Apa Itu Hadits Qudsi? Ini Bedanya dengan Hadits Nabawi

Apa Itu Hadits Qudsi? Ini Bedanya dengan Hadits Nabawi

Hanif Hawari - detikHikmah
Minggu, 18 Jan 2026 15:03 WIB
Apa Itu Hadits Qudsi? Ini Bedanya dengan Hadits Nabawi
Foto: Getty Images/Raul C
Jakarta -

Hadits merupakan salah satu sumber hukum dalam Islam yang memiliki peran penting dalam menjelaskan ajaran dan ketentuan syariat. Sebagai sumber ajaran dari Rasulullah SAW, hadits menjadi acuan utama bagi umat Islam dalam memberikan penilaian terhadap suatu permasalahan.

Di antara berbagai jenis hadits, ada istilah yang dikenal sebagai hadits qudsi. Lantas, apa itu hadits qudsi dan mengapa kedudukannya sering dianggap istimewa dalam khazanah keilmuan Islam?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengertian Hadits Qudsi

Dikutip dari buku Shahih Hadits Qudsi oleh Dr. Abu Hafizhah Irfan, hadits qudsi adalah sabda Rasulullah SAW yang maknanya berasal dari Allah SWT, sementara redaksinya disampaikan dengan lafaz Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut membuat hadits qudsi menempati posisi yang istimewa dalam ajaran Islam.

Tidak seperti Al-Qur'an yang diturunkan sebagai wahyu lafzi melalui perantaraan Malaikat Jibril, hadits qudsi tidak disampaikan Allah SWT kepada Nabi SAW dalam bentuk bacaan yang harus dilafalkan secara harfiah. Kendati demikian, kandungannya tetap berasal langsung dari Allah SWT, sehingga memiliki kedudukan spiritual yang sangat luhur.

ADVERTISEMENT

Secara posisi, hadits qudsi berada di antara Al-Qur'an dan hadits nabawi. Ia bukan bagian dari Al-Qur'an, tetapi juga tidak sepenuhnya serupa dengan hadits nabawi yang lafaz dan maknanya bersumber dari Rasulullah SAW.

Salah satu ciri utama hadits qudsi adalah tidak dibacakan dalam salat sebagaimana ayat-ayat Al-Qur'an. Selain itu, hadits qudsi tidak memiliki status mutawatir seperti Al-Qur'an, sehingga periwayatannya tetap mengikuti kaidah ilmu hadits.

Dalam penyampaiannya, hadits qudsi umumnya diawali dengan ungkapan seperti "Allah berfirman" atau "Rasulullah SAW bersabda atas nama Allah". Ungkapan ini menegaskan bahwa pesan yang disampaikan berasal dari Allah SWT, meskipun disampaikan melalui redaksi Nabi.

Contoh Hadits Qudsi

Beberapa hadits qudsi yang berstatus shahih tercantum dalam berbagai kitab rujukan dan kerap dijadikan pedoman dalam kehidupan umat Islam. Kandungan hadits-hadits tersebut umumnya menyampaikan pesan yang mendalam tentang kedekatan hubungan antara manusia dengan Allah SWT.

Masih dikutip dari buku Shahih Hadits Qudsi, berikut adalah contoh hadits qudsi.

ØšŲŽŲ†Ų’ ØŖŲŽØ¨ŲŲ‰ Ø°ŲŽØąŲŲ‘ Ø§Ų„ØēŲŲŲŽØ§ØąŲŲŠ ØąŲŽØļŲŲŠŲŽ Ø§Ų„Ų„Ų‡Ų ØšŲŽŲ†Ų’Ų‡Ų ØšŲŽŲ†Ų Ø§Ų„Ų†ŲŽŲ‘Ø¨ŲŲŠŲŲ‘ ØĩŲŽŲ„ŲŽŲ‘Ų‰ Ø§Ų„Ų„Ų‡Ų ØšŲŽŲ„ŲŽŲŠŲ’Ų‡Ų ŲˆŲŽØŗŲŽŲ„ŲŽŲ‘Ų…ŲŽŲŲŲŠŲ’Ų…ŲŽØ§ ŲŠŲŽØąŲ’ŲˆŲŲŠŲ’Ų‡Ų ØšŲŽŲ†Ų’ ØąŲŽØ¨ŲŲ‘Ų‡Ų ØšŲŽØ˛ŲŽŲ‘ ŲˆŲŽØŦŲŽŲ„ŲŽŲ‘ ØŖŲŽŲ†ŲŽŲ‘Ų‡Ų Ų‚ŲŽØ§Ų„ŲŽ: ŲŠŲŽØ§ ØšŲØ¨ŲŽØ§Ø¯ŲŲ‰ ØĨؐ؆ؐؑ؉ Ø­ŲŽØąŲŽŲ‘Ų…Ų’ØĒŲ Ø§Ų„Ø¸ŲŲ‘Ų„Ų’Ų…ŲŽ ØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ Ų†ŲŽŲŲ’ØŗŲŲ‰ ŲˆŲŽØŦŲŽØšŲŽŲ„Ų’ØĒŲŲ‡Ų Ø¨ŲŽŲŠŲ’Ų†ŲŽŲƒŲŲ…Ų’ Ų…ŲØ­ŲŽØąŲŽŲ‘Ų…Ų‹Ø§ ŲŲŽŲ„Ø§ŲŽ ØĒŲŽØ¸ŲŽØ§Ų„ŲŽŲ…ŲŲˆØ§ ŲŠŲŽØ§ ØšŲØ¨ŲŽØ§Ø¯ŲŲ‰ ŲƒŲŲ„ŲŲ‘ŲƒŲŲ…Ų’ ØļŲŽØ§Ų„ŲŒŲ‘ ØĨŲŲ„Ø§ŲŽŲ‘ Ų…ŲŽŲ†Ų’ Ų‡ŲŽØ¯ŲŽŲŠŲ’ØĒŲŲ‡Ų ŲŲŽØ§ØŗŲ’ØĒŲŽŲ‡Ų’Ø¯ŲŲˆŲ†ŲŲ‰ ØŖŲŽŲ‡Ų’Ø¯ŲŲƒŲŲ…Ų’ ŲŠŲŽØ§ ØšŲØ¨ŲŽØ§Ø¯ŲŲ‰ ŲƒŲŲ„ŲŲ‘ŲƒŲŲ…Ų’ ØŦŲŽØ§ØĻŲØšŲŒ ØĨŲŲ„Ø§ŲŽŲ‘ Ų…ŲŽŲ†Ų’ ØŖŲŽØˇŲ’ØšŲŽŲ…Ų’ØĒŲŲ‡Ų ŲŲŽØ§ØŗŲ’ØĒŲŽØˇŲ’ØšŲŲ…ŲŲˆŲ†ŲŲ‰ ØŖŲØˇŲ’ØšŲŲ…Ų’ŲƒŲŲ…Ų’ ŲŠŲŽØ§ ØšŲØ¨ŲŽØ§Ø¯ŲŲ‰ ŲƒŲŲ„ŲŲ‘ŲƒŲŲ…Ų’ ØšŲŽØ§ØąŲ ØĨŲŲ„Ø§ŲŽŲ‘ Ų…ŲŽŲ†Ų’ ŲƒŲŽØŗŲŽŲˆŲ’ØĒŲŲ‡Ų ŲŲŽØ§ØŗŲ’ØĒŲŽŲƒŲ’ØŗŲŲˆŲ†ŲŲ‰ ØŖŲŽŲƒŲ’ØŗŲŲƒŲŲ…Ų’ ŲŠŲŽØ§ ØšŲØ¨ŲŽØ§Ø¯ŲŲ‰ ØĨŲŲ†ŲŽŲ‘ŲƒŲŲ…Ų’ ØĒŲØŽŲ’ØˇŲØĻŲŲˆŲ†ŲŽ Ø¨ŲØ§Ų„Ų„ŲŽŲ‘ŲŠŲ’Ų„Ų ŲˆŲŽØ§Ų„Ų†ŲŽŲ‘Ų‡ŲŽØ§ØąŲ ŲˆŲŽØŖŲŽŲ†ŲŽØ§ ØŖŲŽØēŲ’ŲŲØąŲ Ø§Ų„Ø°ŲŲ‘Ų†ŲŲˆØ¨ŲŽ ØŦŲŽŲ…ŲŲŠØšŲ‹Ø§ ŲŲŽØ§ØŗŲ’ØĒŲŽØēŲ’ŲŲØąŲŲˆŲ†ŲŲ‰ ØŖŲŽØēŲ’ŲŲØąŲ’ Ų„ŲŽŲƒŲŲ…Ų’ ŲŠŲŽØ§ ØšŲØ¨ŲŽØ§Ø¯ŲŲ‰ ØĨŲŲ†ŲŽŲ‘ŲƒŲŲ…Ų’ Ų„ŲŽŲ†Ų’ ØĒŲŽØ¨Ų’Ų„ŲØēŲŲˆØ§ ØļŲŽØąŲŲ‘Ų‰ ŲŲŽØĒŲŽØļŲØąŲŲ‘ŲˆŲ†ŲŲ‰ ŲˆŲŽŲ„ŲŽŲ†Ų’ ØĒŲŽØ¨Ų’Ų„ŲØēŲŲˆØ§ Ų†ŲŽŲŲ’ØšŲŲ‰ ŲŲŽØĒŲŽŲ†Ų’ŲŲŽØšŲŲˆŲ†ŲŲ‰ ŲŠŲŽØ§ ØšŲØ¨ŲŽØ§Ø¯ŲŲ‰ Ų„ŲŽŲˆŲ’ ØŖŲŽŲ†ŲŽŲ‘ ØŖŲŽŲˆŲŽŲ‘Ų„ŲŽŲƒŲŲ…Ų’ ŲˆŲŽØĸØŽŲØąŲŽŲƒŲŲ…Ų’ ŲˆŲŽØĨŲŲ†Ų’ØŗŲŽŲƒŲŲ…Ų’ ŲˆŲŽØŦŲŲ†ŲŽŲ‘ŲƒŲŲ…Ų’ ŲƒŲŽØ§Ų†ŲŲˆØ§ ØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ ØŖŲŽØĒŲ’Ų‚ŲŽŲ‰ Ų‚ŲŽŲ„Ų’Ø¨Ų ØąŲŽØŦŲŲ„Ų ŲˆŲŽØ§Ø­ŲØ¯Ų Ų…ŲŲ†Ų’ŲƒŲŲ…Ų’ Ų…ŲŽØ§ Ø˛ŲŽØ§Ø¯ŲŽ Ø°ŲŽŲ„ŲŲƒŲŽ ؁ؐ؉ Ų…ŲŲ„Ų’ŲƒŲŲ‰ Ø´ŲŽŲŠŲ’ØĻŲ‹Ø§ ŲŠŲŽØ§ ØšŲØ¨ŲŽØ§Ø¯ŲŲ‰ Ų„ŲŽŲˆŲ’ ØŖŲŽŲ†ŲŽŲ‘ ØŖŲŽŲˆŲŽŲ‘Ų„ŲŽŲƒŲŲ…Ų’ ŲˆŲŽØĸØŽŲØąŲŽŲƒŲŲ…Ų’ ŲˆŲŽØĨŲŲ†Ų’ØŗŲŽŲƒŲŲ…Ų’ ŲˆŲŽØŦŲŲ†ŲŽŲ‘ŲƒŲŲ…Ų’ ŲƒŲŽØ§Ų†ŲŲˆØ§ ØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ ØŖŲŽŲŲ’ØŦŲŽØąŲ Ų‚ŲŽŲ„Ų’Ø¨Ų ØąŲŽØŦŲŲ„Ų ŲˆŲŽØ§Ø­ŲØ¯Ų Ų…ŲŽØ§ Ų†ŲŽŲ‚ŲŽØĩŲŽ Ø°ŲŽŲ„ŲŲƒŲŽ ؅ؐ؆ؒ Ų…ŲŲ„Ų’ŲƒŲŲ‰ Ø´ŲŽŲŠŲ’ØĻŲ‹Ø§ ŲŠŲŽØ§ ØšŲØ¨ŲŽØ§Ø¯ŲŲ‰ Ų„ŲŽŲˆŲ’ ØŖŲŽŲ†ŲŽŲ‘ ØŖŲŽŲˆŲŽŲ‘Ų„ŲŽŲƒŲŲ…Ų’ ŲˆŲŽØĸØŽŲØąŲŽŲƒŲŲ…Ų’ ŲˆŲŽØĨŲŲ†Ų’ØŗŲŽŲƒŲŲ…Ų’ ŲˆŲŽØŦŲŲ†ŲŽŲ‘ŲƒŲŲ…Ų’ Ų‚ŲŽØ§Ų…ŲŲˆØ§ ؁ؐ؉ ØĩŲŽØšŲŲŠØ¯Ų ŲˆŲŽØ§Ø­ŲØ¯Ų ŲŲŽØŗŲŽØŖŲŽŲ„ŲŲˆŲ†ŲŲ‰ ŲŲŽØŖŲŽØšŲ’ØˇŲŽŲŠŲ’ØĒŲ ŲƒŲŲ„ŲŽŲ‘ ØĨŲŲ†Ų’ØŗŲŽØ§Ų†Ų Ų…ŲŽØŗŲ’ØŖŲŽŲ„ŲŽØĒŲŽŲ‡Ų Ų…ŲŽØ§ Ų†ŲŽŲ‚ŲŽØĩŲŽ Ø°ŲŽŲ„ŲŲƒŲŽ Ų…ŲŲ…ŲŽŲ‘Ø§ ØšŲŲ†Ų’Ø¯ŲŲ‰ ØĨŲŲ„Ø§ŲŽŲ‘ ŲƒŲŽŲ…ŲŽØ§ ŲŠŲŽŲ†Ų’Ų‚ŲØĩŲ Ø§Ų„Ų’Ų…ŲØŽŲ’ŲŠŲŽØˇŲ ØĨŲØ°ŲŽØ§ ØŖŲØ¯Ų’ØŽŲŲ„ŲŽ Ø§Ų„Ų’Ø¨ŲŽØ­Ų’ØąŲŽ ŲŠŲŽØ§ ØšŲØ¨ŲŽØ§Ø¯ŲŲ‰ ØĨŲŲ†ŲŽŲ‘Ų…ŲŽØ§ Ų‡ŲŲ‰ŲŽ ØŖŲŽØšŲ’Ų…ŲŽØ§Ų„ŲŲƒŲŲ…Ų’ ØŖŲØ­Ų’ØĩŲŲŠŲ‡ŲŽØ§ Ų„ŲŽŲƒŲŲ…Ų’ ØĢŲŲ…ŲŽŲ‘ ØŖŲŲˆŲŽŲŲŲ‘ŲŠŲƒŲŲ…Ų’ ØĨŲŲŠŲŽŲ‘Ø§Ų‡ŲŽØ§ ŲŲŽŲ…ŲŽŲ†Ų’ ŲˆŲŽØŦŲŽØ¯ŲŽ ØŽŲŽŲŠŲ’ØąŲ‹Ø§ ŲŲŽŲ„Ų’ŲŠŲŽØ­Ų’Ų…ŲŽØ¯Ų Ø§Ų„Ų„ŲŽŲ‘Ų‡ŲŽ ŲˆŲŽŲ…ŲŽŲ†Ų’ ŲˆŲŽØŦŲŽØ¯ŲŽ ØēŲŽŲŠŲ’ØąŲŽ Ø°ŲŽŲ„ŲŲƒŲŽ ŲŲŽŲ„Ø§ŲŽ ŲŠŲŽŲ„ŲŲˆŲ…ŲŽŲ†ŲŽŲ‘ ØĨŲŲ„Ø§ŲŽŲ‘ Ų†ŲŽŲŲ’ØŗŲŽŲ‡Ų ØąŲŽŲˆŲŽØ§Ų‡Ų Ų…ŲØŗŲ’Ų„ŲŲ…ŲŒ

