2 Bulan PMK di KBB: 500 Ekor Ternak Mati-Kerugian Capai Rp 17 M

Whisnu Pradana - detikJabar
Selasa, 02 Agu 2022 23:30 WIB
Ilustrasi sapi di kandang kelompok peternak sapi Kapanewon Srandakan, Bantul.
Ilustrasi Hewan Ternak (Foto: Pradito Rida Pertana/detikJateng)
Bandung Barat -

Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sudah dua bulan ini menyerang hewan ternak jenis sapi dan domba yang ada di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Akibatnya ratusan ekor mati hingga rugi miliaran.

Selama itu, Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Bandung Barat mencatat total hewan ternak yang terpapar PMK mencapai 13.801 ekor dengan 500 ekor di antaranya mati.

"Kebanyakan yang terpapar itu sapi perah. Kalau domba hanya 27 ekor, lalu sapi potong 896 ekor. Lalu sapi yang mati sebanyak 500 ekor, kemudian yang dipotong bersyarat ada 694 ekor," ujar Kepala Bidang Kesehatan Hewan pada Dispernakan KBB, Wiwin Aprianti saat dihubungi, Selasa (2/8/2022).


Akibat wabah PMK yang menyerang menjelang Idul Adha itu, peternak sapi di Bandung Barat mengalami kerugian yang cukup fantastis. Dari catatan Dispernakan, kerugian akibat PMK diperkirakan mencapai Rp 17 miliar.

"Kalau ditotal dua bulan ini kerugian sekitar Rp 17 miliar. Selain sapi yang mati, hitungan itu juga dari kerugian hasil produksi susu, biaya pengobatan dan lain-lain," ucap Wiwin.

Sejak awal kasus PMK terendus di Bandung Barat, wilayah penyebaran kasus PMK dominan terjadi di Lembang, Cisarua, serta Parongpong. Namun sepekan belakangan kasusnya mulai melandai.

"Seminggu ini sudah tidak ada penambahan kasus (PMK) yang baru. Jadi tinggal pemulihan hewan yang sebelumnya terpapar," kata Wiwin.

Vaksinasi menjadi salah satu jalan menekan penyebaran wabah PMK. Hingga 1 Agustus tercatat sebanyak 12.885 ekor hewan ternak telah mendapatkan dua kali penyuntikan vaksin.

"Kita masih terus jalankan vaksinasi untuk hewan ternak. Untuk stok vaksin sendiri masih tersisa sebanyak 21.800 dosis. Masih cukup aman untuk vaksinasi beberapa hari kedepan," ujar Wiwin.



Simak Video "Wabah PMK Masih Ada, 24 Provinsi Dilaporkan Terdampak Kasusnya"
[Gambas:Video 20detik]
(dir/dir)