Saatnya Berburu Lailatul Qadar

Kolom Hikmah

Saatnya Berburu Lailatul Qadar

Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, MA, Penulis Kolom - detikHikmah
Selasa, 10 Mar 2026 21:09 WIB
Praying muslim and mosque at night sky hilal half moon
Ilustrasi malam Lailatul Qadar (Foto: Getty Images/iStockphoto/oxinoxi)
Jakarta -

Memasuki Al 'Asyru Al Awakhir (10 hari terakhir) Ramadhan, berarti saatnya berburu Lailatul Qadar. Nabi SAW bersabda, "Cari/Burulah dengan sungguh-sungguh Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan!" (HR Bukhari, no.1880, Muslim, no. 1998)

Berarti ini juga pertanda Ramadhan, ibarat kompetisi, sudah memasuki babak final dan akan segera berakhir. Para juara Ramadhan yang berhak disematkan gelar takwa justru akan ditentukan pada sepuluh hari terakhir Ramadhan ini.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, "Wahai hamba-hamba Allah, sungguh bulan Ramadhan ini akan segera pergi dan tidaklah tersisa darinya kecuali sedikit. Maka barang siapa telah mengisinya dengan baik, hendaklah menyempurnakannya. Dan siapa yang belum maksimal mengisinya dengan baik, hendaklah ia mengakhirinya dengan (amal-amal) yang baik." (Lathaaifu'l Ma'arifI/209).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, "Sesungguhnya kuda pacu apabila sudah mendekati garis finis, ia akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk memenangkan lomba. Maka jangan sampai Anda kalah cerdas dari kuda, karena sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya. Jika anda belum menyambut Ramadhan dengan baik, paling tidak Anda dapat melepasnya dengan baik."

Maka, bagi yang ingin meraih sukses dan juara Ramadhan dan memperoleh Lailatul Qadar, tidak ada kata lain selain meningkatkan kesungguhan beribadah dan melipatgandakan dalam memproduksi amal salih di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

ADVERTISEMENT

Strategi Berburu Lailatul Qadar


Untuk berburu Lailatul Qadar, diperlukan taktik dan strategi agar benar-benar dapat meraihnya, di antaranya:

Pertama, mengenal hakikatLailatul Qadar. MaknaAl QadradalahAt Ta'zhim, malam yang penuh keagungan dan keistimewaan sehingga orang yang menghidupkannya memiliki keagungan dan keistimewaan. JugaAt Tadhyiiq, yaitu dirahasiakan mengetahui kepastian waktunya, atau karena bumi disesaki oleh para malaikat. Diatur pada malam itu semua urusan sepanjang masa.

Adapun keutamaan dan keistimewaanLailatul Qadar: malam diturunkannya Al Qur'an; pengagungan Allah terhadapnya dengan firman-Nya; disifati sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan; turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril membawa berkah dan rahmat; penuh keselamatan dan kesejahteraan sehingga setan tidak dapat berbuat keburukan, dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, seperti hidup, mati, rezeki, untung, rugi.

WaktuLailatul Qadardirahasiakan oleh Allah agar para hamba-Nya bersungguh-sungguh untuk mencarinya. Hanya saja Nabi SAW memberitakan bahwa kemungkinan besar hal itu terjadi pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dan lebih besar lagi kemungkinannya di malam-malam ganjil (HR Bukhari no. 1878), dan dari malam-malam ganjil itu, malam kedua puluh tujuh lebih besar lagi kemungkinannya, bahkan Ubay bi Ka'ab sampai bersumpah tentang ini (HR Muslim II/267).

Namun, semua itu tetap bagian dari tafaa'ul(optimisme). Kemudian sebagian ulama menguatkan bahwa hal ini bisa berganti-ganti tiap tahun (LihatAl Majmu'VI/450, Fathu'l Baari IV/266). Bagi Rasulullah, langkah ini ditandai dengan turunnya surat Al Qadr. Melalui surat ini Allah mengenalkan kepada Rasul-NyaLailatul Qadardan keutamaan-keutamaannya. Karenanya, mengenal hakikat Lailatul Qadaradalah sebuah keniscayaan jika kita ingin keluarga kita menjadi peraih 'medali' malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Kedua, menata niat dalam menggapai Lailatul Qadar, yaitu semata-mata karena iman dan mengharap pahala Allah.

Ketiga, melipatgandakan kesungguhan dari malam-malam sebelumnya. Aisyah RA berkata, "Rasulullah SAW bersungguh-sungguh (dalam beribadah) melebihi malam-malam lain (sebelumnya)" HR Muslim.

Keempat, menghidupkan malam-malam itu dengan ibadah. Begitulah yang dilakukan oleh Rasulullah, sebab jika pada 20 hari pertama Ramadhan, beliau masih mencampur salat dan tidur, namun pada 10 hari terakhir Ramadhan beliau menghidupkan mayoritas malamnya dengan ibadah dan menyedikitkan tidur (HR Ahmad).

Kelima, membangunkan keluarga. Rasulullah SAW memuji suami-istri yang selalu bekerja sama dalam taat kepada Allah sebagaimana sabdanya: "Semoga Allah merahmati suami yang bangun malam menunaikan salat (tahajud) dan membangunkan istrinya. Jika ia enggan, dicipratkan air ke wajahnya. Semoga Allah merahmati istri yang bangun malam menunaikan salat dan membangunkan suaminya. Jika ia enggan, dicipratkan air ke wajahnya."

Adalah kebiasaan Rasulullah membangunkan istrinya Aisyah jika beliau selesai tahajud dan sebelum mengerjakan salat witir. Dalam riwayat yang sahih diceritakan bahwa Nabi SAW pada malam-malam sepuluh hari terakhir Ramadhan membangunkan keluarganya, seperti suatu malam beliau pernah mengetuk pintu rumah putrinya Fathimah dan suaminya Ali bin Abu Thalib sambil mengatakan: "Tidakkah kalian berdua bangun untuk mengerjakan salat?"

Hal ini juga dilakukan oleh para sahabat. Disebutkan dalam kitabAl Muwaththa'karya Imam Malik, bahwasanya Umar bin Khaththab RA mengerjakan salat malam (tahajud), begitu memasuki separuh malam baru beliau membangunkan keluarganya untuk menunaikan salat dengan mengatakan kepada mereka: "Salat! Salat!" dan membaca ayat 132 dalam QS Thaahaa yang artinya: "Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya."

Keenam, menjauhi isteri agar dapat konsentrasi beribadah. Hal ini dilakukan oleh Rasulullah seperti diceritakan oleh Aisyah: "Dahulu Rasululullahshallallahi 'alaihi wasallamapabila memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, menghidupkan malam (dengan ibadah), membangunkan keluarganya dan mengikatkan dengan erat sarungnya."

Ketujuh, mengakhirkan makan sampai sahur, agar tubuh tidak terbebnani karena terlalu kenyang.

Kedelapan, mandi di antara Maghrib dan Isyak, agar tubuh segar dan kondusif diajak begadang beribadah.

Kesembilan, beri'tikaf di masjid.

Aisyah RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW selalu i'tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan (HR Bukhari, no. 1885, Muslim, no. 2004 dan 2005), bahkan pada tahun beliau wafat, beliau SAW i'tikaf hingga 20 hari (HR Bukhari).

Kesepuluh: berdoa. Sebagai hamba Allah kita hanya berkewajiban berusaha, akhirnya hanya Allah-lah yang menentukan. Namun, Allah menjanjikan bahwa hidayah,taufiqdan pertolongan-Nya akan diberikan kepada para hamba-Nya yang bersungguh-sungguh (QS Al 'Ankabuut: 69). Karena itu, selain dengan usaha-usaha lahir di atas, kita juga harus melakukan usaha batin, di antaranya dengan berdoa kepada Allah agar kita termasuk orang-orang yang diberikantaufiquntuk menggapai Lailatul Qadar.

Dan selama menghidupkan malam-malam itu dengan salat, tilawah Alquran, zikir, dan sedekah kita juga banyak memperbanyak doa. Di antara doa yang selalu kita baca di malam-malam itu adalah,
Ø§Ų„Ų„Ų‡Ų… ØĨŲ†Ųƒ ØšŲŲˆ ØĒحب Ø§Ų„ØšŲŲˆ ŲØ§ØšŲ ØšŲ†ŲŠ

Allaahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'annii (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, maka maafkanlah aku).

Bekasi, 20 Ramadhan 1447 H / 10 Maret 2027 M

Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, MA

Penulis adalah Dosen Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Pimpinan Ponpes YAPIDH Bekasi

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)




(erd/erd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads