Cerita Ribka Tjiptaning, Pengamen yang Jadi Anggota DPR RI

Siti Fatimah - detikJabar
Jumat, 22 Apr 2022 09:30 WIB
Ribka Tjiptaning.
Ribka Tjiptaning. (Foto: Siti Fatimah/detikJabar)
Sukabumi -

Ribka Tjiptaning yang akrab disapa Ning sudah tidak asing di jajaran kursi DPR. Dia lantang menyampaikan argumennya di depan para anggota dewan dan menteri sesuai dengan pemikiran dan keyakinannya.

Jauh sebelum bisa duduk di kursi parlemen dengan dapil Jawa Barat IV Kota dan Kabupaten Sukabumi, perjalanan hidup Ribka Tjiptaning penuh lika-liku. Dia lahir di Yogyakarta 1 Juli 1959 dari keluarga mapan.

Nama Ribka dikenal ketika dia menulis buku autobiografi berjudul 'Aku Bangga Jadi Anak PKI'. Buku itu berisi pengalaman Ribka sebagai anak seorang anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dilarang pasca tragedi 30 September 1965.


Kepada detikJabar, Ribka yang saat ini sebagai anggota DPR Komisi VII menceritakan kisah singkatnya yang bermula dari seorang aktivis dan organisatoris.

"Walaupun dokter tidak memikirkan kalau aku berpikir sendiri, 'ah udah lah dokter praktek nyaman dapet duit menghidupi keluarga'. Tapi ketika zaman orde baru aku melihat bahwa ada ketidakadilan, ada hak-hak rakyat yang dikekang," kata Ribka belum lama ini.

Titik terendah Ribka alami saat usianya menginjak 7 tahun hingga masa Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia bahkan mengaku pernah menjadi pengamen, kondektur bus dan lain-lain.

"Sangat pernah merasakan di titik terendah. Terus terang aja bapaku zaman orba dianiaya, pernah hidup jadi pengamen, pernah juga jadi kondektur bus, pernah makan tikus di kandang sapi. Semendetitanya orang belum kaya aku lah ya, dikucilkan karena latar belakang politik waktu itu," ungkapnya.

"Ikut orang lah jadi tukang ngepel di Mampang, Jakarta Selatan. Makanya aku seringkali kasih spirit untuk anak-anak SMP ketika ada acara GenRe, kalian enggak boleh putus asa, enggak boleh bilang ibuku hanya tukang cuci, tidak boleh membatasi kuasa Tuhan. Saya sekarang DPR, tapi dulu bukan siapa-siapa, artinya harus kerja keras yang mengubah nasib kita itu diri kita sendiri," sambungnya.

Dia mengutarakan, orang yang menginspirasi hingga hidupnya saat ini tak lain adalah ibundanya, Bandoro Raden Ayu Lastri Suyati. "Ibuku sendiri, yang ngasih spirit. Ibuku bilang kamu tidak boleh menyerah, kamu yakin bahwa apapun yang kau buat berdasarkan do'a dan dekat rakyat," katanya.

Perjalanan Organisasi dan Politik

Ribka pernah membuka praktik sebagai dokter di Ciledug, Tangerang. Dia juga sempat menjadi dokter di perusahaan Puan Maharani sebelum akhirnya terjun ke politik dan bergabung dengan PDIP. Setidaknya ia memiliki pengalaman di 11 organisasi.

"Waktu itu muncul sosok Megawati yang menjadi lambang perlawanan rakyat ingin mengembalikan kedaulatan di tangan rakyat, bukan di tangan penguasa. Makanya kenapa milih masuk di PDIP, saya bergabung di situ karena saya pernah menjadi pengurus pemuda Marhaenis," katanya.

Lalu ia masuk ke dalam struktural partai dari ranting, lalu DPD Jabar, DPD Banten dan DPP Partai. Jenjang politik yang ia lalui dari bawah sampai ke atas.

"Jadi jenjang di politik pun juga dari bawah sampai atas semua aku pernah ngerasain. Jadi masih banyak hal-hal yang harus diperjuangkan baik di parlemen maupun di ekstra parlementer," imbuhnya.

"Singkatnya aku dicalonkan sama PDI waktu itu di DPR dari Sukabumi, berkat kerja keras. Karena latar belakang dokter jadi pengobatan gratis ke mana-mana. Dulu sama Cianjur kan 85 kecamatan, alhamdulillah bisa menang sampai sekarang empat periode disini," pungkasnya.



Simak Video "Ini Tampang Pembunuh Driver Ojek di Sukabumi"
[Gambas:Video 20detik]
(ors/bbn)