Suasana Lebaran di Yaman, Bukan Sekadar Perayaan

Ramadan di Negeri Rantau

Suasana Lebaran di Yaman, Bukan Sekadar Perayaan

Muhammad Faatih Hizbullah - detikHikmah
Minggu, 22 Mar 2026 18:00 WIB
Foto bersama setelah salat Id di masjid Ahmadain Husaisah, Yaman, Jumat (20/3/2026).
Foto bersama setelah salat Id di masjid Ahmadain Husaisah, Yaman, Jumat (20/3/2026). Foto: Dok Muhammad Faatih Hizbullah
Husaisah -

Setelah menjalani puasa selama satu bulan penuh, Hari Raya Idul Fitri atau yang biasa kita sebut Lebaran menjadi momen yang ditunggu oleh setiap muslim di seluruh penjuru dunia. Momen sakral bernuansa sukacita ini menjadi pelengkap dari indahnya bulan Ramadan yang telah berlalu. Terlebih bagi para perantau yang tidak merayakan Lebaran di kampung halaman.

Husaisah, Yaman, menjadi salah satu tempat santri rantau Indonesia merayakan Lebaran selama jenjang pendidikan. Kultur yang berbeda, menjadi pengalaman baru ketika merayakan Lebaran di tanah rantauan.

Gema takbir bergemuruh di sepanjang lembah selepas salat Isya, ihya lailatul Ied sudah dimulai. Di Indonesia disebut "malam takbiran". Di samping mengumandangkan takbir sampai menjelang subuh, para santri melengkapi ihyaul lail dengan khataman Al-Qur'an disertai pembacaan doa khataman dan doa birrul walidain untuk kedua orang tua, karena jasa dan doa kedua orang tualah para santri bisa sampai di titik ini. Selepas subuh, santri diberi tiga butir kurma sebagai iftar yang disunnahkan pada hari Idul Fitri sebelum melaksanakan salat Id.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para habaib menghadiri kegiatan Hari Raya Idul Fitri bersama para santri, Jumat (20/3/2026).Para habaib menghadiri kegiatan Hari Raya Idul Fitri bersama para santri, Jumat (20/3/2026). Foto: Dok Muhammad Faatih Hizbullah

Di sela waktu sebelum salat Id, para santri berkumpul di Masjid Ahmadain untuk membaca bait nasihat serta doa yang disusun oleh Al Habib Abu bakar Al Adni sebagai pengingat akan istimewanya hari Id. Nasihat tersebut sangat relevan dengan keadaan umat saat ini yang terkadang ifrat (berlebihan) dan tafrit (meremehkan) dalam menyikapi hari Id. Beliau menyusun buku tersebut berlandaskan dalil dari nash dan kitab fiqih ulama madzahib.

Jam 07.30 KSA salat Id didirikan. Takbir pertama seketika mengheningkan suasana. Shaf terbentang memenuhi kedua sudut masjid. Dilengkapi dengan Al Habib Ali Muhdor mendirikan khutbah Id tentang pentingnya memaknai Id sesuai dengan hakikatnya, menjadi pengingat para jemaah akan kesadaran hari Id yang bukan hanya sekadar menjadi hari perayaan. Nuansa rohani yang membuka pikiran dan melapangkan hati.

ADVERTISEMENT

Alih-alih sungkeman bersama keluarga selepas salat, para santri hanya bisa menatap layar kaca yang menghubungkan mereka dengan keluarga yang berada di lintas benua. Percakapan yang biasa dilakukan di ruang keluarga berganti menjadi video call yang dibatasi layar kaca. Begitulah peran teknologi yang berdampak baik dan membawa kemaslahatan karena menjaga kehangatan nuansa Lebaran yang sedang terjadi.

Salah satu makanan khas Nusantara yang tersaji di meja prasmanan saat Lebaran di Husaisah, Yaman, Jumat (20/3/2026).Salah satu makanan khas Nusantara yang tersaji di meja prasmanan saat Lebaran di Husaisah, Yaman, Jumat (20/3/2026). Foto: Dok Muhammad Faatih Hizbullah

Tak hanya rindu keluarga, para santri pun rindu dengan masakan khas Nusantara yang menjadi hidangan di tudung saji pada setiap pertemuan di hari raya. Oleh karena itu, meja prasmanan kuliner Nusantara hadir menjadi pelengkap pada setiap hari raya. Lebaran bukan hanya sebagai perayaan, namun menjadi salah satu simbol dalam persatuan.

--

Muhammad Faatih Hizbullah

Mahasiswa Fiqh Tahawwulat wa da'wah, Washatia University Yaman

Artikel ini merupakan kolaborasi detikHikmah dengan PPI Dunia. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)




(kri/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads