"Perplexity, bayangkan anda adalah seorang profesor ahli ekonomi. Berikut merupakan soal Ujian Tengah Semester yang anda hendak bedah. Tolong pahami logika dari soal tersebut terlebih dahulu. Lalu, sebagai seorang profesor ahli ekonomi, aku meminta kamu untuk melakukan riset yang sangat mendalam, rinci, dan detail mengenai topik yang ada di dalam soal Ujian Tengah Semester tersebut. Setelah, kamu melakukan riset, sekarang aku meminta kamu untuk menjawab soal tersebut sesuai dengan rubrik penilaian yang ada di dalam soal tersebut."
"ChatGPT, bayangkan anda adalah seorang profesor ahli bahasa Indonesia. Berikut merupakan prompt untuk membuat bot yang bernama Text GPT. Bot tersebut berfungsi untuk menghumanisasi bahasa yang telah diproduksi oleh Perplexity. Namun, hasil dari humanisasi tersebut harus sesuai dengan kaidah Kamus Besar Bahasa Indonesia dan EYD V."
Kursor berkedip sesaat dan Enter ditekan. Dalam hitungan detik, layar dipenuhi dengan paragraf demi paragraf yang tersusun rapi. Eka, seorang mahasiswa semester empat di perguruan tinggi swasta, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan napas lega. Beban tugas kuliahnya seolah tidak ada akhirnya, tetapi ia mempunyai senjata jitu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari pukul sembilan pagi hingga dua belas malam, perbincangan Eka dengan para alat kecerdasan buatannya (AI) tak henti bermerkaran. Lebih dari dua belas jam sehari ia habiskan untuk meracik prompt. Perplexity untuk riset, ChatGPT untuk tugas, dan dompet untuk membayar royalty.
Tentu hubungan intimnya dengan para alat AI-nya membuahkan hasil. Selama empat semester, IPK-nya bertengger manis di angka yang sangat tinggi - 3,81 - sebuah pencapaian yang membuatnya terlihat seperti mahasiswa dambaan di mata sistem administrasi kampus.
Namun, tenang saja. Eka tentu tahu bahwa mengumpulkan teks mentah hasil muntahan AI adalah tindakan bunuh diri akademis yang mudah terbaca. Oleh karena itu, ia telah menyempurnakan alur permainan digitalnya.
Pertama-tama, parafrase manual, lalu sisipkan gaya bahasa kasual. Jangan lupa masukkan kesalahan kecil agar tulisan tetap terasa 'manusiawi'. Hanya dengan beberapa langkah saja, lembar tugas anda juga dapat sukses lolos dari kecurigaan! Amankan nilai tanpa perlu keringatan.
Di tengah digitalisasi pendidikan, penggunaan AI telah menjadi sebuah kebiasaan di kalangan para mahasiswa dan bahkan dosen. Dunia akademik telah dipenuhi oleh robot-robot berusaha menjadi manusia. Namun, sayangnya, sepertinya tidak ada yang menarik tombol darurat.
"Sekarang ini, orang dengan mudah bisa mengetahui dan membaca apakah sebuah tulisan merupakan produk AI atau bukan. Dosen-dosen dan pihak media massa juga sudah bisa menyeleksi apakah sebuah tulisan dibuat menggunakan AI atau tidak," demikian kata pengamat pendidikan Ki Darmaningtyas, menunjukkan bahwa penggunaan AI di bidang pendidikan menjadi suatu hal yang lumrah untuk ditemukan.
Demi sebuah validasi berwujud nilai, publikasi, dan gelar. Mereka menghalalkan segala cara, salah satunya AI. Di era Industri 4.0, umat manusia disuguhkan sebuah teknologi yang memudahkan mereka. Namun, mereka belum tahu efek jangka panjang dari inovasi tersebut.
Menurut Dosen Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Patrick Yesandro, ketergantungan terhadap AI ini menyebabkan terjadinya cognitive debt, yaitu situasi di mana pelajar terus-menerus meminjam kapasitas berpikir komputer untuk menyelesaikan tugas kita sehari-hari.
*) Reportase ini dibuat oleh Laurensius Matthew Pramudya Agung, Venere Arganiswari Danitta, dan Belva Putri Paramitha. Mereka adalah mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara Program Studi Digital Journalism yang menerima hibah (grant) dari Pulitzer Center untuk melakukan AI Accountability Reporting pada mata kuliah In-Depth and Investigative Reporting.