Dari Abu Dzar Al-Ghifari RA, dari Nabi SAW, beliau meriwayatkan dari Allah 'azza wa Jalla, sesungguhnya Allah telah berfirman:

"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.

Wahai hamba-Ku, kalian semua adalah orang yang lapar, kecuali orang yang Aku beri makan, maka hendaklah kalian minta makan kepada-Ku, pasti Aku memberinya. Wahai hamba-Ku, kalian semua asalnya telanjang, kecuali yang telah Aku beri pakaian, maka hendaklah kalian minta pakaian kepada-Ku, pasti Aku memberinya.

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa pada waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan dapat membinasakan-Ku dan kalian tak akan dapat memberikan manfaat kepada-Ku. Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertakwa seperti orang yang paling bertakwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.

Wahai hamba-Ku, jika orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin yang tinggal di bumi ini meminta kepada-Ku, lalu Aku memenuhi seluruh permintaan mereka, tidaklah hal itu mengurangi apa yang ada pada-Ku, kecuali sebagaimana sebatang jarum yang dimasukkan ke laut.

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya inilah amal perbuatan kalian. Aku catat semuanya untuk kalian, kemudian Kami akan membalasnya.

Maka barang siapa yang mendapatkan kebaikan, hendaklah bersyukur kepada Allah dan barang siapa mendapatkan selain dari itu, maka janganlah sekali-kali ia menyalahkan kecuali dirinya sendiri." (HR. Muslim)

Perbedaan Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi

Dr. Abu Hafizhah Irfan dalam Shahih Hadits Qudsi menjelaskan bahwa perbedaan mendasar antara hadits qudsi dan hadits nabawi terletak pada sumber makna dan lafaznya. Pada hadits qudsi, kandungan maknanya berasal dari Allah SWT, sementara redaksinya disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, sedangkan pada hadits nabawi baik makna maupun lafaz sepenuhnya berasal dari Rasulullah SAW.

Oleh karena itu, hadits nabawi lebih berperan sebagai penjelasan, arahan, dan tuntunan yang disampaikan Rasulullah SAW berdasarkan wahyu yang beliau terima atau pengalaman beliau dalam membimbing umat. Hadits ini banyak membahas aspek praktis dalam kehidupan beragama.

Di sisi lain, hadis qudsi memiliki posisi yang khas dan mulia karena berisi firman Allah, meskipun tidak tergolong sebagai bagian dari Al-Qur'an. Kedudukannya berada di bawah Al-Qur'an, namun tetap memiliki nilai keutamaan tersendiri.

Sementara itu, hadits nabawi umumnya menitikberatkan pada penjabaran syariat, pembentukan akhlak, serta tata cara pelaksanaan ibadah. Melalui hadits nabawi, umat Islam memperoleh panduan praktis dalam menjalankan ajaran agama.

Dalam khazanah keilmuan Islam, baik hadits qudsi maupun hadits nabawi sama-sama menjadi rujukan penting. Wallahu a'lam.




(hnh/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads