Kemunculan ikan oarfish ke permukaan laut selalu menyedot perhatian publik dan memicu berbagai spekulasi. Karakteristiknya yang unik dengan tubuh panjang menyerupai ular laut serta habitat aslinya yang berada di kedalaman samudra membuat hewan ini diselimuti berbagai mitos.
Merujuk laporan detikBali, seekor ikan oarfish sepanjang sekitar empat meter ditemukan mati terdampar di Pantai Pink, Lombok Timur. Ikan laut dalam ini dikenal jarang terlihat manusia dalam kondisi hidup di permukaan laut.
Sebagai umat Islam, setiap fenomena alam dan kemunculan makhluk ciptaan Allah SWT dapat menjadi sarana untuk bertadabur atas keagungan Sang Pencipta. Lantas, bagaimana pandangan Al-Qur'an tentang fenomena hewan laut tersebut?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pandangan Al-Qur'an tentang Fenomena Hewan Laut
Fenomena kemunculan oarfish dapat menjadi salah satu pengingat tentang keberagaman makhluk ciptaan Allah SWT. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT menjelaskan bahwa setiap hewan diciptakan dengan karakteristik dan cara bergerak yang berbeda.
Hal tersebut salah satunya disebutkan dalam surah An-Nur ayat 45:
وَاللّٰهُ خَلَقَ كُلَّ دَاۤبَّةٍ مِّنْ مَّاۤءٍۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ يَّمْشِيْ عَلٰى بَطْنِهٖۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّمْشِيْ عَلٰى رِجْلَيْنِۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّمْشِيْ عَلٰٓى اَرْبَعٍۗ يَخْلُقُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
"Allah menciptakan semua jenis hewan dari air. Sebagian berjalan dengan perutnya, sebagian berjalan dengan dua kaki, dan sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Keberagaman makhluk di alam juga menjadi bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 164:
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ
"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengannya Dia menghidupkan bumi setelah mati (kering), dan Dia menebarkan di dalamnya semua jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti."
Ayat tersebut mengajak manusia memperhatikan berbagai tanda kebesaran Allah SWT yang terdapat di alam semesta, termasuk keberadaan dan keberagaman makhluk hidup. Karena itu, kemunculan oarfish dapat menjadi salah satu fenomena alam yang mendorong manusia untuk bertadabur atas kebesaran Sang Pencipta.
Mitos Oarfish sebagai "Ikan Kiamat" dan Pandangan Islam
Dalam berbagai kepercayaan, kemunculan oarfish kerap dihubungkan dengan gempa bumi. Namun, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang cukup untuk memastikan bahwa kemunculan oarfish dapat menjadi tanda akan terjadinya gempa.
Al-Qur'an juga mengingatkan manusia tentang kekuasaan Allah SWT atas bumi dan kemungkinan datangnya azab yang membuat bumi berguncang, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Mulk ayat 16:
أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ
"Sudah merasa amankah kamu dari Zat yang di langit, yaitu (dari bencana) dibenamkannya bumi oleh-Nya bersama kamu ketika tiba-tiba ia terguncang?"
Terlepas dari fenomena alam maupun respons hewan terhadap perubahan ekosistem, Al-Qur'an mengajarkan manusia untuk introspeksi diri (muhasabah). Apabila fenomena terdamparnya hewan laut disebabkan oleh perubahan iklim, pencemaran, atau kerusakan lingkungan, hal tersebut dapat menjadi pengingat bagi manusia untuk melakukan introspeksi atas dampak perbuatannya terhadap alam, sebagaimana termaktub dalam surah Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
