Nostalgia dari Selatan Bandung, Berburu Keong di Minggu Pagi

Lorong Waktu

Nostalgia dari Selatan Bandung, Berburu Keong di Minggu Pagi

Wisma Putra - detikJabar
Rabu, 27 Jul 2022 23:20 WIB
Berburu keong sawah di Paseh
Berburu keong sawah di Paseh (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Minggu pagi, tanggal 25 Januari Tahun 2015, bocah-bocah di Kampung Sukasari, Desa Mekarpawitan, Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung asyik bermain di pematang sawah.

Karena lahan persawahan di kampung kami ini masih cukup luas, anak-anak leluasa bermain. Ada yang menangkap belalang, belut, hingga burung pipit.

Namun bagi saya yang ketika itu masih jadi mahasiswa semester 6 di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, momen yang terlupakan adalah mencari keong sawah. Ya keong-keong ini ditangkap untuk dimasak jadi santapan yang lezat.


Hewan yang punya nama ilmiah Pilla ampullacea ini dicari di genangan air sawah yang jernih, kadang juga bisa ditemukan menempel di batang padi.

Sedikit informasi, ada dua jenis keong yang bisa ditemukan di tempat kami, yakni keong sungai dan keong sawah.

Cangkang keong sungai berwarna kuning dan dagingnya tidak seenak keong sawah. Ditambah lagi dengan risiko polusi di sungai, banyak orang menilai keong sungai tidak sehat. Orang-orang di kampung kami cenderung memilih keong sawah untuk diolah menjadi makanan.

Mencari hewan serupa siput air ini tentu bukan pekerjaan yang mudah, sebab untuk mendapatkan seember penuh keong atau sekarung beras ukuran lima kilogram perlu waktu dua sampai tiga jam. Tak jarang, anak-anak di kampung ikut berpencar agar waktu pencarian lebih cepat.

Memang menangkap keong ini harus dilakukan sepagi mungkin, karena proses memasaknya yang tak sebentar.

Dengan cekatan, bocah-bocah itu memungut satu demi satu keong yang menempel di tangkai padi yang berwarna hijau. Mereka sudah hapal tiap lekuk dan habitat dari keong-keong yang ukurannya lebih besar dari buku jari itu.

Tak terasa, jarum jam menunjukkan pukul 11 siang. Pantas matahari di selatan Bandung begitu panas, saatnya pulang dengan keong seember penuh.

Sebelum dimasak, keong direndam di air bersih selama dua hingga tiga jam. Perlahan kotoran dari keong itu mulai keluar. Air rendaman kemudian dipisahkan begitu selepas Ashar.

Keong-keong itu kemudian diterjunkan ke dalam panci berisi air mendidih. Cangkang keong yang tadinya berwana gelap menjadi memerah, artinya daging keong lebih mudah lepas dari cangkangnya.

Berburu keong sawah di PasehKeong sawah dibersihkan Foto: Wisma Putra/detikJabar

Sama seperti proses pencarian, proses mengeluarkan daging keong ini dilakukan bersama-sama. Eits, daging ini masih belum bisa dimakan. Setelah dibersihkan seksama, keong itu kembali dimasak di dalam panci berisi air mendidih, tahapan ini juga cukup memakan waktu lama. Sebab, keong baru bisa dibumbui selepas salat Isya.

Isya telah lewat, anak-anak di kampung yang telah pulang dari surau kembali berkumpul. Saatnya membumbui dan membuat sate keong.

Daging keong memiliki ciri khas berbau amis, proses memasaknya pun harus menggunakan banyak rempah, seperti kunyit, salam, serai, bawang putih, bawang merah, laja dan kalau suka pedas ditambah cabai rawit dan cabai merah tanjung.

Begitupun daging yang akan dijadikan sate, harus dibumbui dahulu. Selain dapat menghilangkan amis, bumbu disini digunakan agar balado dan sate keong ini semakin lezat.

Proses memasak balado keong lebih cepat dibandingkan proses nyate keong, karena daging yang dibakar di atas bara api harus benar-benar matang. Sambil menunggu sate matang, mereka juga sudah menyiapkan nasi liwet yang dimasak di dalam panci.

Berburu keong sawah di PasehSate keong dan keong balado Foto: Wisma Putra/detikJabar

Balado keong dan sate keong pun siap disantap, ditambah nasi liwet lebih lezat. Disantapnya di atas daun pisang secara bersama-sama. Karena proses memasaknya yang sampai malam, tak jarang hidangan ini juga sering disantap bersama petugas ronda di kampung kami.

Itulah sepenggal momen yang dialami Wisma Putra bersama bocah-bocah di Kampung Sukasari, Desa Mekarpawitan, Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung. Bila detikers pernah merasakan pengalaman yang sama, boleh ikut membagikan kenanganannya di kolom komentar di bawah ini.



Simak Video "Meluncur dengan Flying Fox Melintasi Persawahan, Bogor"
[Gambas:Video 20detik]
(yum/yum)