Isra Mi'raj adalah salah satu peristiwa paling penting dalam Islam. Dalam kejadian ini, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan kemudian naik ke langit ketujuh dalam satu malam.
Perjalanan luar biasa ini merupakan mukjizat Nabi SAW dan setiap umat Islam wajib meyakini peristiwa ini sebagai bukti kebesaran Allah SWT.
Lalu, apa sebenarnya arti Isra Mi'raj? Simak penjelasan lengkapnya, beserta dalil, tujuan, waktu dan hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa mulia ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Arti Kata Isra dan Mi'raj?
Isra Mi'raj adalah rangkaian dua peristiwa besar yang dialami Nabi Muhammad SAW atas kehendak Allah SWT. Mengutip buku Kisah Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW oleh Syofyan Hadi, istilah Isra berarti perjalanan malam, sedangkan Mi'raj berarti anak tangga yang digunakan untuk naik.
Artinya, Isra Miraj adalah perjalanan malam Nabi dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjid Al-Aqsa di Palestina dan diangkat naik dari Masjid Al-Aqsa menembus lapisan-lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT.
Sepanjang perjalanan, Nabi Muhammad SAW menyaksikan berbagai tanda kebesaran Allah SWT dan bukti kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya yang terbaik. Dalam peristiwa Mi'raj, Allah SWT juga menetapkan kewajiban sholat lima waktu, yang menjadi ibadah wajib bagi umat Islam.
Isra dan Mi'raj tidak bisa dipisahkan sebagai sebagai dua peristiwa yang berdiri sendiri. Dikutip dari buku Membangun Surga karya Achmad Chodjim, Isra berfungsi sebagai tahap awal yang mengantarkan Rasulullah SAW menuju Mi'raj, yaitu perjalanan agung yang menjadi mukjizat Nabi SAW.
Menurut buku 99 Kisah Menakjubkan dalam Al-Qur'an karya Ridwan Abqary, meski jarak antara Masjidil Haram dan Masjid Al-Aqsa sangat jauh, Nabi SAW mampu menempuhnya dalam waktu singkat. Hal ini karena beliau melakukan perjalanan bersama Malaikat Jibril menaiki Buraq, makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki kecepatan luar biasa.
Buraq digambarkan sebagai makhluk bercahaya yang bergerak secepat kilat, sehingga perjalanan ini berada di luar kemampuan manusia biasa.
Dalil Isra Mi'raj dalam Al-Qur'an
Peristiwa Isra Mi'raj dijelaskan dalam beberapa ayat Al-Qur'an. Berikut adalah beberapa surahnya:
1.Surah Al Isra Ayat 1
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Subḥānal-lażī asrā bi'abdihī lailam minal-masjidil ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣal-lażī bāraknā ḥaulahū linuriyahū min āyātinā, innahū huwas-samī'ul-baṣīr(u).
Artinya: "Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Menurut Tafsir Kemenag RI, Surah Al-Isra ayat 1 diawali dengan firman subhana untuk menegaskan kesucian dan kebesaran Allah SWT. Ungkapan ini menunjukkan kekuasaan-Nya yang memperjalankan hamba-Nya dalam perjalanan malam yang cepat, yaitu Isra Mi'raj yang dialami Nabi Muhammad SAW.
Kata asra' menjelaskan bahwa perjalanan Nabi terjadi di malam hari, karena dalam bahasa Arab artinya "perjalanan malam." Penyebutan lailan menekankan bahwa peristiwa itu berlangsung dalam waktu singkat dan benar-benar terjadi malam hari.
Allah memilih malam hari karena saat itulah waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan beribadah dengan khusyuk.
Sementara kata 'abdihi (hamba-Nya) merujuk pada Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir, yang diperintahkan melakukan perjalanan malam sebagai bentuk penghormatan.
Meskipun ayat ini tidak menyebutkan secara pasti waktu keberangkatan atau kepulangan Nabi SAW, yang dijelaskan adalah perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsa.
2. Surah An-Najm Ayat 13
وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ
Wa laqad ra'āhu nazlatan ukhrā.
Artinya: "Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain."'
Masih menurut Tafsir Kemenag RI, ayat ini menegaskan bahwa Rasulullah SAW melihat Malaikat Jibril dalam rupa aslinya ketika Mi'raj ke Sidratul Muntaha.
3. Surah An-Najm Ayat 14
عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى
'Inda sidratil-muntahā.
Artinya: "(yaitu ketika) di Sidratul Muntaha."
4. Surah An-Najm Ayat 15
عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ
'Indahā jannatul-ma'wā.
Artinya: "Di dekatnya ada surga tempat tinggal."
Selanjutnya, dalam Surah An-Najm ayat 15, Allah SWT menjelaskan bahwa surga berada dekat Sidratul Muntaha. Tempat ini khusus disediakan bagi orang-orang yang bertakwa dan bagi mereka yang gugur sebagai syuhada.
5. Surah An-Najm Ayat 16
اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ
Iż yagsyas-sidrata mā yagsyā.
Artinya: (Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya.
Menurut Tafsir Kemenag RI, pada Surah An-Najm ayat 16, Nabi Muhammad SAW melihat Jibril di Sidratul Muntaha yang tertutup oleh cahaya indah dan malaikat, sebagai tanda kebesaran Allah SWT.
