Ramadan sering dipahami sebagai bulan menahan lapar dan haus. Padahal, puasa sejatinya juga menjadi sarana memperbaiki akhlak. Ukuran keberhasilan seseorang mempelajari agama tidak berhenti pada ibadah ritual saja, tetapi juga tampak melalui sikap dan perilaku sehari-hari.
Akhlak menjadi fondasi utama kehidupan seorang muslim. Bahkan, keindahan ajaran agama tercermin dari cara berbicara, bersikap kepada sesama, serta mengelola emosi.
Dalam program detikKultum Ramadan yang disampaikan Ustaz Koh Dennis Lim, dijelaskan empat pilar akhlak yang bersumber dari hadits Rasulullah SAW. Keempat pilar ini menjadi penopang kehidupan seorang muslim sekaligus pedoman dalam membangun karakter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Menjaga Lisan dan Memuliakan Sesama
Pilar pertama berkaitan dengan ucapan serta sikap terhadap lingkungan sekitar. Rasulullah SAW bersabda,
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya." (HR. Bukhari & Muslim)
Hadits ini menjelaskan bahwa berbicara tetap dianjurkan, tetapi harus membawa kebaikan. Jika ragu, diam menjadi pilihan terbaik. Ustaz Koh Dennis Lim mengajak untuk selalu bertanya sebelum berbicara: apakah ucapan tersebut diridhai Allah?
Ia juga mengingatkan kisah tentang seseorang yang rajin salat, zakat, puasa, bahkan haji, tetapi lisannya menyakiti tetangga. Rasulullah SAW menyebut orang tersebut "Hiya finnar" (Dia di neraka).
Pesan ini terasa dekat, sebab sering kali justru orang-orang terdekat seperti orang tua, pasangan, dan anak yang paling banyak tersakiti oleh ucapan kita. Dari sini terlihat bahwa menjaga lisan merupakan fondasi utama dari akhlak.
2. Meninggalkan Hal yang Tidak Bermanfaat
Setelah lisan, pilar berikutnya adalah kemampuan memilah aktivitas. Rasulullah SAW bersabda,
"Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya (tidak menjadi urusannya)." (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah)
Bekal untuk kembali kepada Allah adalah amal saleh. Sementara itu, waktu merupakan aset utama untuk mengumpulkan bekal tersebut. Harta bisa saja dimiliki, tetapi tanpa waktu untuk menyalurkannya pada kebaikan, semuanya menjadi sia-sia.
"Makanya aset yang paling berharga itu waktu." kata Ustaz Koh Dennis Lim.
Saat hal ini disadari, seseorang akan berusaha menggunakan seluruh waktunya untuk kebaikan, yang pada akhirnya kebaikan tersebut akan kembali kepada dirinya sendiri.
3. Mengendalikan Amarah
Jika waktu sudah dijaga, tantangan berikutnya adalah mengelola emosi. Rasulullah SAW bersabda,
"Jangan marah, maka bagimu surga." (HR. Thabrani)
Dalam kultumnya, Ustaz Koh Dennis Lim menyampaikan bahwa sering kali jalan menuju surga terhalang oleh perilaku pribadi, seperti mudah marah, lalai beribadah, dan jarang beristighfar.
Rasulullah SAW pun pernah marah, tetapi kemarahan beliau bukan untuk kepentingan pribadi. Beliau marah saat Allah, Rasul-Nya, dan agama dihina, atau ketika saudaranya disakiti. Ini menunjukkan bahwa marah bisa terjadi, tetapi harus karena alasan yang benar, bukan karena hawa nafsu.
4. Mencintai Kebaikan bagi Sesama
Pilar terakhir menyempurnakan tiga pilar sebelumnya. Rasulullah SAW bersabda,
"Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Iman mencapai kesempurnaan ketika seseorang mampu merasa senang atas kebaikan yang diterima orang lain, sebagaimana ia senang saat menerima kebaikan untuk dirinya sendiri.
Sikap ini membersihkan hati dari dengki, sesuatu yang kerap muncul ketika melihat keberhasilan orang lain.
Ustaz Koh Dennis Lim mengingatkan, jika Allah SWT telah menetapkan sesuatu menjadi milik seseorang, maka tidak ada yang mampu menghalanginya. Sebaliknya, orang yang menyimpan dengki justru akan terus hidup dalam penderitaan karena menggantungkan kebahagiaannya pada keadaan orang lain.
"Betapa menderitanya orang yang mendengki, yang meletakkan kebahagiaannya di urusan orang lain," ujarnya.
Itulah empat pilar akhlak yang menjadi penopang hidup seorang muslim. Selain menjaga sikap dan perilaku, menjaga kesehatan juga penting agar ibadah puasa bisa dijalankan dengan nyaman.
(inf/lus)











































Komentar Terbanyak
Arab Saudi Resmi Tetapkan Idul Fitri 20 Maret 2026
Apakah Nanti Malam Takbiran? Ini Prediksinya
Hasil Sidang Isbat Lebaran Idul Fitri 2026 Diumumkan Jam Berapa?