Calon petugas haji 2026 dibekali Tactical Floor Game (TFG) sebagai metode simulasi untuk mematangkan pelaksanaan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Melalui simulasi ini, para petugas mempelajari alur pergerakan jemaah, penempatan pos layanan, hingga potensi risiko yang bisa muncul di lapangan, demi memastikan pelayanan berjalan aman, tertib, dan efektif.
Pembekalan tersebut disampaikan oleh Letkol Inf Surnadi, pemateri Tactical Floor Game Daerah Kerja (Daker) Bandara. Ia menjelaskan bahwa TFG merupakan bekal strategis yang telah diterapkan sejak 2024 dan terus dilanjutkan hingga penyelenggaraan haji 2026.
Sebagai informasi, Tactical Floor Game adalah metode simulasi taktis yang menggunakan peta dan model medan untuk memvisualisasikan kondisi lapangan. Melalui pendekatan ini, petugas dapat memahami alur pergerakan, penempatan personel, serta potensi risiko sejak dini sebelum terjun langsung bertugas di Tanah Suci.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terkait materi yang saya sampaikan tentang TFG dan taktik pergerakan, ini sangat bermanfaat bagi para petugas haji," ujar Surnadi usai memberikan materi di Aula Gedung Serbaguna Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur pada Sabtu (24/1).
Menurutnya, manfaat TFG akan dirasakan secara nyata saat petugas menjalankan tugas, baik di Daker Bandara, Madinah, Makkah, maupun saat puncak haji di Armuzna. Ia menegaskan, tujuan utama TFG adalah memastikan setiap petugas memahami posisi dan peran masing-masing sehingga pelayanan kepada jemaah dapat berjalan optimal dan jemaah merasa aman serta terlindungi.
"TFG ini menjadi gambaran awal bagi para petugas dalam memahami tugas-tugas yang akan dihadapi ke depan," tambahnya.
Dalam simulasi tersebut, petugas juga mempelajari mekanisme pergerakan jemaah dan petugas, termasuk pengaturan arus di kawasan Armuzna yang dikenal sangat padat. Surnadi menekankan bahwa kemampuan mengelola waktu menjadi kunci utama keberhasilan pelaksanaan tugas pada fase puncak haji.
"Poin terpenting bagi petugas haji saat kegiatan Armuzna adalah kemampuan mengatur waktu," tegasnya.
Seluruh pergerakan jemaah, mulai dari keberangkatan dari Makkah menuju Arafah hingga kembali ke Makkah untuk melaksanakan thawaf ifadah, telah dirancang secara matang. Penempatan petugas pun diatur secara maksimal agar tidak terjadi tumpang tindih tugas, khususnya di wilayah Mina.
(lus/lus)












































Komentar Terbanyak
Pengiriman 8.000 TNI ke Gaza Dinilai Berisiko, MUI Sampaikan Hal Ini
Kisah Ulbah bin Zaid, Sang Fakir yang Sedekahnya Getarkan Langit
Hukum Mengambil Barang Temuan di Jalan yang Tidak Diketahui Pemiliknya