Saat Perang Salib Mengancam, Ulama Damaskus Minta Bantuan Baghdad

Saat Perang Salib Mengancam, Ulama Damaskus Minta Bantuan Baghdad

Aulia Retno Utami - detikHikmah
Rabu, 07 Okt 2026 08:00 WIB
Copyright has expired on this artwork. From my own archives, digitally restored.
Ilustrasi Perang Salib. Foto: Getty Images/mikroman6
Jakarta -

Perang Salib menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam. Ketika serangan Perang Salib mulai mengancam dan jatuhnya Baitul Maqdis mengguncang kaum muslim, para ulama serta hakim di wilayah Syam tidak tinggal diam.

Para ulama Syam kala itu bergerak secara politik dan militer dengan meminta bantuan Baghdad. Bahkan, mereka juga berusaha menciptakan iklim intelektual di kalangan umat Islam demi menyelamatkan tanah Islam dari ancaman Perang Salib.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peran vital para cendekiawan muslim ini menjadi titik balik penting dalam menyadarkan serta menyatukan barisan umat Islam dalam menghadapi invasi Perang Salib.

Para Ulama dan Hakim Damaskus Minta Bantuan Baghdad

Jatuhnya Baitul Maqdis memicu kesadaran para ulama, hakim, dan penguasa mengenai kenyataan invasi Perang Salib yang mengancam keberadaan dan posisi mereka, serta terancamnya tanah-tanah bangsa Islam.

ADVERTISEMENT

Dikisahkan dalam buku Akar Sejarah Perang Salib karya Ali Muhammad Ash-Shalabi, para ulama dan hakim dari Damaskus, serta Aleppo dan Tripoli, segera meminta bantuan dari penguasa pusat Baghdad dan otoritas lokal. Langkah tersebut didasarkan pada anggapan bahwa pihak Baghdad memiliki kekuatan militer yang mampu menghadapi kemungkinan invasi tentara Salib.

Para Ulama dan Hakim Cerahkan Intelektual Kaum Muslim

Para ulama dan hakim Damaskus menyadari bahwa bantuan kekuatan militer dari Baghdad belum cukup untuk menghadapi kemungkinan Perang Salib. Oleh karena itu, mereka tidak hanya minta bantuan kekuatan militer dari Baghdad, tetapi juga berusaha menciptakan iklim intelektual dan mendidik umat Islam. Mereka menulis dan mengarang berbagai kitab tentang jihad melawan invasi tersebut untuk menumbuhkan semangat umat Islam.

Upaya mereka terbagi dalam dua cara. Pertama, mereka fokus pada penulisan dan pidato secara konvensional, serta mengklarifikasi masalah-masalah dan pilar-pilar agama yang tegak untuk umat Islam. Kedua, mereka menanamkan ajakan jihad, serta mendorong umat Islam untuk melaksanakannya. Tak heran pada saat itu banyak karya mengenai jihad Islam dan motivasi umat Islam untuk menghadapi invasi yang ditulis sebelum dan selama Perang Salib di wilayah Syam.

Semangat Jihad yang Diserukan Ulama pada Masa Perang Salib

Tercatat dalam buku The Crusade; Islamic Perspectives karya Carole Hillenbrand terjemahan Heryadi, jatuhnya Yerusalem di tangan tentara Salib belum cukup menyadarkan umat Islam. Hingga akhirnya pada tahun awal kejatuhan Yerusalem, seorang ulama Suriah bernama al-Silami di Masjid Umayyah, Damaskus memberikan khotbah bahwa umat Islam harus bergerak melawat musuh, yakni para tentara Salib. Ia menegaskan kekalahan umat Islam merupakan hukuman dari Allah SWT karena kaum muslim telah mengabaikan kewajiban-kewajiban agama, terutama ketidakpedulian terhadap jihad.

Setelah al-Sulami, para ulama-ulama lainnya giat menyerukan dakwah berisi pesan jihad dari mimbar masjid mereka masing-masing.

Peran Ulama dan Hakim di Medan Jihad

Para fuqaha (ulama ahli fikih) dan qadhi (hakim) turut berperan dalam jihad pada masa Perang Salib. Salah satunya adalah kisah Al-Qadhi Abu Muhammad Abdullah bin Manshur atau Ibnu Shulaihah yang menjadi qadhi di Benteng Jablah setelah kematian ayahnya, Manshur pada tahun 494 H/1100 M.

Ia menemukan taktik militer untuk mengelabui musuh. Berkat kecerdikannya, tentara Frank berhasil diserang dan membuat mereka mundur dalam kekalahan.



(kri/kri)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads