Menag Hadiri Natal 2025, Sebut Tak Ada Natal Tanpa Doa untuk Sumatera

Menag Hadiri Natal 2025, Sebut Tak Ada Natal Tanpa Doa untuk Sumatera

Hanif Hawari - detikHikmah
Selasa, 30 Des 2025 08:45 WIB
Menag Hadiri Natal 2025, Sebut Tak Ada Natal Tanpa Doa untuk Sumatera
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam acara Natal Kemenag di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Senin (29/12/2025). Foto: Dok. Kemenag
Jakarta -

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan perayaan Natal 2025 harus dimaknai lebih dari sekadar seremoni keagamaan. Di tengah suasana duka akibat bencana di sejumlah wilayah, Natal disebutnya menjadi momentum empati nasional dan penguatan persaudaraan sebangsa.

Hal itu disampaikan Menag saat menghadiri puncak Festival Kasih Nusantara 2025 yang dirangkai dengan perayaan Natal dan Tahun Baru di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin (29/12/2025).

"Tetapi, perlu kita ingatkan bahwa pada suasana Natal dan Tahun Baru kali ini kita lakukan dalam suasana penuh keprihatinan sekaligus untuk membuktikan kepada saudara-saudara kita yang terdampak di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat kalian tidak sendiri, kami semuanya sesama keluarga bangsa ikut bersama kalian," ujar Nasaruddin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Menag, sejak rangkaian Festival Kasih Nusantara digelar di berbagai daerah, doa untuk masyarakat terdampak bencana selalu mengiringi setiap perayaan Natal. Bahkan, solidaritas itu diwujudkan tidak hanya lewat doa, tetapi juga aksi nyata penggalangan bantuan.

"Tiada Natal tanpa doa terhadap Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Ini buktinya bahwa rekan-rekan yang ada di sana tidak sendiri. Bukan saja berdoa tetapi kita juga ikut berbagi," katanya.

ADVERTISEMENT

Menag menyebut perayaan Natal bersama tahun ini juga menjadi momen bersejarah. Untuk pertama kalinya sejak Indonesia merdeka, Natal dirayakan secara bersama oleh umat Kristen dan Katolik dalam satu panggung kebersamaan.

"Karena ini adalah peristiwa yang pertama semenjak Republik Indonesia hadir kita merayakan Natal bersama. Malam ini kita membuat sejarah," ucap Nasaruddin.

Ia menilai kesederhanaan perayaan justru menghadirkan suasana yang lebih syahdu, tanpa mengurangi makna kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama.

"Ternyata insyaallah kesyahduan tidak kalah dengan apa yang kita rencanakan. Tetapi pada saat yang bersamaan kita ikut prihatin terhadap saudara-saudara kita di Sumatera sana," lanjutnya.

Dalam refleksinya, Menag menggambarkan Indonesia sebagai "lukisan Tuhan" yang indah dan harus dijaga bersama.

"Inilah Indonesia, bagaikan sebuah lukisan yang sangat indah. Lukisan yang paling indah Tuhan di muka bumi ini adalah Indonesia. Dan tidak boleh ada siapapun yang merusak lukisan Tuhan itu," tegasnya.

Menag juga menyinggung pentingnya "kurikulum cinta" dan penguatan ekoteologi sebagai arah kebijakan Kementerian Agama ke depan.

"Jika cinta sudah berbicara, hilanglah seluruh penderitaan, hilanglah seluruh perbedaan, hilanglah seluruh konflik. Maka itu Kementerian Agama mulai saat ini kita akan mengukur cinta itu dengan memasukkannya ke dalam kurikulum," ungkapnya.

Menag mengajak seluruh masyarakat menjadikan Natal sebagai energi positif untuk sesama. Ia juga menegaskan perayaan Natal nasional tahun ini akan digelar secara sederhana, dengan sebagian besar dana dialihkan untuk membantu korban bencana.

"Pada Natal kali ini Saya mengimbau selaku pemerintah Dan juga selaku menteri agama Mari kita mengambil hikmat Natal ini adalah untuk mencerahkan. Natal ini untuk memberikan energi positif kepada siapapun yang membutuhkan. Maka tugas kita adalah jadilah manusia seutuhnya. Semakin banyak kita bermanfaat kepada sesama maka semakin utuh kita menjadi manusia sejati," beber Menag.

"Tidak ada kita berfoya-foya dan berglamoria di tengah penderitaan saudaranya sendiri. Inilah hakikat Natal tahun ini," pungkasnya.




(hnh/inf)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads