Utsman bin Affan tidak mengikuti Perang Badar karena merawat sang istri yang sakit. Sebagaimana diketahui, pertempuran itu jadi salah satu perang besar dalam sejarah Islam.
Dilansir dari kitab As Sirah An Nabawiyah karya Abul Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi yang diterjemahkan oleh Muhammad Halabi Hamdi dkk, Perang Badar terjadi karena perseteruan umat Islam dengan kaum Quraisy yang musyrik. Mereka terus memerangi para muslim, menyulitkan kehidupan dan menghalangi jalan Allah SWT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat Perang Badar berlangsung, jumlah pasukan umat Islam dan kafir Quraisy tidak seimbang. Tentara muslim hanya berjumlah 313 orang sedangkan pasukan kafir Quraisy mencapai 1.000 orang lebih.
Turut dikisahkan dalam Ar Rahiq al-Makhtum Sirah Nabawiyah susunan Shafiyurrahman al Mubarakfuri terjemahan Faris Khairul Anam, meletusnya Perang Badar berlangsung ketika pasukan Madinah menghadang kafilah dagang Quraisy yang pulang dari Syam menuju Makkah.
Kala itu, kafilah dagang Quraisy membawa harta kekayaan penduduk Makkah yang melimpah. Setidaknya terdapat 1.000 unta membawa harta benda yang nilainya tak kurang dari 5.000 dinar emas, hal ini jadi kesempatan pasukan Madinah melancarkan pukulan telak bagi kafir Quraisy.
Adapun terkait Utsman bin Affan, selain sebagai sahabat Nabi SAW beliau juga menantu sang rasul. Ia menikahi Ruqayyah, putri kedua Nabi Muhammad SAW bersama Khadijah binti Khuwailid.
Menurut buku Membaca Ayat-ayat Parenting dengan Kacamata Keadilan Gender susunan Aini Qurotul Ain, Utsman bin Affan tidak ikut dalam Perang Badar karena merawat Ruqayyah. Rasulullah SAW dengan tegas menyatakkan kepada Utsman RA bahwa pahala merawat istrinya sama persis dengan ikut berperang dalam pertempuran Badar.
"Rasulullah SAW berkata kepada Utsman: 'Kamu memperoleh pahala yang sama seperti orang yang ikut Perang Badar, bahkan juga (berhak memperoleh) bagian (dari rampasan perang)." (HR Bukhari)
Ini menunjukkan Islam menghargai serta memberi penghargaan yang sama terhadap peran suami dan istri dalam menjalankan tugas dalam rumah tangga. Seluruh tindakan itu, baik oleh suami maupun istri jadi bagian dari ibadah serta jihad.
Semakin lama, penyakit Ruqayyah bertambah parah. Dia terus berjuang melawannya. Sementara itu Utsman dengan sabar dan seia tetap berada di sisinya melayani hingga putri Rasulullah ini menghembuskan napas terakhir dalam keadaan ridha dan diridhai.
Menurut Az Zuhri, Ruqayyah meninggal dunia akibat dari penyakit campak. Ketika Ruqayyah dimakamkan Zaid membawa berita gembira tentang kemenangan dalam perang Badar. Saat itu Utsman masih berada di makam istrinya dan belum beranjak.
Ruqayah meninggal dunia pada bulan Ramadan tahun kedua Hijriyah. Saat meninggal dunia, ayahnya Rasulullah tidak ada disisinya. Maka ketika kembali dari kemenangan Perang Badar dia dan saudaranya Fatimah mengunjungi makamnya.
Wallahu a'lam.
(aeb/lus)
