Ketika Nabi Musa As. bermunajat di bukit Tursina, Tuhan menyela. "Musa! Banyak benar ibadahmu. Ibadah manakah yang akan kau persembahkan untuk-KU?" Musa tersungkur. Dia kaget dan kebingungan. Sebab semua ibadah, Dia persembahkan untuk Tuhan semata. Salat, haji, umroh, zakat, kurban dan zikir, semua dia lakukan untuk Tuhan. "Tidak! Semua itu kamu lakukan untukmu sendiri," Tuhan menukas.
Musa menangis. Musa merasa melakukan semua ibadah agar dapat memberi pelayanan kepada Tuhan. Ia memohon Tuhan menunjukkan ibadah apakah yang dapat dia persembahkan kepada Tuhan. Kemudian Penguasa alam semesta mewahyukan kepada Musa, "Temui Aku di tengah hamba-hamba-Ku yang sedang luka hatinya. Yang jiwanya terbelah karena deraan kehidupan-- Abghini 'indal mukassaroti qulubuhum," kata Tuhan.
Sebab, salat khusyu yang memenuhi rukun dan syarat, akan memperoleh pahala dari Tuhan. Dan pahala itu dipersembahkan Tuhan kepada kita. Semua haji, umroh dan zikir, juga sudah ada daftar balasannya, yang Tuhan persiapkan untuk kita. Memang bagus jika kita dapat melakukan itu semua. Lebih-lebih di bulan Ramadan. Semua pahala ibadah dilipatgandakan. Bahkan ibadah sunnah akan memperoleh pahala sebagaimana pahala ibadah fardu. Membaca satu ayat Alquran di bulan Ramadan, dihitung telah mengkhatamkannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konsekuensi Ibadah
Konsekuensi ibadah-ibadah itu akan diberikan Tuhan kepada kita. Itu adalah fasilitas-fasilitas formal yang disiapkan agama agar kita dapat membangun relasi dengan Tuhan. Tapi Tuhan justeru lebih mudah dan sering ditemukan bukan di tempat-tempat sakral nan suci. Tuhan sering bolak-balik menemui hamba-hamba-Nya yang sering kelaparan, yang dirundung dahaga, yang telanjang. Yang berselimut angin dan berbantal debu-debu jalanan.
Di manakah mereka berada? Di manakah orang-orang yang hatinya tercederai dan terluka karena hidupnya belum beruntung itu tinggal? Di manakah Tuhan biasanya sering singgah di kolong langit ini? Dalam konteks tingkat pemenuhan kesejahteraan sosial yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), mereka adalah penghuni desil satu. Desil yang ada di sekitar kita. Bahkan mereka tinggal di sekitar kelopak mata kita, hingga kita sulit melihatnya.
Tuhan tidak bersemayam hanya di rumah ibadah, di masjid dan mushala, gereja, vihara, kelenteng. Tuhan tidak saja muncul di hari-hari yang disucikan dan bulan suci seperti Ramadan. Ramadan hanyalah cara Tuhan mengajarkan manusia agar dapat membangun empati. Ramadan adalah landasan kepedulian. Fondasi tempat mendirikan bangunan hati, jiwa dan mental agar biasa tulus ikhlas berbagi kepada sesama. Ramadan adalah madrasah agar kita suka cita menemui para penghuni desil satu.
Pendadaran
Di ujung ayat puasa Ramadan, Allah SWT mengagendakan "pendadaran" ruhani sekaligus fisik bagi orang-orang beriman. "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa." (Al Baqarah : 183). Tuhan menginginkan para hamba-Nya tidak saja beriman tapi juga mencapai derajat takwa. Untuk sampai pada maqam itu, Tuhan menyediakan cara.
Apa caranya? Yaitu berpuasa di bulan Ramadan. Selain menaikkan derajat ruhani, puasa juga berguna bagi kesehatan fisik. Dengan puasa, kesehatan spiritual mengalami proses rejuvenasi. Proses peremajaan spiritual ini, bisa berawal dari munculnya sifat empati dan simpati atas sekelompok masyarakat yang kurang beruntung. Rejuvenasi fisik, antara lain, bisa terjadi melalui proses detoksifikasi, alias menggelontorkan racun yang sebelas bulan lamanya menumpuk di semua organ tubuh.
