Kisah Mantan DJ yang Kini Jadi Pelukis di Jalan Braga Bandung

Wisma Putra - detikJabar
Rabu, 22 Jun 2022 07:28 WIB
Damiang, pelukis di Jalan Braga, Bandung.
Damiang, pelukis di Jalan Braga, Bandung (Foto: Wisma Putra/detikJabar).
Bandung -

Dulu, tangan Dede Amiang (60) terbiasa memegang turntable untuk memainkan musik yang distel di dalam diskotek. Selain itu, ia juga terbiasa meracik minuman yang memabukan.

Kini di usia senjanya, pria yang karib disapa Damiang itu tak memegang turntable dan botol lagi. Dia kini memainkan kuas di atas kanvas dan mencampurkan cat untuk membuat sebuah lukisan indah.

Ditemui detikJabar, di Jalan Braga, Kota Bandung, Damiang nampak sibuk membuat lukisan burung yang dilihatnya dari gambar yang ada di ponselnya.


Sebelum melukis, Damiang membuat sketsa terlebih dahulu dengan menggunakan pensil. Yakin dengan bentuk burung yang akan dibuat, Damiang langsung memulaskan cat ke lukisan yang dibuatnya.

"Lagi bikin lukisan burung, temanya bebas aja," kata Damiang kepada detikJabar.

Pria yang lahir di wilayah Braga, besar hingga mencari nafkah dan memiliki matapenceharian sebagai pelukis di kawasan Braga menyebut, ia baru 10 tahun menjadi pelukis. Damiang mengisahkan, ia pensiun di dunia hiburan malam karena sudah tua, sudah memiliki tiga anak dan sudah memiliki cucu.

"Dulu kerja jadi DJ (disjoki), bartender dan manajer di diskotek yang ada di Braga. Berhenti tahun 2000-an, terus berniaga jual kuliner, sempat kerja di tempat foto juga, bisa motret dan mencuci roll film," ungkapnya.

Karena tidak cocok, Damiang ikut jualan lukisan bersama tetangganya yang masih warga Braga. Lama berjalan, Damiang pun belajar melukis dan menekuninya hingga kini.

"Dulu ikut jualan aja, jualan di Gallery Braga 41 dulunya, baru belajar melukis. Bisa melukis ketika umur sudah tua," ujarnya.

Beragam jenis lukisan dapat dibuat olehnya, dari mulai lukisan naturalis, suryalis, realis, abstrak, apresif dan lainnya. Dari kerja kerasnya, Damiang pun dapat menjual lukisan yang dilukisnya.

Saat disinggung soal harga, lukisan yang dibuatnya dijual, dari Rp 200 ribu sampai tidak terhingga. "Tapi kalau jualan di jalan gini paling mahal Rp 2 juta, lukisan itu harganya tidak terhingga, ketika ada konsumen yang mau, berapapun dibeli," jelasnya.

Damiang menuturkan, seiring pelonggaran aturan PPKM. Lukisan yang dijualnya kembali ramai dibeli. Menurutnya pada awal-awal pandemi merupakan ujian berat baginya karena sulit menjual lukisan.

Tak hanya itu, Damiang juga pernah dibantu oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menjual lukisan yang dibuatnya dalam bentuk NFT. Lukisan itu laku dengan harga empat juta lebih.

"Iya dibantu Kang Emil. Beliau sering kesini, sudah sejak menjadi wali kota juga, saya sudah kenal dengan beliau," ujarnya.

(wip/mso)