Dari Tanah Ibrahim ke Selat Hormuz: Konflik, Iman, dan Energi

Kolom Hikmah

Dari Tanah Ibrahim ke Selat Hormuz: Konflik, Iman, dan Energi

Dr. Anggawira, MM., MH., Penulis Kolom - detikHikmah
Selasa, 03 Mar 2026 14:43 WIB
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Hipmi Anggawira
Foto: detikcom/ Shafira Cendra Arini
Jakarta -

Eskalasi konflik Iran-Israel dalam beberapa waktu terakhir kembali memunculkan narasi lama yang kerap disederhanakan sebagai "perang agama". Padahal, jika ditarik ke akar sejarahnya, konflik di kawasan Timur Tengah justru melibatkan umat-umat yang berasal dari sumber teologis yang sama: tradisi tauhid Nabi Ibrahim AS.

Islam, Yahudi, dan Kristen dikenal sebagai Abrahamic Religions. Ketiganya berakar pada satu mata rantai kenabian yang sama. Dari jalur Ismail lahir bangsa Arab hingga sampai kepada Nabi Muhammad īˇē. Dari jalur Ishaq lahir Bani Israil, yang kemudian melahirkan nabi-nabi besar seperti Musa AS, Daud AS, hingga Isa AS.

Kitab-kitab suci yang menjadi pedoman ketiga agama tersebut pun membentuk kesinambungan wahyu: Shuhuf Ibrahim, Taurat, Zabur, Injil, hingga Al-Qur'an. Semua membawa pesan yang pada intinya identik-tauhid, keadilan, larangan menindas, serta tanggung jawab moral manusia di hadapan Tuhan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun konflik yang terjadi hari ini bukanlah konflik kitab suci, melainkan konflik tafsir yang ditarik ke dalam kepentingan politik, teritorial, dan ekonomi.

Sejak Deklarasi Balfour (1917), mandat Inggris di Palestina, hingga berdirinya negara Israel pada 1948, konflik di kawasan tersebut telah mengalami transformasi mendasar: dari perbedaan iman menjadi sengketa tanah, identitas, dan kedaulatan. Agama tidak lagi berdiri sebagai sumber nilai moral, tetapi sering kali dijadikan instrumen legitimasi dalam perebutan ruang hidup.

ADVERTISEMENT

Dalam konteks kekinian, konflik ini bahkan telah meluas ke dimensi yang jauh lebih strategis: geopolitik energi global.

Kawasan Teluk-yang melibatkan Iran-menjadi titik krusial dalam sistem energi dunia. Sekitar 20% pasokan minyak global atau hampir 17-18 juta barel per hari diperdagangkan melalui Selat Hormuz. Jalur ini juga menjadi rute utama ekspor LNG dari Qatar yang memasok sekitar 20% perdagangan LNG dunia.

Dengan kata lain, setiap eskalasi militer yang melibatkan Iran secara langsung meningkatkan premi asuransi pelayaran, biaya logistik global, volatilitas harga minyak, serta risiko gangguan rantai pasok energi dunia.

Bagi Indonesia, sebagai negara net importer minyak dengan konsumsi BBM di atas 1,5 juta barel per hari, gejolak harga energi global akan sangat terasa. Kenaikan harga minyak mentah dunia sebesar US$10 per barel saja berpotensi menambah beban subsidi energi dalam APBN hingga puluhan triliun rupiah, sekaligus meningkatkan tekanan inflasi domestik melalui imported inflation.

Lebih jauh lagi, sekitar 60% bahan baku petrokimia nasional masih berbasis impor. LPG rumah tangga pun masih sangat bergantung pada impor. Sektor logistik dan aviasi juga sensitif terhadap harga solar dan avtur. Gangguan distribusi energi global akibat konflik di Timur Tengah akan merambat pada kenaikan biaya produksi industri dan tekanan harga barang konsumsi di dalam negeri.

***

Akankah Konflik Ini Mereda?

Dalam jangka pendek, potensi de-eskalasi tetap ada, terutama bila tekanan diplomatik global meningkat. Namun secara struktural, konflik ini memiliki tiga faktor yang membuatnya sulit mereda cepat:
1. Faktor ideologis dan identitas nasional
2. Kepentingan geopolitik regional (Iran vs blok Barat)
3. Kepentingan energi global

Selama kawasan Teluk tetap menjadi pusat produksi energi dunia, stabilitas politik di Timur Tengah akan selalu menjadi variabel strategis dalam ekonomi global.

Artinya, bahkan jika konflik militer mereda, ketegangan geopolitik akan tetap menjadi risiko laten terhadap stabilitas energi dunia.

***

Apa yang Harus Dilakukan Indonesia?

Dalam situasi ini, pemerintah dan pelaku usaha perlu mengantisipasi dengan langkah konkret:
â€ĸ Diversifikasi sumber impor energi untuk mengurangi ketergantungan pada kawasan konflik
â€ĸ Penguatan cadangan strategis energi nasional (BBM dan LPG)
â€ĸ Percepatan hilirisasi dan substitusi bahan baku impor petrokimia
â€ĸ Peningkatan ketahanan logistik energi domestik
â€ĸ Kolaborasi pemerintah-swasta dalam early warning system rantai pasok energi

Langkah-langkah ini penting untuk memastikan bahwa risiko geopolitik tidak langsung berubah menjadi risiko fiskal dan inflasi domestik.

***

Pada akhirnya, konflik di Timur Tengah bukanlah perang kitab suci, melainkan konflik kepentingan yang meminjam bahasa teologi sebagai legitimasi moral. Warisan Nabi Ibrahim seharusnya menjadi simbol persatuan dalam tauhid, bukan pembenaran dominasi atas sesama manusia.

Karena Ibrahim tidak mewariskan tanah kepada umat manusia-
Ia mewariskan nilai.

Dr. Anggawira, MM., MH.
Penulis adalah Sekretaris Jenderal BPP HIPMI
Ketua Umum ASPEBINDO

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)




(erd/erd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads