×
Ad

Beda Penelitian S1, S2, dan S3: Dari Penerapan Ilmu hingga Temuan Orisinal

Kalila Untsa - detikEdu
Minggu, 18 Okt 2026 07:00 WIB
Ilustrasi penelitian Foto: Green Chameleon/Unsplash
Jakarta -

Pernahkah kamu bertanya-tanya, apa yang menjadi pembeda dari tugas akhir mahasiswa sarjana, magister, dan doktoral? Meski sama-sama melakukan penelitian, setiap jenjang pendidikan tinggi memiliki tuntutan yang berbeda, baik dari kedalaman pemahaman ilmu maupun kontribusi yang dihasilkan.

Dikutip dari PMDSU Kemendiktisaintek (Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul), perbedaan cara penelitian mahasiswa ini terlihat dalam tiga kategori yaitu penguasaan ilmu, kemandirian penelitian, dan kontribusi ilmiah.

Penguasaan ilmu mencakup seberapa dalam mahasiswa memahami teori, konsep, dan metode dalam bidangnya. Kemandirian penelitian melihat seberapa jauh mahasiswa bisa merumuskan masalah, menentukan pendekatan, dan mempertanggungjawabkan penelitiannya.

Sedangkan kontribusi ilmiah mengukur bagaimana hasil penelitian memberikan manfaat terhadap pembacanya. Di setiap jenjang pendidikan, tiga hal ini terus berkembang sehingga menjadi pembeda pada proses hingga hasil penelitiannya.

Lantas, bagaimana tiga aspek tersebut bekerja di setiap jenjang pendidikan?

Perbedaan Penelitian di Perguruan Tinggi

1. Sarjana (S1)

Penelitian, termasuk tugas akhir, pada jenjang sarjana umumnya bertujuan untuk memperlihatkan pemahaman mahasiswa terhadap konsep teoretis untuk menyelesaikan masalah penelitian di bidang masing-masing.

Pemahaman konsep teoretis ini dapat dicerminkan melalui proses perumusan masalah, penggunaan teori dan metode penelitian, analisis data, serta penarikan kesimpulan berdasarkan hasil analisis data.

Seringkali, penelitian S1 ditekankan sebagai sarana belajar mahasiswa untuk memahami bagaimana menyusun karya ilmiah yang sesuai pedoman dan prosedur penelitian. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan penelitian S1 dapat menghasilkan temuan baru.

Perlu diingat kontribusi orisinal terhadap perkembangan ilmu bukan tuntutan utama bagi mahasiswa yang menyusun penelitian hingga tugas akhir untuk mendapat gelar sarjana.

Perbedaan tuntutan penelitian pada setiap jenjang dapat dipahami melalui satu topik yang sama, misalnya hubungan penggunaan media sosial dengan konsentrasi belajar.

Pada jenjang S1, mahasiswa dapat meneliti hubungan antara durasi penggunaan media sosial dan konsentrasi belajar dengan menggunakan teori serta instrumen yang relevan. Fokusnya adalah menerapkan pengetahuan dan metode penelitian secara tepat untuk menjawab pertanyaan penelitian.


2. Magister (S2)

Mahasiswa program magister atau S2 telah menyusun proposal penelitian sesaat setelah memasuki perkuliahan. Di beberapa kampus, calon mahasiswa S2 bahkan diminta menyerahkan outline atau gagasan utama proposal penelitian tugas akhirnya saat melakukan pendaftaran.

Penelitian di jenjang pendidikan S2 diharapkan dapat menggambarkan pemahaman dan penguasaan ilmu yang lebih mendalam serta mengembangkan pengetahuan melalui karya yang inovatif.

Umumnya, mahasiswa S2 melakukan penelitian dengan mengkaji penelitian terdahulu secara kritis, mengidentifikasi keterbatasan pengetahuan yang ada, serta mengembangkan pendekatan, metode, atau analisis yang memberikan nilai tambah terhadap penelitian tersebut.

Penelitian di S2 tidak berarti mahasiswa harus menciptakan teori yang sepenuhnya baru. Bisa jadi, pengembangan pengetahuannya bisa diambil dari sisi metodologi, penerapannya, hasil analisis, atau temuan baru dalam penelitian.


3. Doktoral (S3)

Jenjang doktoral memiliki tuntutan akademik yang lebih tinggi dibandingkan program sarjana dan magister. Persyaratan penerimaannya pun dapat lebih spesifik, bergantung pada perguruan tinggi dan program studi. Sejumlah program mungkin mensyaratkan rekam jejak publikasi ilmiah, tetapi ketentuan tersebut tidak berlaku seragam di semua kampus.

Dalam kerangka PMDSU Kemendiktisaintek, pendidikan doktor diarahkan untuk memperdalam dan memperluas ilmu pengetahuan melalui penelitian atau karya yang orisinal dan teruji.

Karena itu, mahasiswa S3 dituntut mampu mengidentifikasi persoalan ilmiah yang belum terjawab secara memadai, merumuskan kontribusi orisinal, menjalankan penelitian secara mandiri, serta mempertanggungjawabkan temuannya berdasarkan bukti ilmiah yang kuat.

Meski tuntutannya lebih tinggi, penelitian doktoral tidak selalu harus melahirkan teori yang sepenuhnya baru. Temuan empiris yang signifikan, pengembangan metodologi, atau penjelasan ilmiah baru yang memperdalam pemahaman terhadap suatu persoalan juga dapat menjadi bentuk kontribusi doktoral.



Simak Video "Video: KLH-Kemdiktisaintek Kolaborasi Kuatkan Pengelolaan Lingkungan"

(pal/pal)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork