Siapa Ahli Ibadah yang Bangkrut di Akhirat?

Siapa Ahli Ibadah yang Bangkrut di Akhirat?

Tia Kamilla - detikHikmah
Jumat, 13 Feb 2026 06:30 WIB
Shot of a stairway leading up to heavenhttp://195.154.178.81/DATA/i_collage/pi/shoots/783568.jpg
Ilustrasi akhirat. Foto: Getty Images/Yuri_Arcurs
Jakarta -

Semua umat Islam pasti ingin masuk surga dan meraih banyak pahala untuk bekal di akhirat nanti. Berbagai ibadah seperti salat, puasa, zakat, dan sedekah dilakukan demi mendapatkan ridha Allah SWT.

Namun, ternyata ada satu golongan yang disebut sebagai ahli ibadah yang bangkrut di akhirat. Lalu, siapakah dia? Simak penjelasannya berikut ini.

Kisah Ahli Ibadah yang Bangkrut di Akhirat

Seorang ahli ibadah dikisahkan tidak dapat langsung masuk surga karena satu perkara yang tampak sepele di mata manusia. Kesalahan tersebut bahkan mengalahkan ibadah yang telah ia jalani selama 70 tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah ini dituturkan oleh tabi'in Wahab bin Munabbih dan dinukil oleh Ahmad Izzan dalam bukunya Laa Taghtarr(Jangan Terbuai).

Diceritakan, ada seorang pemuda yang bertobat dari seluruh kemaksiatan. Setelah itu, ia menjadi ahli ibadah dan beribadah kepada Allah SWT selama 70 tahun. Selama masa tersebut, ia tidak pernah meninggalkan puasa, tidak tidur, tidak berteduh, dan tidak mengonsumsi makanan berlemak.

ADVERTISEMENT

Ketika ia wafat, sebagian saudaranya bermimpi bertemu dengannya. Dalam mimpi itu, mereka menanyakan apa yang Allah SWT lakukan terhadapnya. Lelaki tersebut meminta agar dilakukan hisab atas dirinya. Allah SWT pun mengampuni seluruh dosanya, kecuali satu dosa.

Ia menjelaskan bahwa satu dosa itulah yang membuatnya tertahan untuk masuk surga. Dosa tersebut adalah mengambil sebatang lidi untuk dijadikan tusuk gigi tanpa izin pemiliknya.

"Allah mengampuni semua dosaku, kecuali satu dosa, yaitu aku telah mengambil lidi yang kugunakan untuk menusuk gigiku tanpa seizin pemiliknya. Karena itu, di sini aku tertahan dari surga karenanya, hingga sekarang ini," kata lelaki itu kepada saudaranya yang memimpikannya.

Kisah serupa tentang orang yang telah bertobat dan menjadi ahli ibadah, namun tetap mendapatkan balasan akibat kelalaiannya, juga dialami oleh seorang juru timbang.

Al-Harits al-Muhasibi menuturkan bahwa setelah ahli ibadah itu meninggal, beberapa sahabatnya bermimpi bertemu dengannya dan menanyakan apa yang Allah perbuat terhadapnya.

Ia menjawab, "Aku menghitung 15 qafis (jenis takaran) dari bermacam-macam biji-bijian."

Ketika ditanya alasannya, ia berkata,

"Aku tidak mempedulikan takaran yang kurang, karena bercampur debu. Tanah yang menggumpal di dasar takaran itu mengurangi setiap takaran sebanyak tanah yang menempel itu. Itu membuatku disiksa di kubur hingga suaraku terdengar oleh yang lain. Lalu aku ditolong oleh sebagian yang saleh."

Hadits Tentang Ahli Ibadah yang Bangkrut di Akhirat

Rasulullah SAW pernah menjelaskan tentang golongan umatnya yang dinyatakan bangkrut pada hari kiamat. Kebangkrutan yang dimaksud bukanlah karena tidak memiliki harta benda, melainkan karena habisnya pahala akibat perbuatan zalim terhadap orang lain. Mereka datang dengan membawa amal ibadah, tetapi semasa hidupnya gemar mencela, mendustakan, mengambil hak orang lain, bahkan melakukan kekerasan.

Penjelasan ini disebutkan oleh Abdul Wahab Abdussalam Thawilah dalam Al-Masih Al-Muntazhar wa Nihayah Al-Alam yang diterjemahkan oleh Subhanur. Ia menukil riwayat dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW.

Rasulullah SAW bersabda,

"Tahukah siapa orang yang bangkrut?" Mereka menjawab, "Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya dirham dan barang dagangan." Beliau bersabda, "Orang yang bangkrut adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, zakat, sedangkan ia telah mencaci Fulan, mendustakan Fulan, memakan harta Fulan, membunuh Fulan, dan memukul Fulan sehingga (kesalahannya) ini diambil dari kebaikannya, doa ini diambil dari kebaikannya sehingga setelah kebaikannya habis sebelum diputuskan kepadanya, lalu keburukan mereka diambil dan ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka." (HR Muslim dan At-Tirmidzi)

Riya Juga Bisa Membuat Amal Ibadah Sia-sia

Dalam buku Yang Bangkrut dan Yang Untung di Alam Kubur karya Al-Hafizh Taqiyuddin Al-Jurjani dijelaskan bahwa keikhlasan dan sikap berserah diri kepada Allah SWT menjadi syarat utama diterimanya amal ibadah.

Salah satu penyebab amal tidak diterima adalah riya. Riya berarti melakukan ibadah dengan tujuan agar dipuji manusia.

Orang yang riya disamakan dengan orang yang salat tanpa bersuci, berzina, memakan riba, dan enggan menunaikan zakat. Mereka mendapat siksa di alam kubur sebagaimana Allah SWT menyiksa orang-orang yang sombong, gemar mengumpat, dan menghina sesama. Azab kubur dan siksa neraka menimpa seorang hamba karena kemurkaan Allah SWT kepadanya.

Kelak di alam kubur dan akhirat, ada orang-orang yang kembali kepada Allah SWT tanpa membawa amal ibadah sedikit pun.

Amal mereka menjadi sia-sia karena bersikap riya selama ia hidup dan beribadah. Nantinya, di alam kubur, tidak ada amal yang menyertai mereka.

Dalam bukunya, Ibnu Rajab mengutip perkataan Al-Auza'i yang diriwayatkan oleh Yahya ibnu Abu Katsir. Ia berkata,

"Dulu, Abu Bakar pernah berkata dalam khutbahnya, 'Mana orang-orang yang membanggakan ketampanan wajahnya, yang memamerkan usia mudanya, yang tidak pernah terkalahkan di medan perang? Mana orang-orang yang telah membangun kota-kota besar, membangun dinding keliling yang menjulang tinggi, sedangkan tembok itu telah runtuh bersama mereka? Orang-orang itu semua sekarang berada dalam kegelapan kubur. (Tanah kubur itu berkata), cepatlah, cepatlah. Bergegaslah, bergegaslah (masukkan ia ke dalamku untuk aku himpit)!'"

Kesimpulannya, ahli ibadah yang bangkrut di akhirat adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa banyak pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi semasa hidupnya gemar berbuat zalim seperti mencela, mendustakan, mengambil hak orang lain, atau menyakiti sesama, sehingga seluruh pahalanya habis untuk membayar kezaliman tersebut.

Selain itu, amal juga bisa sia-sia karena tidak menjaga hak orang lain dalam perkara kecil dan karena riya, yakni beribadah bukan dengan niat ikhlas karena Allah SWT.




(inf/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads