Hadits merupakan salah satu sumber hukum dalam Islam yang memiliki peran penting dalam menjelaskan ajaran dan ketentuan syariat. Sebagai sumber ajaran dari Rasulullah SAW, hadits menjadi acuan utama bagi umat Islam dalam memberikan penilaian terhadap suatu permasalahan.
Di antara berbagai jenis hadits, ada istilah yang dikenal sebagai hadits qudsi. Lantas, apa itu hadits qudsi dan mengapa kedudukannya sering dianggap istimewa dalam khazanah keilmuan Islam?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengertian Hadits Qudsi
Dikutip dari buku Shahih Hadits Qudsi oleh Dr. Abu Hafizhah Irfan, hadits qudsi adalah sabda Rasulullah SAW yang maknanya berasal dari Allah SWT, sementara redaksinya disampaikan dengan lafaz Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut membuat hadits qudsi menempati posisi yang istimewa dalam ajaran Islam.
Tidak seperti Al-Qur'an yang diturunkan sebagai wahyu lafzi melalui perantaraan Malaikat Jibril, hadits qudsi tidak disampaikan Allah SWT kepada Nabi SAW dalam bentuk bacaan yang harus dilafalkan secara harfiah. Kendati demikian, kandungannya tetap berasal langsung dari Allah SWT, sehingga memiliki kedudukan spiritual yang sangat luhur.
Secara posisi, hadits qudsi berada di antara Al-Qur'an dan hadits nabawi. Ia bukan bagian dari Al-Qur'an, tetapi juga tidak sepenuhnya serupa dengan hadits nabawi yang lafaz dan maknanya bersumber dari Rasulullah SAW.
Salah satu ciri utama hadits qudsi adalah tidak dibacakan dalam salat sebagaimana ayat-ayat Al-Qur'an. Selain itu, hadits qudsi tidak memiliki status mutawatir seperti Al-Qur'an, sehingga periwayatannya tetap mengikuti kaidah ilmu hadits.
Dalam penyampaiannya, hadits qudsi umumnya diawali dengan ungkapan seperti "Allah berfirman" atau "Rasulullah SAW bersabda atas nama Allah". Ungkapan ini menegaskan bahwa pesan yang disampaikan berasal dari Allah SWT, meskipun disampaikan melalui redaksi Nabi.
Contoh Hadits Qudsi
Beberapa hadits qudsi yang berstatus shahih tercantum dalam berbagai kitab rujukan dan kerap dijadikan pedoman dalam kehidupan umat Islam. Kandungan hadits-hadits tersebut umumnya menyampaikan pesan yang mendalam tentang kedekatan hubungan antara manusia dengan Allah SWT.
Masih dikutip dari buku Shahih Hadits Qudsi, berikut adalah contoh hadits qudsi.
