Amal tidak cukup disertai dengan iman dan takwa. Sering kali, amalan yang sudah dikerjakan rutin kehilangan ganjarannya dan pahalanya gugur karena perkara tercela yang tumbuh dalam diri.
Oleh karena itu, memahami beberapa perkara yang dapat merusak amal menjadi penting bagi umat Islam agar setiap ibadah yang dilakukan senantiasa diterima di sisi Allah SWT.
Baca juga: Tanda-tanda Ibadah Tidak Diterima Allah |
7 Perkara yang Dapat Merusak Amal
Ada sejumlah perkara yang dapat merusak amal seseorang. Berikut tujuh di antaranya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Riya
Dijelaskan dalam kitab Bad'u Man Anaba Ilallah dan Adab an-Nufus karya Imam al-Muhasibi terjemahan Abu Yazid al-Basthomi, sikap riya merupakan salah satu perbuatan tercela yang dapat merusak amal seseorang. Orang yang riya dalam beribadah menjadikan tujuan amalnya sebagai sarana meraih kenikmatan duniawi atau kedudukan dan pengakuan di mata manusia.
Amalan orang riya menjadi rusak karena niat dan keinginannya yang salah. Orang-orang yang berperilaku riya merasa senang saat mendengar pujian, kemudian merasa bangga dan kagum terhadap dirinya sendiri.
2. Hasad (Iri Dengki)
Mengutip buku 40 Materi Khutbah Sistematis karya Suheri Mukti, hasad merupakan sifat tercela yang dapat merusak amal. Hasad merujuk pada perasaan iri atau dengki terhadap keberhasilan atau nikmat yang didapat orang lain, yang menyebabkan seseorang ingin agar orang tersebut kehilangan nikmatnya. Sifat buruk ini dapat menggugurkan pahala yang seharusnya didapatkan.
Rasulullah SAW bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ)
Artinya: "Hati-hatilah terhadap dengki, karena dengki itu memakan amal-amal saleh, sebagaimana api memakan kayu kering." (HR Abu Dawud)
3. Takabur
Sifat takabur atau merasa diri mulia juga dapat menghancurkan amal saleh seseorang. Takabur merujuk pada sikap merasa lebih baik, lebih tinggi, atau lebih unggul, sehingga sering kali meremehkan orang lain. Sikap ini dapat mengurangi keikhlasan dalam beramal dan menjauhkan seseorang dari Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَن كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِّنْ كِبْرٍ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
Artinya: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat zarah dari kesombongan." (HR Muslim)
4. Ujub
Ujub adalah perasaan kagum terhadap diri sendiri atas amal atau kebaikan yang telah dilakukan. Sifat ujub menganggap amal tersebut adalah hasil dari usaha dan kemampuan sendiri, tanpa menyadari bahwa itu semua merupakan bentuk nikmat dan kemampuan dari Allah SWT. Ujub merusak amal karena dapat menggugurkan niat ikhlas dan menyalahkan keutamaan amal pada diri sendiri.
ثَلاثَ مِنْ هَلَاكِ الْعَمَلِ : الرِّيَاءُ وَالتَّكَبُّرُ وَالْعُجُبُ. رَوَاهُ الْحَكِيمُ
Artinya: "Tiga hal yang dapat merusak amal seseorang: riya, takabur, dan ujub." (HR Al-Hakim)
5. Tergesa-gesa
Imam Al-Ghazali dalam Minhajul Abidin menjelaskan, tergesa-gesa dalam berbuat kebaikan dapat menjauhkan dari tujuan dan dapat menjerumuskan dalam maksiat, karena ibadah seharusnya dilakukan secara sungguh-sungguh. Kunci utama ibadah adalah warak, yakni teliti dalam segala hal dan membahas secukupnya setiap hal menurut keadaannya. Sementara itu, ibadah tanpa disertai warak justru akan menghalangi tujuan.
6. Nifaq
Menukil buku Jatuh Hati pada Ilahi susunan Yunasril Ali, nifaq dalam Islam dipahami sebagai sikap seseorang yang memperlihatkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran. Pada dasarnya, kemampuan menyembunyikan keyakinan, pemikiran, dan emosi merupakan kesempurnaan kepribadian manusia. Namun, apabila hal tersebut merugikan diri sendiri dan orang lain, maka hal itu termasuk pada dusta yang terlarang dan merupakan bagian kemunafikan.
Islam melihat nifaq sebagai sifat tercela dan pelakunya (orang munafik) akan ditempatkan di neraka yang paling bawah.
Allah SWT berfirman,
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ ١٤٥
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada peringkat yang paling bawah dari neraka. Kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka." (QS An-Nisa': 145)
7. Berniat Buruk
Dijelaskan dalam buku Mazhab Cinta, Cerita & Logika karya M. Rafiqsani Al-Batami dan Nur Laili Sa'adati Alfasiri, berniat buruk pada amal-amal yang baik akan merusak amal saleh tersebut. Amalan baik yang disertai niat buruk akan dinilai buruk pula oleh Allah SWT.
Ketika orang berbuat amal saleh yang dimaksudkan mengharap perkara dunia, seperti harta dan jabatan, maka niat itu telah merusak amal salehnya. Hal ini karena tidak sepantasnya manusia menukar perkara akhirat dengan perkara dunia yang sifatnya tidak kekal.
Wallahu a'lam.
