Doa dan dzikir 10 hari pertama Zulhijah menjadi amalan yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Sebab, sepuluh hari awal bulan Zulhijah termasuk waktu yang dimuliakan dan memiliki banyak keutamaan dalam Islam.
Dalam sejumlah hadits dijelaskan bahwa amal saleh yang dilakukan pada hari-hari tersebut sangat dicintai Allah SWT. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, termasuk membaca doa, takbir, tahmid, tahlil, serta dzikir lainnya selama 10 hari pertama Zulhijah.
Doa dan Dzikir 10 Hari Pertama Bulan Zulhijah
Dalam buku Setetes Embun Hikmah karya Muhammad Arham dijelaskan bahwa doa dan dzikir menjadi salah satu amalan yang dianjurkan saat memasuki bulan Zulhijah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak dzikir, seperti tahlil, tasbih, istigfar, tahmid, takbir, serta memperbanyak doa pada bulan yang penuh keutamaan ini.
Amalan-amalan tersebut tidak hanya dianjurkan selama bulan Zulhijah, tetapi juga baik untuk dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk meningkatkan kedekatan kepada Allah SWT.
Mengutip dari buku Memburu Syurga di Bulan Istimewa karya Miftah Fauzi, salah satu amalan yang sangat dianjurkan bagi umat Muslim pada 10 hari pertama bulan Zulhijah adalah memperbanyak zikir.
Zikir ini dilakukan dengan melantunkan kalimat-kalimat thayyibah (kalimat yang baik), yang meliputi bacaan takbir, tahmid, dan tahlil.
Berikut adalah rincian masing-masing bacaan dzikirnya lengkap dengan tulisan Arab, Latin, dan artinya:
Bacaan Takbir
اَللّٰهُ أَكْبَرُ
Arab-latin: Allāhu akbar
Artinya: Allah Maha Besar.
Bacaan Tahmid
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ
Arab-latin: Alhamdulillāh
Artinya: Segala puji bagi Allah.
Bacaan Tahlil
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
Arab-latin: Lā ilāha illallāh
Artinya: Tiada Tuhan selain Allah.
Membaca Doa Akhir Tahun Hijriah Sebanyak 3x
Dikutip dari buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun oleh Ustadz Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid, salah satu doa yang dapat diamalkan saat memasuki bulan Zulhijah adalah doa akhir tahun. Berikut bacaan doanya:
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِي عَنْهُ فَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلَمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جُرْاءَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ. فَإِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْ لِي وَمَا عَمِلْتُ فِيهَا مِمَّا تَرْضَهُ وَوَعَدْ تَنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَاسْأَلُكَ اللَّهُمَّ يَا كَرِيمُ يَا ذَالْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِي مِنْكَ يَا كَرِيمُ. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Arab-latin: "Wa shallallâhu 'alâ sayyidinâ Muhammadin wa 'alâ âlihi wa shahbihi wa sallam. Allâhumma mâ 'amiltu fî hâdzihis sanati mimmâ nahaitanî 'anhu fa lam atub minhu wa lam tardhahu wa lam tansahu wa halamta 'alayya ba'da qudratika 'alâ 'uqûbatî wa da'autanî ilat taubati minhu ba'da jur'atî 'alâ ma'shiyatika. Fa innî astaghfiruka faghfirlî wa mâ 'amiltu fîhâ mimmâ tardhahu wa wa'adtanî 'alaihits tsawâba fas'alukallâhumma yâ karîmu yâ dzal jalâli wal ikrâmi an tataqabbalahu minnî wa lâ taqtha' rajâ'î minka yâ karîm. Wa shallallâhu 'alâ sayyidinâ Muhammadin wa 'alâ âlihi wa shahbihi wa sallam."
Artinya: "Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya. Ya Allah, segala yang telah aku kerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-Mu, sedang aku belum bertaubat, padahal Engkau tidak melupakannya dan Engkau bersabar (dengan kasih sayang-Mu) kepadaku padahal Engkau berkuasa memberikan siksaan kepadaku, dan Engkau telah menyeru kepadaku untuk bertaubat sesudah aku berani berbuat maksiat kepada-Mu. Maka sesungguhnya aku memohon ampunan-Mu, ampunilah aku. Dan segala apa yang telah aku kerjakan di dalam tahun ini, berupa amal perbuatan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan pahala kepadaku, maka aku memohon kepada-Mu, Ya Allah, Dzat Yang Maha Pemurah, Dzat Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan, agar Engkau menerimanya dariku dan janganlah Engkau memutuskan harapanku kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah. Dan semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan atas junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya."
Amalan 10 Hari Pertama Bulan Zulhijah
1. Puasa di Awal Bulan Zulhijah
Dalam buku Sehat ala Rasulullah karya Muyassaroh dijelaskan bahwa umat Islam dianjurkan melaksanakan puasa sunnah pada sembilan hari pertama bulan Zulhijah.
tersebut berkaitan dengan keutamaan 10 hari awal Zulhijah yang dikenal sebagai waktu mulia untuk memperbanyak amal saleh.
Amalan yang dianjurkan pada hari-hari tersebut tidak terbatas pada sedekah, salat, maupun membaca Al-Qur'an, tetapi juga puasa sunnah.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Abu Dawud dari beberapa istri Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW biasa berpuasa pada sembilan hari pertama Zulhijah, hari Asyura, serta tiga hari di setiap bulan.
Puasa sunnah di awal Zulhijah memiliki keutamaan besar karena termasuk amalan yang dicintai Allah SWT. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan menghidupkan hari-hari tersebut dengan berbagai ibadah dan amal kebaikan.
2. Sedekah
Sedekah merupakan salah satu amalan yang dianjurkan dalam Islam dan dapat dilakukan kapan saja. Namun, keutamaannya menjadi lebih besar apabila dilaksanakan pada waktu-waktu mulia, termasuk selama 10 hari pertama bulan Zulhijah.
Dalam buku Jum'ah Berkah Amalan-Amalan Dahsyat di Hari Jum'ah untuk Kemakmuran dan Keberkahan Hidup karya M. Wildan Auliya dijelaskan bahwa memperbanyak sedekah pada hari-hari istimewa dapat mendatangkan pahala dan keberkahan yang lebih besar.
Anjuran tersebut juga sejalan dengan pendapat Zakariyya Al-Anshari.
وَنَتَأَكَدُ الصَّدَقَةُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، وَالصَّدَقَةُ فِيهِ أَفْضَلُ مِنْهَا فِيمَا يَأْتِي لِخَبَرِ الصَّحِيحَيْنِ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، وَلِأَنَّهُ أَفْضَلُ الشُّهُورِ، وَلِأَنَّ النَّاسَ فِيهِ مَشْغُولُونَ بِالطَّاعَةِ فَلَا يَتَفَرَّغُونَ لِمَكَاسِبِهِمْ فَتَكُونُ الْحَاجَةُ فِيهِ أَشَدَّ، وَفِي سَائِرِ الْأَوْقَاتِ الْفَاضِلَةِ كَعَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ وَأَيَّامِ الْعِيدِ لِفَضِيلَتِهَا
Artinya: "Dan menjadi kukuh anjuran bersedekah di bulan Ramadan. Bersedekah di dalamnya lebih baik daripada waktu-waktu lain yang akan disebutkan, karena hadis Al-Bukhari dan Muslim bahwa kondisi Nabi yang paling dermawan adalah saat bulan Ramadan. Selain itu, Ramadan merupakan bulan paling utama dan manusia disibukkan dengan ketaatan sehingga tidak sempat bekerja seperti biasanya, maka kebutuhan pada bulan tersebut lebih besar. Demikian pula dianjurkan memperbanyak sedekah pada waktu-waktu utama lainnya seperti 10 hari pertama bulan Zulhijah dan hari raya karena hari-hari tersebut memiliki keutamaan."
3. Puasa Arafah
Dalam buku Hidup bersama Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam karya Daeng Naja dijelaskan bahwa puasa Arafah merupakan salah satu ibadah sunnah yang dianjurkan pada bulan Zulhijah. Puasa ini dilaksanakan setiap tanggal 9 Zulhijah atau sehari sebelum Hari Raya Idul Adha.
Diriwayatkan dari Abu Qatadah Al Anshari, Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah. Beliau menjelaskan bahwa puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Muslim.
Meski demikian, puasa Arafah tidak dianjurkan bagi orang yang sedang menunaikan ibadah haji. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas disebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak berpuasa ketika berada di Arafah dan beliau meminum susu yang disuguhkan kepadanya. Riwayat ini dicatat oleh At-Tirmidzi.
4. Haji dan Umrah
Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan bagi umat Islam yang mampu secara fisik maupun finansial. Pada bulan Zulhijah, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Tanah Suci untuk menjalankan rangkaian ibadah haji sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Selain haji, ibadah umrah juga termasuk amalan yang dianjurkan bagi umat Islam yang memiliki kesempatan dan kemampuan untuk melaksanakannya.
5. Berkurban
Hari Raya Idul Adha dikenal pula sebagai hari raya kurban. Pada tanggal 10 Zulhijah, umat Islam dianjurkan menyembelih hewan kurban, seperti kambing, sapi, maupun unta setelah pelaksanaan salat Idul Adha hingga hari-hari tasyrik.
Ibadah kurban menjadi bentuk keteladanan atas keikhlasan Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah SWT. Selain itu, kurban juga menjadi sarana berbagi kepada sesama serta memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.
(inf/inf)












































Komentar Terbanyak
Wamenhaj Dahnil Anzar Nilai Presiden Prabowo Layak Jadi Bapak Haji Indonesia
Mengapa Nabi Isa Disebut Belum Wafat dalam Islam?
Secara Hisab, Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026