Gerakan Masjid Bersih (GMB) kembali digelar menjelang Ramadan. Tahun ini, kegiatan berlangsung di Masjid Agung Al Azhar, Kamis (26/2), hasil kolaborasi antara Wipol dan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Program ini telah berjalan selama 10 tahun sebagai upaya mendorong kebersihan masjid, khususnya menjelang dan selama bulan suci.
Memasuki tahun ke-10 pada 2026, program tersebut menargetkan aksi bersih-bersih di 54.000 masjid yang tersebar di 12 provinsi. Secara akumulatif, lebih dari 324.000 masjid telah dijangkau dalam satu dekade terakhir. Tahun ini, separuh dari alokasi donasi difokuskan ke wilayah Sumatra yang membutuhkan dukungan lebih besar pascabencana.
Sekretaris Jenderal DMI, Rahmat Hidayat, menegaskan bahwa kebersihan masjid tidak bisa dilepaskan dari peran marbot yang setiap hari menjaga dan merawat rumah ibadah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di balik kenyamanan dan kebersihan masjid, ada peran marbot yang bekerja dengan penuh tanggung jawab setiap hari. Menghargai dan mendukung marbot berarti kita turut menjaga kehormatan dan fungsi masjid itu sendiri," ujarnya dalam acara tersebut.
Menurut Rahmat, gerakan kebersihan masjid seharusnya tidak berhenti sebagai agenda tahunan menjelang Ramadan saja. Ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif umat untuk menjaga kesucian tempat ibadah sepanjang waktu.
Pandangan serupa disampaikan figur publik Fadil Jaidi yang turut terlibat dalam kegiatan tahun ini. Ia mengaku baru menyadari besarnya peran marbot setelah melihat langsung proses kerja mereka.
"Selama ini kita sering menikmati masjid yang bersih tanpa benar-benar memikirkan siapa yang menjaganya. Setelah bertemu dan melihat langsung bagaimana marbot bekerja, saya baru sadar bahwa kebersihan itu adalah hasil dari waktu, tenaga, dan dedikasi yang konsisten. Lewat Gerakan Masjid Bersih, saya berharap semakin banyak orang mau meluangkan waktu untuk peduli," katanya.
Masjid di Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat, tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial dan pendidikan keagamaan. Karena itu, kebersihan dan kenyamanan menjadi bagian penting dalam memakmurkan masjid.
Selain kegiatan bersih-bersih, program tahun ini juga menyoroti kesejahteraan marbot. Dukungan yang diberikan mencakup distribusi puluhan ribu paket kebersihan, pemberangkatan dua pasang marbot untuk umrah, serta bantuan tunjangan hari raya bagi sebagian marbot.
Director of Communication, Corporate Affairs & Sustainability Unilever Indonesia, Nurdiana Darus, menyampaikan bahwa komitmen ini diharapkan dapat mendorong kepedulian masyarakat terhadap marbot sebagai penjaga rumah ibadah.
"Melalui kampanye #BerikanWaktuUntukKebaikan, kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama memberikan perhatian dan dukungan nyata bagi marbot," ujarnya.
Meski demikian, isu kesejahteraan marbot masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Di banyak daerah, marbot masih bergantung pada insentif dari kas masyarakat atau donasi jemaah, padahal peran mereka sangat krusial dalam memastikan masjid tetap bersih, aman, dan siap digunakan kapan pun.
Di tengah meningkatnya aktivitas ibadah selama Ramadan, gerakan bersih-bersih masjid menjadi momentum penting untuk membangun kesadaran bahwa menjaga kebersihan adalah bagian dari iman. Tantangannya kini adalah memastikan semangat tersebut tidak hanya hidup selama satu bulan, melainkan berlanjut sepanjang tahun.
Jika gerakan ini mampu melibatkan masyarakat secara konsisten dan memperkuat perhatian terhadap kesejahteraan marbot, maka kebersihan masjid tidak lagi menjadi agenda musiman, melainkan budaya bersama umat.
(lus/lus)












































Komentar Terbanyak
Kecam Israel Atas Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon, MUI Minta RI Ambil Langkah Diplomatik
Dubes Saudi: Serangan Iran ke Negara Teluk Berdampak pada Solidaritas Umat Islam
Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Desak Pemerintah Lakukan Investigasi