ØšŲŲŲ ØŖŲØ¨ŲŲ Ø°ŲØąŲŲ Ø§ŲØēŲŲŲØ§ØąŲŲ ØąŲØļŲŲŲ Ø§ŲŲŲŲ ØšŲŲŲŲŲ ØšŲŲŲ Ø§ŲŲŲŲØ¨ŲŲŲŲ ØĩŲŲŲŲŲ Ø§ŲŲŲŲ ØšŲŲŲŲŲŲŲ ŲŲØŗŲŲŲŲŲ ŲŲŲŲŲŲ ŲØ§ ŲŲØąŲŲŲŲŲŲŲ ØšŲŲŲ ØąŲØ¨ŲŲŲŲ ØšŲØ˛ŲŲ ŲŲØŦŲŲŲŲ ØŖŲŲŲŲŲŲ ŲŲØ§ŲŲ: ŲŲØ§ ØšŲØ¨ŲادŲŲ ØĨŲŲŲŲŲ ØŲØąŲŲŲ ŲØĒŲ Ø§ŲØ¸ŲŲŲŲŲ Ų ØšŲŲŲŲ ŲŲŲŲØŗŲŲ ŲŲØŦŲØšŲŲŲØĒŲŲŲ Ø¨ŲŲŲŲŲŲŲŲ Ų Ų ŲØŲØąŲŲŲ ŲØ§ ŲŲŲØ§Ų ØĒŲØ¸ŲاŲŲŲ ŲŲØ§ ŲŲØ§ ØšŲØ¨ŲادŲŲ ŲŲŲŲŲŲŲŲ Ų ØļŲØ§ŲŲŲ ØĨŲŲØ§ŲŲ Ų ŲŲŲ ŲŲØ¯ŲŲŲØĒŲŲŲ ŲŲØ§ØŗŲØĒŲŲŲØ¯ŲŲŲŲŲ ØŖŲŲŲØ¯ŲŲŲŲ Ų ŲŲØ§ ØšŲØ¨ŲادŲŲ ŲŲŲŲŲŲŲŲ Ų ØŦŲØ§ØĻŲØšŲ ØĨŲŲØ§ŲŲ Ų ŲŲŲ ØŖŲØˇŲØšŲŲ ŲØĒŲŲŲ ŲŲØ§ØŗŲØĒŲØˇŲØšŲŲ ŲŲŲŲŲ ØŖŲØˇŲØšŲŲ ŲŲŲŲ Ų ŲŲØ§ ØšŲØ¨ŲادŲŲ ŲŲŲŲŲŲŲŲ Ų ØšŲØ§ØąŲ ØĨŲŲØ§ŲŲ Ų ŲŲŲ ŲŲØŗŲŲŲØĒŲŲŲ ŲŲØ§ØŗŲØĒŲŲŲØŗŲŲŲŲŲ ØŖŲŲŲØŗŲŲŲŲ Ų ŲŲØ§ ØšŲØ¨ŲادŲŲ ØĨŲŲŲŲŲŲŲ Ų ØĒŲØŽŲØˇŲØĻŲŲŲŲ Ø¨ŲØ§ŲŲŲŲŲŲŲŲ ŲŲØ§ŲŲŲŲŲŲØ§ØąŲ ŲŲØŖŲŲŲØ§ ØŖŲØēŲŲŲØąŲ Ø§ŲØ°ŲŲŲŲŲØ¨Ų ØŦŲŲ ŲŲØšŲا ŲŲØ§ØŗŲØĒŲØēŲŲŲØąŲŲŲŲŲ ØŖŲØēŲŲŲØąŲ ŲŲŲŲŲ Ų ŲŲØ§ ØšŲØ¨ŲادŲŲ ØĨŲŲŲŲŲŲŲ Ų ŲŲŲŲ ØĒŲØ¨ŲŲŲØēŲŲØ§ ØļŲØąŲŲŲ ŲŲØĒŲØļŲØąŲŲŲŲŲŲ ŲŲŲŲŲŲ ØĒŲØ¨ŲŲŲØēŲŲØ§ ŲŲŲŲØšŲŲ ŲŲØĒŲŲŲŲŲØšŲŲŲŲŲ ŲŲØ§ ØšŲØ¨ŲادŲŲ ŲŲŲŲ ØŖŲŲŲŲ ØŖŲŲŲŲŲŲŲŲŲ Ų ŲŲØĸØŽŲØąŲŲŲŲ Ų ŲŲØĨŲŲŲØŗŲŲŲŲ Ų ŲŲØŦŲŲŲŲŲŲŲ Ų ŲŲØ§ŲŲŲØ§ ØšŲŲŲŲ ØŖŲØĒŲŲŲŲ ŲŲŲŲØ¨Ų ØąŲØŦŲŲŲ ŲŲØ§ØŲØ¯Ų Ų ŲŲŲŲŲŲ Ų Ų ŲØ§ Ø˛ŲØ§Ø¯Ų ذŲŲŲŲŲ ŲŲŲ Ų ŲŲŲŲŲŲ Ø´ŲŲŲØĻŲØ§ ŲŲØ§ ØšŲØ¨ŲادŲŲ ŲŲŲŲ ØŖŲŲŲŲ ØŖŲŲŲŲŲŲŲŲŲ Ų ŲŲØĸØŽŲØąŲŲŲŲ Ų ŲŲØĨŲŲŲØŗŲŲŲŲ Ų ŲŲØŦŲŲŲŲŲŲŲ Ų ŲŲØ§ŲŲŲØ§ ØšŲŲŲŲ ØŖŲŲŲØŦŲØąŲ ŲŲŲŲØ¨Ų ØąŲØŦŲŲŲ ŲŲØ§ØŲØ¯Ų Ų ŲØ§ ŲŲŲŲØĩŲ Ø°ŲŲŲŲŲ Ų ŲŲŲ Ų ŲŲŲŲŲŲ Ø´ŲŲŲØĻŲØ§ ŲŲØ§ ØšŲØ¨ŲادŲŲ ŲŲŲŲ ØŖŲŲŲŲ ØŖŲŲŲŲŲŲŲŲŲ Ų ŲŲØĸØŽŲØąŲŲŲŲ Ų ŲŲØĨŲŲŲØŗŲŲŲŲ Ų ŲŲØŦŲŲŲŲŲŲŲ Ų ŲŲØ§Ų ŲŲØ§ ŲŲŲ ØĩŲØšŲŲØ¯Ų ŲŲØ§ØŲØ¯Ų ŲŲØŗŲØŖŲŲŲŲŲŲŲ ŲŲØŖŲØšŲØˇŲŲŲØĒŲ ŲŲŲŲŲ ØĨŲŲŲØŗŲاŲŲ Ų ŲØŗŲØŖŲŲŲØĒŲŲŲ Ų ŲØ§ ŲŲŲŲØĩŲ Ø°ŲŲŲŲŲ Ų ŲŲ ŲŲØ§ ØšŲŲŲØ¯ŲŲ ØĨŲŲØ§ŲŲ ŲŲŲ ŲØ§ ŲŲŲŲŲŲØĩŲ Ø§ŲŲŲ ŲØŽŲŲŲØˇŲ ØĨŲØ°Ųا ØŖŲØ¯ŲØŽŲŲŲ Ø§ŲŲØ¨ŲØŲØąŲ ŲŲØ§ ØšŲØ¨ŲادŲŲ ØĨŲŲŲŲŲ ŲØ§ ŲŲŲŲ ØŖŲØšŲŲ ŲØ§ŲŲŲŲŲ Ų ØŖŲØŲØĩŲŲŲŲØ§ ŲŲŲŲŲ Ų ØĢŲŲ ŲŲ ØŖŲŲŲŲŲŲŲŲŲŲ Ų ØĨŲŲŲŲØ§ŲŲØ§ ŲŲŲ ŲŲŲ ŲŲØŦŲØ¯Ų ØŽŲŲŲØąŲا ŲŲŲŲŲŲØŲŲ ŲØ¯Ų اŲŲŲŲŲŲ ŲŲŲ ŲŲŲ ŲŲØŦŲØ¯Ų ØēŲŲŲØąŲ ذŲŲŲŲŲ ŲŲŲØ§Ų ŲŲŲŲŲŲ ŲŲŲŲ ØĨŲŲØ§ŲŲ ŲŲŲŲØŗŲŲŲ ØąŲŲŲØ§ŲŲ Ų ŲØŗŲŲŲŲ Ų
Dari Abu Dzar Al-Ghifari RA, dari Nabi SAW, beliau meriwayatkan dari Allah 'azza wa Jalla, sesungguhnya Allah telah berfirman:
"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.
Wahai hamba-Ku, kalian semua adalah orang yang lapar, kecuali orang yang Aku beri makan, maka hendaklah kalian minta makan kepada-Ku, pasti Aku memberinya. Wahai hamba-Ku, kalian semua asalnya telanjang, kecuali yang telah Aku beri pakaian, maka hendaklah kalian minta pakaian kepada-Ku, pasti Aku memberinya.
Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa pada waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.
Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan dapat membinasakan-Ku dan kalian tak akan dapat memberikan manfaat kepada-Ku. Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertakwa seperti orang yang paling bertakwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.
Wahai hamba-Ku, jika orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin yang tinggal di bumi ini meminta kepada-Ku, lalu Aku memenuhi seluruh permintaan mereka, tidaklah hal itu mengurangi apa yang ada pada-Ku, kecuali sebagaimana sebatang jarum yang dimasukkan ke laut.
Wahai hamba-Ku, sesungguhnya inilah amal perbuatan kalian. Aku catat semuanya untuk kalian, kemudian Kami akan membalasnya.
Maka barang siapa yang mendapatkan kebaikan, hendaklah bersyukur kepada Allah dan barang siapa mendapatkan selain dari itu, maka janganlah sekali-kali ia menyalahkan kecuali dirinya sendiri." (HR. Muslim)
Perbedaan Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi
Dr. Abu Hafizhah Irfan dalam Shahih Hadits Qudsi menjelaskan bahwa perbedaan mendasar antara hadits qudsi dan hadits nabawi terletak pada sumber makna dan lafaznya. Pada hadits qudsi, kandungan maknanya berasal dari Allah SWT, sementara redaksinya disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, sedangkan pada hadits nabawi baik makna maupun lafaz sepenuhnya berasal dari Rasulullah SAW.
Oleh karena itu, hadits nabawi lebih berperan sebagai penjelasan, arahan, dan tuntunan yang disampaikan Rasulullah SAW berdasarkan wahyu yang beliau terima atau pengalaman beliau dalam membimbing umat. Hadits ini banyak membahas aspek praktis dalam kehidupan beragama.
Di sisi lain, hadis qudsi memiliki posisi yang khas dan mulia karena berisi firman Allah, meskipun tidak tergolong sebagai bagian dari Al-Qur'an. Kedudukannya berada di bawah Al-Qur'an, namun tetap memiliki nilai keutamaan tersendiri.
Sementara itu, hadits nabawi umumnya menitikberatkan pada penjabaran syariat, pembentukan akhlak, serta tata cara pelaksanaan ibadah. Melalui hadits nabawi, umat Islam memperoleh panduan praktis dalam menjalankan ajaran agama.
Dalam khazanah keilmuan Islam, baik hadits qudsi maupun hadits nabawi sama-sama menjadi rujukan penting. Wallahu a'lam.
(hnh/kri)












































Komentar Terbanyak
Arab Saudi Resmi Tetapkan Idul Fitri 20 Maret 2026
Apakah Nanti Malam Takbiran? Ini Prediksinya
Hasil Sidang Isbat Lebaran Idul Fitri 2026 Diumumkan Jam Berapa?