Mau Liburan ke Lembang? Waspada Potensi Cuaca Ekstrem!

Whisnu Pradana - detikJabar
Jumat, 18 Mar 2022 19:56 WIB
Wisata hutan pinus di Lembang.
Wisata hutan pinus di Lembang. (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar)
Bandung Barat -

Wisatawan yang hendak menikmati masa berlibur di berbagai objek wisata di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, diingatkan untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem.

Di kawasan Lembang sendiri tersebar banyak objek wisata bertema alam yang berada di bawah Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Utara, misalnya Curug Layung, Pal 16, Gunung Putri, dan masih banyak lagi.

"Kita minta wisatawan yang akan berlibur ke Lembang itu waspada dan ikut memantau perkembangan cuaca juga, karena saat ini masih ada di puncak cuaca ekstrem," ungkap Asisten Perhutani KPH Bandung Utara Susanto saat dihubungi detikJabar, Jumat (18/3/2022).


Ia mengatakan objek wisata bertema alam di Lembang menyimpan potensi bahaya seperti pohon tumbang. Namun pengelola sudah melakukan persiapan matang jika cuaca ekstrem terjadi maka wisatawan bakal langsung dievakuasi.

"Teman-teman (pengelola) sudah belajar membaca situasi cuaca terutama di wilayah Cikole, Lembang. Kalau saat hujan turun dengan angin kencang dan berpotensi ada bencana pasti ditutup dan wisatawan bakal diarahkan ke tempat lebih aman," kata Susanto.

Ia menyebut sejak peralihan cuaca di pertengahan 2021 hingga saat ini telah memberlakukan skema buka tutup objek wisata bernuansa alam terbuka di tengah cuaca ekstrem dan potensi bencana hidrometeorologi. Berdasarkan catatan Perhutani KPH Bandung Utara ada 11 objek wisata bertema alam yang berada di bawah naungan Perhutani. Tersebar mulai dari kawasan Parongpong, Cisarua, hingga Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

"Tidak ditutup total selama cuaca ekstrem, tapi fleksibel. Jadi mekanisme buka tutupnya itu situasional. Ada SOP yang diterapkan pengelola yang merupakan mitra Perhutani atau swakelola," ujar Susanto.

Selama beberapa pekan terakhir cukup banyak kejadian pohon tumbang di area wisata Perhutani akibat cuaca ekstrem yang terjadi. Beruntung tidak ada korban akibat kejadian pohon tumbang tersebut.

"Ada (pohon tumbang), tapi tumbang itu karena pohon sudah keropos karena tanaman tua rata-rata dari tahun 1962. Jadi kita juga ada program revitalisasi hutan lindung di sela-sela pohon tua itu ada pohon pengganti baru," tutur Susanto.

(bbn/bbn)