tahu ada yang janggal Ia lalu mundur pelan-pelan dan menjadi anggota yang non aktif.

Salah satu hal yang mencolok adalah tentang pengajian yang digelar secara sembunyi-sembunyi. Ia mengaku kelompok ini melakukan kegiatan doktrinisasi di tempat yang tertutup.

"Sampai di dalam itu dijaga dari luar. Ada yang jaga di luar. Waktu saya keluar itu sampai perang SMS, pada zaman dulu," kata dia.

Agus kini bisa lega karena sudah kembali ke NKRI yang diperantarai KUA. Ia mengaku sudah tidak mengakui kelompok itu sejak dari dulu dan setelah diajak deklarasi ia merasa senang.

"Sekarang ada yang senang karena sudah deklarasi karena tidak dikaitkan lagi. Karena rasa malu. Sebenarnya ikut itu malu tapi ingin tahu apa maksud dan tujuannya," kata dia.

Wajib Infak Rp 25 Ribu

Sementara itu Dayat Sudayat, warga Mekarwangi lainnya mengatakan kelompok yang pernah membaiatnya, kerap mendoktrin infak Rp 25 ribu.

"Nggak saya mah. Nggak sama sekali. Yang lain ada. Karena ada kejadian kayak gitu saya dibimbing lah sama ulama-ulama di sini agar lebih bagus agar jangan ke sana lagi karena bertentangan dengan hukum NKRI," kata dia.

"Penyimpangannya itu menurut saya kenapa berinfak Rp 25.000 harus ke situ. Nah itu, ngerti. Kenapa iuran harus segitu dan bisa masuk surga, cuma iuran segitu. Bertentangan hati nurani," dia menambahkan.

"Karena menurut hati nurani saya kan harus beribadah dan berbuat baik baru bisa masuk surga. Apalagi begitu. Ada juga yang mengajarkan tidak usah salat karena sudah baik sama kelompok itu," kata dia lagi.

Selanjutnya Menyusup ke 41 dari 42 Kecamatan di Garut