Blusukan ke Desa di Karawang, Dedi Mulyadi Bagikan Paket Ikan-Modal Usaha

Hanifa Widyas - detikJabar
Jumat, 17 Jun 2022 17:03 WIB
Dedi Mulyadi
Foto: Istimewa
Jakarta -

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi kembali membagikan ratusan paket berisi ikan hidup. Pembagian ikan tersebut dilakukan di Desa Pucung, Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Karawang.

Paket tersebut dibagikan langsung ke rumah-rumah warga dengan menggunakan motor oleh Dedi. Hal tersebut dilakukan sekaligus untuk mengecek kebutuhan dapur warga.

"Kita bagikan ikan agar warga tercukupi kebutuhan proteinnya," ujar Dedi dalam keterangan tertulis, Jumat (17/6/2022).


Rumah pertama yang dikunjungi oleh Dedi adalah rumah seorang ibu yang suaminya bekerja sebagai buruh serabutan. Ia mendapati sang ibu sedang berada di dapur memasak nasi sekaligus telur rebus di dalam dandang.

Ibu itu menceritakan ia bekerja sebagai buruh cuci dengan upah Rp150 ribu seminggu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara itu, suaminya bekerja serabutan dan terkadang tidak membawa uang ke rumah. Melihat sang ibu bekerja begitu rajin, Dedi memberikan paket ikan beserta uang untuk tambahan membeli kebutuhan dapur.

"Kelihatan ibu rajin orangnya, rumahnya juga rapi," ujar Dedi.

Perjalanan Dedi berlanjut ke rumah seorang bapak yang menghidupi keluarganya dengan berjualan ikan hias. Dalam satu hari, keluarga tersebut mendapat uang Rp50 ribu paling banyak dari hasil berjualan.

"Ini ikan hias dijual Rp3 ribu satu plastik. Kalau kejual semua paling dapat Rp50 ribu, kalau lagi sepi paling Rp20 ribu sehari," kata bapak tersebut.

Adapun keluarga ini juga diberi sejumlah uang untuk tambahan modal usaha dan paket ikan hidup untuk dimasak.

Pembagian paket terus dilakukan oleh Dedi hingga ke pelosok kampung yang tak terjangkau oleh motor. Namun, saat memanggul ikan, seorang ibu berkerudung merah menghampiri Dedi dan langsung memeluk serta menangis. Dedi lantas diajak mengunjungi dapur milik ibu tersebut.

Ibu tersebut tinggal bersama suami dan seorang anak. Ia dan sang suami membuat kerajinan tangan berupa gantungan kunci.

"Ini (gantungan) dijual Rp7 ribu sekodi. Kemarin-kemarin baru dapat Rp87 ribu karena gak setiap hari bisa ngejual, bisa tiga hari sekali atau seminggu," kata ibu berkerudung merah itu.

Ibu itu terisak saat ditanya mengenai masakan apa yang ia buat hari ini. Hal tersebut disebabkan karena uangnya sudah habis dan tidak memiliki beras. Kang Dedi kemudian melakukan pengecekan ke dapur dan tidak mendapati apa-apa di dapur tersebut.

"Gak punya uang sama sekali? Yang bener nih. Jadi sore ini gak bisa masak?," tanya Dedi.

"Iya, Pak, gak ada. Belum ada uang untuk beli beras. Uang yang kemarin sudah habis untuk masak sampai pagi tadi," jawab ibu tersebut.

Dedi pun memberikan sejumlah uang untuk membeli beras, bahan pokok lainnya, serta untuk tambahan modal pada sang ibu.

"Pesan saya, anaknya jangan jajan dulu supaya uang bisa muter. Jajan gak ada arti kalau gak punya beras," ucap Kang Dedi.

Rumah terakhir yang dikunjungi oleh Kang Dedi adalah rumah yang dihuni oleh seorang nenek dan dua anak kecil. Diketahui anak tersebut merupakan anak yatim yang diurus oleh neneknya. Sementara ibu dari anak-anak tersebut bekerja sebagai ART di tempat lain.

Sang nenek berjualan keripik bawang dengan penghasilan sekitar Rp30 ribu per hari untuk menghidupi kedua cucunya yang yatim itu. Selain mendapat paket ikan, nenek itu juga diberikan uang untuk ditabung.

"Nanti untuk Rp30 ribunya disimpan, pakai uang ini dulu untuk beli bahan pokok sama beras," kata Dedi.

"Nenek ini orang hebat, masih bisa ngurus anak yatim dua dengan jualan keripik bawang. Ini contoh untuk anak-anak muda," lanjut Kang Dedi.

Dibantu oleh para pemuda dan Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Bandung, pembagian paket itu terus dilakukan. Total ada lebih dari 500 paket ikan hidup yang dibagikan dalam kegiatan tersebut.

(akn/ega)