Sehat fisik dan ruhani adalah ciri khas dan karakteristik bagi muttaqin--orang yang takwa. Selain menyediakan cara agar para hamba-Nya mampu mencapai derajat takwa dengan puasa di bulan Ramadan, Tuhan juga menyebut target secara presisi mengenai standar takwa. Manusia tidak membuat ukuran sendiri. Sebab, takwa berkonsekuensi pada ampunan Tuhan dan hidup damai di surga.
Jiwa Candra
Seorang mukmin disebut bertakwa, pertama, jika dalam dirinya terdapat jiwa candra, elan yang membuatnya tiada henti berjuang. Ia dengan riang hati menafkahkan sebagian dari harta titipan Tuhan untuk lingkungan sekitar yang membutuhkan. Baginya, berinfak tidak harus menunggu berkecukupan. Ia murah tangan, gemar berbagi dalam keadaan berkelebihan maupun kekurangan. Berbagi adalah panggilan jiwa. Infak adalah cara yang ditunjukkan Allah.
Kedua, seorang mukmin disebut takwa jika mampu menahan amarah meski dia berada dalam situasi yang sangat mungkin untuk marah. Ia pandai mengelola emosinya. Ia adalah pemilik emosi itu dan dialah yang mengendalikannya. Ia menutup celah sekecil apapun sehingga emosi tidak akan menguasai dirinya. Ia hanya akan menggunakan manfaat dari emosi, untuk kasus-kasus khusus dan memang memerlukannya.
Ketiga, karena mampu menguasai diri, maka dia bisa dengan senang hati memberi maaf kepada siapa pun sebelum hal itu diminta darinya. Begitu kuat sifat itu, hingga ia mampu mengukur hal-hal yang mungkin menyimpang dari perilakunya. Karena kesadaran itu muncul secara naluriah, maka ia juga terbiasa memaafkan dirinya. Memaafkan dalam arti bahwa ia sadar bukan sosok sempurna, dan pada suatu saat akan bernasib buruk.
Cepat Sadar
Keempat, jika melakukan kesalahan terhadap lingkungan atau lalim atas dirinya, dia akan segera menyadarinya. Kelemahan itu, telah membuatnya ingat, dan serta merta menyebut nama Allah. Ia mengakui kelemahan diri dan menyadari akan kebesaran Tuhan. Ia tak lebih dari sekadar makhluk kecil yang sering alpa dan jatuh ke jurang kesalahan. Begitu menyadari kekerdilan dirinya serta karena adanya panggilan ke dalam ruang takwa, maka ia akan tersungkur di hadapan Tuhan, lalu memohon ampun atas maksiat.
Kelima, ciri-ciri terakhir orang takwa dalam surah Ali Imron adalah; jika terjatuh dalam kesalahan, maka dia akan berbesar hati mengakuinya dan berlapang dada untuk melepas apapun pilihan sikapnya. Ia tidak akan berada di posisi yang sama, dan akan selalu bersikap terbuka untuk mendapatkan alternatif lain. Baginya, berkeras hati atas pilihan yang salah, hanya akan membuatnya makin jauh dari ajaran Tuhan soal derajat takwa.
Ajaran tentang nilai puasa Ramadan dan karakteristik takwa; adalah salah satu cara belajar peduli kepada masyarakat desil bawah. Ramadan adalah bulan rekonsiliasi diri dengan mereka. Ramadan adalah bulan khidmat; jalan cepat menuju Tuhan. Ramadan adalah bulan berbagi. Dengan berpuasa, berarti berjalan di atas jalan takwa. Takwa adalah pilihan Tuhan bagi manusia agar siap dipanggil untuk "membersamai" Tuhan, dalam mengajak dan memberdayakan hamba-hamba-Nya keluar dari desil-desil terbawah. (*)
Ishaq Zubaedi Raqib
Penulis adalah Staf Khusus Menteri Sosial RI
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya. (Terimakasih - Redaksi)
(erd/erd)












































Komentar Terbanyak
Arab Saudi Resmi Tetapkan Idul Fitri 20 Maret 2026
Apakah Nanti Malam Takbiran? Ini Prediksinya
Hasil Sidang Isbat Lebaran Idul Fitri 2026 Diumumkan Jam Berapa?