Tafsir Surat Maryam Ayat 30-35 Menurut Ulama

Tafsir Surat Maryam Ayat 30-35 Menurut Ulama

Lathifah Nur Awwaliyyah - detikHikmah
Selasa, 06 Okt 2026 09:30 WIB
Ilustrasi membaca Alquran.
Ilustrasi membaca Alquran. Foto: Masjid Pogung Dalangan/Unsplash
Jakarta -

Kisah kelahiran Nabi Isa AS menjadi salah satu peristiwa luar biasa yang diabadikan dalam Al-Qur'an. Kisah bermula ketika Maryam membawa bayinya kembali kepada kaumnya dan muncullah caci makian menuduh Maryam telah melakukan perbuatan zina.

Allah SWT meyakinkan Maryam dan menunjukkan mukjizat besar kepada bayinya, yakni Nabi Isa AS. Mukjizat ini ialah menganugerahkan kepada bayi tersebut agar bisa berbicara dan meluruskan daripada tuduhan kepada ibundanya. Kisah ini abadi dalam Surat Maryam ayat 30-35.

Tafsir Surat Maryam Ayat 30-35

Bukti Kesucian Maryam dan Mukjizat Nabi Isa AS (Tafsir Ayat 30-31)

Saat kaumnya mencaci maki kedatangan Maryam bersama bayinya, Allah SWT memerintahkan Maryam untuk bernazar puasa bicara. Untuk menjawab cacian dari kaumnya, Maryam memberikan isyarat agar mereka berbicara pada bayinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka mengutip riwayat Imam Al-Qurthubi bahwa saat itu Nabi Isa AS sedang menyusu. Ia melepaskan mulutnya, mengangkat telunjuk kanannya, lalu berucap dengan sangat fasih, "Sesungguhnya aku ini hamba Allah."

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan tujuan dari kalimat pertama yang keluar dari Nabi Isa adalah menyucikan Allah SWT dari tuduhan memiliki sekutu atau anak, sekaligus untuk membebaskan ibundanya dari fitnah keji. Nabi Isa AS menjelaskan bahwa Allah SWT menganugerahinya kitab Injil dan akan mengangkatnya sebagai Nabi.

ADVERTISEMENT

Dalam ayat 31 dijelaskan bahwa Nabi Isa AS dijadikan sebagai sosok yang diberkati. Keberkahan ini bermakna sebagai pengajar kebaikan dan penegak amar ma'ruf nahi munkar. Mengutip Tafsir Kemenag, ayat ini juga mempertegas tentang perintah salat dan zakat yang diemban Nabi Isa AS menjadi sarana pembersihan diri lahir batin.

Bukti Bakti Nabi Isa kepada Maryam dan Keselamatan (Ayat 32-33)

Melalui ayat 32, Nabi Isa AS menegaskan baktinya kepada sang ibu dan Allah SWT tidak menjadikannya manusia yang sombong serta celaka. Buya Hamka menjelaskan bahwa ayat ini menjadi cerminan kelembutan risalah Nabi Isa tentang bentuk penghormatan kepada ibu yang telah menanggung beban derita luar biasa.

Pada ayat 33, Nabi Isa AS menjelaskan tentang tiga masa keselamatannya yang kemudian menjadikan ayat ini sebagai doa keselamatan. Nabi Isa AS berdoa agar diberikan keselamatan di hari kelahiran, kematian, dan kebangkitannya.

Ayat tersebut menegaskan posisi Nabi Isa AS sebagai hamba Allah SWT yang mengalami kelahiran, kematian, dan kebangkitan. Karena itu, Nabi Isa AS bukan sekutu Allah SWT dan tidak memiliki sifat ketuhanan.

Kebenaran tentang Nabi Isa AS (Ayat 34-35)

Ayat 34-35 menjadi penutup rangkaian kisah kelahiran Nabi Isa AS. Kedua ayat ini menjelaskan kebenaran tentang Isa putra Maryam sekaligus meluruskan perselisihan mengenai dirinya.

Nabi Isa AS bukanlah anak hasil zina sebagaimana tuduhan kaum yang mencaci Maryam, bukan tukang sihir, dan bukan pula anak Allah SWT apalagi Tuhan sebagaimana yang diyakini oleh sebagian kaum.

Buya Hamka menegaskan bahwa anak hanya dibutuhkan oleh makhluk yang fana dan takut punah sehingga memerlukan penerus keturunan. Sedangkan Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Esa. Apabila Allah SWT menghendaki sesuatu, seperti kisah lahirnya Nabi Isa AS, Allah SWT cukup berfirman "Jadilah! Maka seketika itu terjadilah."



(inf/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads