Profil Gus Baha, Wakil Rais Aam PBNU 2026 - 2031

Profil Gus Baha, Wakil Rais Aam PBNU 2026 - 2031

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Kamis, 01 Okt 2026 09:38 WIB
Menikmati Islamnya Gus Baha
Gus Baha. Foto: detik
Jakarta -

KH Bahauddin Nur Salim atau yang akrab disapa Gus Baha resmi menjadi salah satu Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026 - 2031. Wakil Rais Aam lainnya yaitu KH Nurul Huda Jazuli, KH Anwar Iskandar, KH Afifuddin Muhajir, dan KH Muhammad Musthofa Aqiel Sirodj.

Mereka akan mendampingi KH Miftachul Akhyar menjalani tugas-tugas pimpinan tertinggi PBNU. Struktur baru PBNU periode 2026 - 2031 sendiri diumumkan pada Rabu (30/9/2026) malam.

"Wakil Rais Aam Kiai Haji Bahauddin Nur Salim yang lebih dikenal Gus Baha," ucap Katib Aam PBNU Prof Mohammad Nuh membacakan susunan pengurus PBNU di Gedung PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026) malam, disiarkan YouTube TVNU.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, seperti apa sosok Gus Baha yang menjadi Wakil Rais Aam PBNU 2026 - 2031? Berikut profilnya.

ADVERTISEMENT

Profil Gus Baha yang Jadi Wakil Rais Aam PBNU 2026 - 2031

KH Bahauddin Nur Salim merupakan ulama asal Rembang. Ia lahir pada 29 September 1970 di Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah. Pria yang akrab disapa Gus Baha itu terkenal dengan kedalaman ilmunya di bidang tafsir Al Qur'an.

Dilansir dari NU Online, ilmu tersebut tak lepas dari silsilah keluarga Gus Baha. Ia merupakan putra dari pasangan ulama ahli Al-Qur'an, KH Nursalim al-Hafizh dan Hj Yuchanidz Nursalim.

Dari garis sang ayah, Gus Baha merupakan generasi keempat di keluarganya yang jadi ulama ahli Al-Qur'an. Sementera itu, dari garis ibu Gus Baha adalah keturunan ulama besar Lasem, Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu.

Masa kecil Gus Baha diisi dengan mempelajari Al-Qur'an dengan bantuan sang ayah. Menginjak remaja, ia berguru kepada KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen di Pondok Pesantren Al-Anwar Karangmangu, Rembang.

Keilmuannya menonjol, Gus Baha bahkan dikenal sebagai santri yang dekat dengan para kiai dan jadi teladan santri lain. Ia juga sempat tinggal dan berdakwah di Yogyakarta setelah menikah pada 2003.

Gus Baha tergabung dalam Lembaga Tafsir Al-Qur'an Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, sebagai Ketua Lajnah Mushaf. UII diketahui merintis penerbitan Al-Qur'an dan tafsir sejak 1995 lewat Badan Wakaf yang dipimpin Prof Zaini Dahlan. Edisi pertama Qur'an Karim dan Terjemahan Artinya dicetak pada 1997.

Gaya Dakwah Gus Baha

Gus Baha dikenal dengan gaya dakwahnya yang santai, humoris serta merakyat. Karenanya, dakwah beliau mudah diterima semua kalangan dengan bahasa sederhana namun lugas.

Video-video dakwah Gus Baha yang banyak tersebar di platform media sosial diunggah oleh para santri, jemaah maupun berbagai kanal komunitas. Gus Baha sendiri tidak memiliki akun resmi, tidak aktif bermedia sosial, namun namanya populer di jagat maya.



(aeb/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads