Kementerian Agama (Kemenag) menyambut positif langkah Greenpeace Indonesia yang mendorong masjid menjadi pusat ketahanan iklim berbasis komunitas. Upaya ini dinilai sejalan dengan konsep ekotheologi yang kini menjadi salah satu prioritas kebijakan Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Hal tersebut disampaikan oleh perwakilan Subdit Kemasjidan Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Ditjen Bimas Islam Kemenag, Nasrullah, dalam peluncuran "Panduan Masjid sebagai Pusat Ketahanan Iklim Berbasis Komunitas" di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Rabu (7/10/2026).
"Kementerian Agama merasa terhormat diundang oleh Greenpeace. Inisiatif ini sangat strategis dan selaras dengan kebijakan pemerintah, di mana salah satu program prioritas (asta protas) Menteri Agama mengusung konsep ekotheologi," ujar Nasrullah di lokasi.
Nasrullah menjelaskan bahwa konsep ekotheologi menggabungkan dua dimensi utama, yakni eko (lingkungan) dan teologi (keagamaan). Menag berkeyakinan bahwa tingkat pemahaman agama seseorang berbanding lurus dengan tingkat kepeduliannya terhadap kelestarian alam dan mitigasi bencana.
"Pak Menteri sangat yakin, semakin seseorang memahami agamanya dengan baik, dia akan semakin peduli terhadap lingkungan dan bencana. Ajaran pelestarian lingkungan serta penghijauan adalah bagian nyata dari pemahaman dan pengamalan agama," terangnya.
Ia menambahkan bahwa Kemenag sendiri secara rutin telah menjalankan aksi nyata tersebut. Seperti program penanaman serta pemeliharaan pohon yang melibatkan Kantor Urusan Agama (KUA) di berbagai daerah.
Mengenai potensi ke depan, Nasrullah membeberkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 21 ribu masjid yang tersebar di 38 provinsi. Jumlah tersebut menjadi aset yang sangat potensial jika dimaksimalkan sebagai pusat penanggulangan dan ketahanan bencana.
Guna mendukung gerakan komunitas seperti yang diusung Greenpeace, Kemenag siap membuka ruang kolaborasi serta menggerakkan struktur birokrasi di daerah.
"Jika teman-teman komunitas membutuhkan dukungan, kami bisa mengerahkan sumber daya di daerah. Kita punya Kantor Wilayah (Kanwil), Kankemenag kabupaten/kota, hingga KUA di tingkat kecamatan. Ini jaringan yang sangat potensial untuk menggerakkan masjid menjadi tangguh bencana," jelas Nasrullah.
Kendati demikian, ia mengakui bahwa pembenahan infrastruktur dan kapasitas sumber daya manusia di puluhan ribu masjid tersebut perlu dilakukan secara bertahap.
"Masjid-masjid kita ini pelan-pelan kita tata, baik dari aspek SDM maupun infrastrukturnya. Sebagai contoh, Masjid Istiqlal yang mendapat perhatian dari Kementerian PU. Dalam hal ini, Kemenag siap menjadi wasilah atau mediator lintas sektor demi mewujudkan masjid ramah lingkungan," pungkasnya.
Simak Video "Video: Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace"
(lus/lus)