Meski begitu, Al-Qur'an tidak menjelaskan secara rinci, dan penjelasan ini sudah cukup tanpa menambah atau mengurangi. Jika memang perlu dijelaskan lebih detail, Allah SWT pasti menurunkannya.
6. Surah An-Najm Ayat 17
مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى
Mā zāgal-baṣaru wa mā ṭagā.
Artinya: "Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya)."
Pada Surah An-Najm ayat 17, Allah SWT menjelaskan bahwa ketika Nabi SAW melihat Jibril di Sidratul Muntaha, beliau tidak berpaling dari semua keajaiban yang ada di sana. Hal ini sesuai dengan izin Allah, sehingga apa yang dilihat Nabi SAW tidak melebihi batas yang sudah diizinkan.
7. Surah An-Najm Ayat 18
لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى
Laqad ra'ā min āyāti rabbihil-kubrā.
Artinya: "Sungguh, dia benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar."
Ayat terakhir tentang Isra Mi'raj menjelaskan bahwa dengan melihat Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad SAW menyaksikan berbagai tanda kebesaran Allah SWT secara langsung.
Apa Tujuan Isra Mi'raj?
Isra Mi'raj bukan sekadar perjalanan fisik Nabi Muhammad SAW, tetapi juga mukjizat yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Mengutip buku 12 Bulan Mulia: Amalan Sepanjang Tahun karya Abdurrahman Ahmad As, melalui peristiwa ini, Allah SWT ingin:
1.Memperlihatkan kekuasaan dan kemulian-Nya yang tidak terbatas.
2. Memuliakan Nabi Muhammad SAW sebagai kekasih Allah dan pembimbing umat manusia.
3. Mempersiapkan Rasulullah SAW untuk menuntun manusia menuju jalan yang diridhai Allah dan keselamatan di dunia serta akhirat.
Selain itu, menurut Syofyan Hadi dalam buku Kisah Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW, tujuan Isra Mi'raj lainnya adalah untuk menurunkan perintah sholat fardhu lima waktu.
Lalu, Allah SWT juga ingin menghibur Nabi Muhammad SAW, yang tengah berduka karena ditinggal dua orang yang sangat dicintainya, yaitu Khadijah RA, istrinya, dan pamannya Abu Thalib, yang selalu melindungi dan membela beliau sejak usia 8 tahun.
Kapan Waktu Terjadinya Isra Mi'raj?
Mengutip buku sebelumya, yaitu Kisah Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW, peristiwa Isra Mi'raj terjadi pada malam Senin, 27 Rajab, tahun kesepuluh kerasulan Nabi Muhammad SAW. Tahun itu dikenal sebagai 'Am al-Huzni' atau tahun duka, karena Nabi SAW berduka atas wafatnya dua sosok yang sangat dicintainya, Khadijah RA dan pamannya Abu Thalib.
Setelah wafatnya Abu Thalib, Nabi SAW sering mendapat pengawalan dari pamannya Hamzah dan Ja'far, karena meningkatnya intimidasi dari kaum Quraisy. Sementara itu, setelah ditinggal Khadijah RA, beliau sering tidur di Masjidil Haram untuk menenangkan hati.
Dari sinilah perjalanan Isra Mi'raj dimulai, dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, kemudian naik ke langit ketujuh. Peristiwa ini memberi pelajaran penting bagi umat Islam bahwa ketika ditimpa kesulitan atau kesedihan, mendekatlah kepada rumah Allah SWT atau masjid, karena di sanalah seorang hamba bisa menemukan ketenangan dan perlindungan.
Hikmah yang Bisa Dipetik dari Isra Mi'raj
Peristiwa Isra Mi'raj mengandung banyak hikmah bagi umat Islam. Dikutip dari Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Ibtidaiyah Kelas IV karya Yusak Burhanudin dan Ahmad Fida', beberapa di antaranya adalah:
1. Perintah Mengerjakan Sholat Lima Waktu
Isra Mi'raj menjadi momen ditetapkannya salat lima waktu, yang menjadi tiang agama bagi setiap Muslim.
2. Penghibur Nabi Muhammad SAW
Perjalanan ini terjadi saat Rasulullah SAW berduka karena ditinggal orang-orang tercinta. Allah SWT mengutus Malaikat Jibril menemani beliau, dan yang paling membahagiakan adalah kesempatan menghadap Allah SWT.
3. Memuliakan Nabi Muhammad SAW
Isra Mi'raj hanya dialami oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai bentuk penghormatan dan kemuliaan. Dalam perjalanan, beliau diperlihatkan balasan bagi yang melanggar perintah Allah, wajah asli Malaikat Jibril, dan kesempatan menghadap langsung Allah SWT.
4. Sebagai Ujian Keimanan
Peristiwa ini menunjukkan kekuasaan dan keagungan Allah SWT. Isra Mi'raj menguji iman umat Islam untuk meyakini kebesaran dan kuasa Allah SWT.
Baca juga: 3 Amalan Malam Isra Miraj 27 Rajab |
(lus/lus)












































Komentar Terbanyak
Eks Menag Kritik Rencana War Tiket Haji Kemenhaj
Kemenhaj Wacanakan War Tiket Jadi Mekanisme Naik Haji Tanpa Antre
Prabowo Ingin Hapus Antrean Haji, Kemenhaj Kaji Sistem "War Ticket"