Membuka Tabir Pernikahan Dini hingga Nikah Siri di Pangandaran

Aldi Nur Fadillah - detikJabar
Kamis, 30 Jun 2022 06:00 WIB
Ilustrasi Pernikahan
Ilustrasi pernikahan. (Foto: Shutterstock)
Pangandaran -

Kementerian Agama Kabupaten Pangandaran mencatat ada 227 pasangan menikah di bawah 19 tahun di Pangandaran pada 2022. Mayoritas dari mereka bahkan harus putus sekolah.

Kasi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Pangandaran Ujang Sutaryat mengatakan, pernikahan yang diperbolehkan Kantor Urusan Agama (KUA) menurut UU Nomor 16 Tahun 2019 sebagai pengganti UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan hanya memperbolehkan pasangan menikah saat sudah berumur 19 tahun, baik itu untuk perempuan ataupun laki-laki.

Namun, pernikahan dini tetap terjadi. Salah satu yang jadi penyebabnya adalah karena perempuan hamil di luar nikah. Ujungnya, perempuan itu dan pasangannya dinikahkan.


"Dari ratusan pasangan yang menikah di bawah umur 19 tahun udah nggak sekolah. Bahkan terpaksa putus sekolah karena hamil duluan," ucap Ujang.

Selain itu, ada alasan lain yang melatarbelakangi pernikahan dibawah umur. Salah satunya karena desakan faktor ekonomi.

Sementara saat ini, KUA hanya melayani pasangan di bawah umur yang akan menikah jika ada dispensasi dari Pengadilan Agama. Namun dari banyaknya permintaan nikah di bawah umur, tidak semua dispensasinya diterima.

"Akibatnya banyak pasangan di Pangandaran yang melangsungkan nikah siri atau menikah secara agama. Meskipun sah secara agama, tapi nama pasangan tersebut tidak terdaftar di KUA. Di Pencatatan Sipil pun namanya akan terpisah sesuai KK masing-masing," kata Ujang.

Sebab, sambung Ujang, wanita hamil boleh dinikahkan jika pasangannya adalah pria yang menghamilinya. Akan tetapi ada konsekuensi bagi anak yang dilahirkan kelak.

"Namun dalam keterangan catatan sipil (anaknya) akan tertulis hanya lahir dari seorang ibu saja apabila hamil di luar nikah," ucapnya.