Massa Guru Honorer Minta Kepastian Lagi di Gedung Sate

Sudirman Wamad - detikJabar
Senin, 01 Agu 2022 12:58 WIB
Demo guru honorer di depan Gedung Sate.
Demo guru honorer di depan Gedung Sate. (Foto: Sudirman Wamad/detikJabar)
Bandung -

Perwakilan guru honorer di Jawa Barat kembali berunjuk rasa di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (18/2022). Mereka mayoritas mengenakan pakaian hitam-hitam saat berunjuk rasa.

Beberapa perwakilan guru honorer yang mengajar di SMA, SMK, dan SLB di Jabar itu beraudiensi dengan Sekda Provinsi Jabar Setiawan Wangsaatmaja. Tuntutan mereka masih sama seperti aksi sebelumnya beberapa waktu lalu.

Mereka meminta sekitar 3.000 lebih guru honorer yang telah lulus passing grade belum diangkat menjadi P3K agar segera diangkat dan menghadapkan jam mengajar yang pasti.


Setiawan mengatakan, permasalahan yang terjadi terhadap ribuan guru honorer itu adalah adanya penumpukan dalam mata pelajaran prakarya.

"Jadi memang banyak yang background-nya sepertinya bukan dari itu (prakarya), lalu terpaksa mengajar mata pelajaran tersebut," kata Setiawan usai beraudiensi di Gedung Sate, Senin (1/8/2022).

Setiawan meminta agar data kependidikan kembali dicek ulang. Sebab, Setiawan mengatakan guru mata pelajaran prakarya mencapai 1.600 orang.

Demo guru honorer di depan Gedung Sate.Demo guru honorer di depan Gedung Sate. Foto: Sudirman Wamad/detikJabar

"Silakan cek kembali, apakah memang sesuai dengan background atau tidak. Contoh, ada yang background-nya Biologi, tetapi karena ada lowongan prakarya, akhirnya pindah ke prakarya," jelas Setiawan.

Setiawan memastikan bakal memetakan terlebih dahulu 3.600 lebih honorer yang masih terkatung-katung nasibnya itu. Seperti kebutuhan mata pelajaran, waktu mengajar dan lainnya. Penempatan formasi guru harus seusai dengan kebutuhan, termasuk latar belakang keilmuannya. Hal itu sesuai dengan SE Menpan RB.

"Tergantung dari pemetaannya. Kalau tahun ini rasanya anggarannya juga belum bisa ke sana, karena sekali lagi kita tergantung pemerintah pusat. Ini yang akan kita bicarakan. Setelah pemetaan selesai," kata Setiawan.

Setiawan mengatakan penempatan P3K itu sangat bergantung dengan anggaran yang ada, termasuk dari dana alokasi umum (DAU). Sehingga, lanjut dia, harus ada keterlibatan pemerintah pusat.

Kenakan Setelan Hitam-hitam

Sekadar diketahui, unjuk rasa hari ini di depan Gedung Sate merupakan kali kedua bagi para honorer yang lulus passing grade P3K. Pekan lalu, perwakilan honorer itu mayoritas mengenakan setelan hitam-putih. Kali ini, mereka mengenakan setelan hitam-hitam.

Tak ada spanduk. Hanya orasi yang dilakukan di Gedung Sate. Mereka menuntut kejelasan soal formasi guru P3K di Jabar. Para guru ini tergabung dalam Forum Guru Lulus Passing Grade (GLPG) P3K.

Ketua GLPG P3K Jabar Endri Lesmana menyebutkan jumlah guru yang telah lulus passing grade di Jabar mencapai 10.397 orang. Namun, sebanyak 6.425 yang mendapatkan kepastian penempatan. Selebihnya, nasib guru yang lulus passing grade itu tak pasti.

"Ada 6.425 yang terserap sesuai dengan kebutuhan mata pelajaran sekolah. Selebihnya, atau sebanyak 3.972 belum ada penempatan. Ini harus dituntaskan, harapan kami itu," ucap Endri.

Lebih lanjut, Endri menjelaskan Pemprov Jabar saat ini belum memberikan kepastian data tentang penempatan guru yang telah lulus P3K itu. Kondisi demikian, lanjut dia, ribuan guru yang nasibnya tak jelas, ada yang dikeluarkan sekolah, jam mengajar berkurang, dan lainnya.

"Mereka itu bukan guru honorer baru, terdaftar di Dapodik dan lulus passing grade," kata Endri.

(sud/ors)