Al-Qur'an memberikan sebuah gambaran tentang kecerdasan yang merupakan potensi manusia. Sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur'an, bisa berupa akal dan fikiran yang akan memberikan perbedaan antara manusia dengan makhluk Allah SWT lainnya.
Akal mencegah manusia melakukan tindakan yang akan membawa mereka ke hukuman neraka sebagaimana surah al-Mulk ayat 10 yang terjemahannya, "Mereka juga berkata, "Andaikan dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), tentulah kami tidak termasuk ke dalam (golongan) para penghuni (neraka) Sa'ir (yang menyala-nyala)."
Dalam ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang kafir yang sedang diazab di dalam neraka itu menyesali sikap dan tindakan mereka selama hidup di dunia dengan mengatakan, "Sekiranya kami mau menggunakan akal dan pikiran kami yang telah dianugerahkan Allah SWT untuk menilai dan mengambil manfaat dari seruan rasul itu, demikian pula seandainya kami menggunakan telinga kami untuk mendengar ayat-ayat-Nya yang telah diturunkan dan disampaikan kepada kami oleh rasul yang telah diutus-Nya, tentu kami tidak akan menyangkal dan mengingkari kebenaran yang disampaikan itu. Kami tidak akan teperdaya oleh kesenangan dan pengaruh dunia yang fana ini, tidak akan teperdaya oleh tipu daya setan, dan tidak akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala ini yang azabnya tidak tertanggungkan sedikit pun oleh kami."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih dari itu, akal memungkinkan manusia untuk memahami bahwa kehidupan setelah mati lebih baik daripada kehidupan di dunia ini. Hal ini sebagaimana firman-Nya surah al-An'am ayat 32 yang terjemahannya, "Kehidupan dunia hanyalah permainan dan kelengahan, sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?"
Sesungguhnya kalau mereka menggunakan nalar dan nurani yang jernih dalam menyikapi ajaran Al-Qur'an, mereka akan memahami bahwa kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau yang hanya akan bermanfaat jika digunakan untuk kehidupan di akhirat. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman dan melindungi dirinya dari malapetaka dunia dan akhirat. Apakah kamu tidak memikirkannya secara mendalam?
Siapakah gerangan yang termasuk orang-orang yang berakal dan santun? Dia adalah Abdullah bin Abbas, sepupu Rasulullah SAW. Diceritakan ketika Ibnu Abbas mendengar hadits dari seorang sahabat Rasulullah SAW maka ia mendatangi rumahnya di saat istirahat siangnya, ia membeberkan kainnya di teras pintu rumah. Ia melakukan itu agar jiwanya rela. Saat pemilik rumah melihatnya dan bertanya, "Wahai sepupu Rasulullah SAW, apa yang membuatmu datang? Mengapa engkau tidak memintaku untuk datang? Kemudian Ibnu Abbas menjawab, "Aku lebih patut untuk datang kepadamu, ilmu itu didatangi bukan mendatangi." Kemudian Ibnu Abbas bertanya tentang hadits tersebut.
Ingatlah bahwa ilmu itu didatangi, bermakna kita harus mencari tahu sumber ilmu (guru, sekolah, pondok pesantren dan lain-lain) dengan mendatangi dan menyerap ilmu tersebut. Itulah adab mencari ilmu, bayangkan seorang sepupu Rasulullah SAW merendahkan diri demi ilmu, dan dia juga menjunjung tinggi derajat para ulama.
Dikisahkan, Zaid bin Tsabit (penerjemah Rasulullah SAW dalam bahasa Ibrani dan Suryaniyah) ulama di bidang peradilan, fikih, qiraat dan faraid, ketika hendak mengendarai hewan tunggangannya, Ibnu Abbas berdiri di depannya layaknya seorang pelayan di depan majikannya, memegang pijakan kaki pelananya dan menggenggam tali kekangnya.
Zaid pun menghadap ke arahnya dan berkata, "Biarkan wahai sepupu Rasulullah SAW." Maka Ibnu Abbas menjawab, "Demikianlah kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada ulama-ulama kita." Kemudian Zaid berkata, "Ulurkan tanganmu." Ibnu Abbas menyodorkan tangannya, ketika itu Zaid memegang dan menciumnya, sambil berkata, "Demikianlah kita diperintahkan untuk memperlakukan keluarga Nabi SAW."
Ibnu terus dengan rajin mencari ilmu sehingga dia mencapai derajat yang membuat para ulama besar terkagum-kagum kepadanya. Masruq bin al-Ajda' seorang tabiin besar berkata tentangnya, "Jika aku melihat Ibnu Abbas maka aku berani berkata dia adalah orang yang paling tampan. Jika dia bertutur kata aku berani berkata bahwa dia adalah orang yang paling fasih. Jika dia berbicara tentang ilmu maka aku berani berkata bahwa ia orang yang paling alim di antara orang yang alim."
Itulah sosok seseorang yang berakal dan bersikap santun. Kondisi kehidupan saat ini mungkin tidak mudah menemukan sosok seperti itu. Namun, penulis tetap optimistis akan muncul ke permukaan sosok tersebut saat kita dalam kehidupan ini mengalami krisis moral yang berat. Allah SWT Maha Adil dan Maha Kuasa atas kehendak-Nya.
Ya Allah, tuntunlah kami dan para penguasa untuk berlaku santun seperti yang dicontohkan Ibnu Abbas dan Zaid bin Tsabit, dan berilah cahaya-Mu agar kami termasuk golongan orang-orang yang berakal.
--
Aunur Rofiq
Penulis adalah Pendiri Himpunan Pengusaha Santri Indonesia
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)
(kri/kri)












































Komentar Terbanyak
Bolehkah Umat Islam Meniup Terompet saat Malam Tahun Baru?
Pertama Kali! Kemenag Gelar Natal Bersama Kristen-Katolik di TMII
Hati-hati, Muslim yang Pelihara Anjing Pahalanya Akan Berkurang Tiap Hari