Dalam tradisi pesantren di Indonesia, dikenal sebuah pepatah Arab yang sarat makna: "Salaamatul insan fi hifzhil lisan" - keselamatan manusia terletak pada kemampuannya menjaga lisan. Ungkapan singkat ini mengandung pesan mendalam tentang pentingnya ucapan dalam kehidupan manusia. Seseorang tidak hanya dinilai dari penampilan atau kedudukannya, tetapi juga dari tutur katanya. Dari lisanlah kehormatan seseorang dapat terangkat, dan dari lisan pula kehancuran bisa bermula.
Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi arus informasi dan komunikasi tanpa batas, nasihat tentang menjaga lisan justru semakin relevan. Ucapan hari ini tidak hanya terjadi dalam percakapan langsung, tetapi juga melalui media sosial, komentar digital, hingga pernyataan publik yang dapat tersebar dalam hitungan detik. Karena itu, bahasa bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan cermin kepribadian, kualitas moral, bahkan kepemimpinan seseorang.
Pepatah lain yang masyhur menyebutkan, "Jika berbicara itu perak, maka diam itu emas." Nasihat ini mengajarkan bahwa tidak semua hal harus diucapkan. Ada kalanya diam jauh lebih mulia daripada berbicara tanpa manfaat. Sebab, lidah yang kecil dapat memberikan dampak yang sangat besar: ia mampu mendamaikan manusia, tetapi juga dapat memecah belah hubungan, menyalakan permusuhan, bahkan menghancurkan kehormatan seseorang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Berkawan dengan Nafsu |
Dalam Islam, lisan mendapat perhatian yang sangat besar. Rasulullah SAW berkali-kali mengingatkan umatnya tentang bahaya ucapan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Mu'adz bin Jabal, Nabi SAW menjelaskan bahwa salah satu penyebab manusia terjerumus ke dalam neraka adalah hasil dari lisannya sendiri. Ucapan yang sembrono, dusta, fitnah, caci maki, dan perkataan yang melukai orang lain merupakan dosa yang sering dianggap sepele, padahal dampaknya sangat besar.
Karena itu, menjaga lisan bukan sekadar persoalan etika sosial, tetapi juga bagian dari ibadah. Seorang muslim dituntut untuk menimbang setiap ucapan sebelum mengeluarkannya: apakah membawa manfaat atau mudarat, mendatangkan kebaikan atau justru menyakiti orang lain. Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi bentuk pengendalian diri yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
Rasulullah SAW juga bersabda bahwa seorang muslim yang terbaik adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Hadis ini menunjukkan bahwa kualitas seseorang tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah ritual, tetapi juga dari kemampuannya menjaga hubungan sosial melalui ucapan yang baik. Sebab, tidak sedikit orang yang rajin beribadah, namun lisannya justru menyakiti sesama-mudah mencela, merendahkan, mempermalukan, atau menyebarkan kebencian. Padahal Islam mengajarkan kelembutan, penghormatan, dan perkataan yang baik.
Bahasa seorang pemimpin bahkan memiliki pengaruh yang jauh lebih besar. Seorang pemimpin tidak hanya memimpin dengan kebijakan, tetapi juga dengan kata-kata. Ucapannya dapat menenangkan masyarakat, menguatkan harapan, dan menyatukan perbedaan. Sebaliknya, bahasa yang kasar, emosional, penuh ejekan, atau provokatif dapat memicu konflik dan memperkeruh keadaan.
Sejarah menunjukkan bahwa para pemimpin besar selalu menjaga tutur kata mereka. Mereka memahami bahwa ucapan adalah tanggung jawab moral. Kata-kata yang keluar dari seorang pemimpin tidak hanya didengar, tetapi juga ditiru. Karena itu, bahasa seorang pemimpin seharusnya mencerminkan kebijaksanaan, ketenangan, dan penghormatan kepada orang lain, termasuk kepada mereka yang berbeda pandangan.
Di era media sosial, tantangan menjaga lisan semakin berat. Banyak orang merasa bebas berbicara tanpa mempertimbangkan dampaknya. Hinaan, fitnah, ujaran kebencian, dan berita bohong beredar setiap hari. Orang berlomba menjadi yang paling cepat berkomentar, tetapi lupa memastikan kebenaran dan manfaat dari ucapannya. Akibatnya, ruang publik dipenuhi kebisingan yang melelahkan.
Padahal, para ulama terdahulu sangat berhati-hati dalam berbicara. Mereka lebih memilih diam daripada mengucapkan sesuatu yang tidak bermanfaat. Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang terkenal adil dan zuhud, pernah mengatakan bahwa orang yang menyadari ucapannya sebagai bagian dari amalnya akan sedikit berbicara kecuali dalam hal yang berguna. Nasihat ini mengingatkan bahwa setiap ucapan akan dipertanggungjawabkan, bukan sekadar hilang tanpa jejak.
Imam Hasan al-Bashri juga mengingatkan bahwa setiap manusia senantiasa diawasi oleh malaikat pencatat amal. Apa yang diucapkan akan dicatat dan diperhitungkan. Kesadaran semacam ini melahirkan kehati-hatian dalam berbicara. Tidak semua yang diketahui harus disampaikan, dan tidak semua yang dirasakan harus diungkapkan.
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi pendiam tanpa kepedulian sosial. Diam yang dianjurkan adalah diam dari keburukan. Adapun ucapan yang mengandung kebaikan justru sangat dianjurkan. Rasulullah saw menjelaskan bahwa perkataan yang baik dapat menjadi jalan menuju surga. Menyebarkan salam, menghibur orang lain, mendamaikan perselisihan, mengajarkan ilmu, menasihati dengan lembut, dan mengajak kepada kebaikan adalah bagian dari amal saleh melalui lisan.
Karena itu, lisan sejatinya adalah amanah. Ia dapat menjadi sumber pahala yang besar, tetapi juga dapat menjadi sebab penyesalan yang panjang. Banyak persahabatan rusak karena ucapan yang tidak dijaga. Banyak keluarga retak akibat kata-kata yang menyakitkan. Bahkan konflik dan permusuhan sering kali bermula dari bahasa yang kasar dan provokatif.
Di tengah dunia yang semakin mudah tersulut konflik, manusia membutuhkan bahasa yang menenangkan, bukan yang memanaskan. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu berbicara dengan bijak, bukan sekadar lantang bersuara. Sebab, kekuatan sejati seorang pemimpin tidak hanya terletak pada kekuasaan, tetapi juga pada kemampuannya menjaga lisan.
Pada akhirnya, menjaga lisan adalah tanda kedewasaan berpikir dan kematangan iman. Orang yang bijak tidak akan berbicara sebelum menimbang manfaatnya. Ia memahami bahwa satu kalimat dapat mengangkat derajat seseorang, tetapi satu kalimat pula dapat menjatuhkannya. Maka benar apa yang dikatakan para ulama: tidak ada sesuatu di muka bumi yang lebih membutuhkan "penjara panjang" selain lisan manusia.
Nurkholis Ridwan
Penulis adalah Pemerhati Dakwah dan Pemikiran Islam
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi).
(lus/lus)












































Komentar Terbanyak
Anggaran Sewa Laptop & Meja Disebut Terlalu Besar, Kemenag: Ini Jauh Lebih Efisien
Jemaah Haji RI Ditangkap di Madinah Usai Videokan Wanita Tanpa Izin
Kenapa Mayoritas Penduduk Madinah Dulu Beragama Yahudi?