Lewat Panggung Teatrikal, Dosen ITB Cerita Rangkul Mahasiswa yang Nyaris DO

ADVERTISEMENT

Lewat Panggung Teatrikal, Dosen ITB Cerita Rangkul Mahasiswa yang Nyaris DO

Devita Savitri - detikEdu
Minggu, 27 Sep 2026 14:00 WIB
Dosen ITB, Imam Santoso bagikan kisah mahasiswa dan pesan untuk dosen dan guru.
Dosen ITB, Imam Santoso bagikan kisah mahasiswa dan pesan untuk dosen dan guru. Foto: ParagonCorp
Jakarta -

Walau terdengar sederhana, rasa percaya yang tulus bisa jadi penolong terakhir bagi seseorang untuk tetap bangkit dan melanjutkan hidup. Hal itu yang terjadi pada Bagus Toyib Rasyidin, mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang hampir drop out (DO) jika tak menyelesaikan studi dalam waktu 30 hari.

Kisah Bagus dibagikan dosen ITB yang juga kreator konten, Imam Santoso, ke panggung teatrikal Inspiring Educators ParagonCorp 2026. Di hadapan ribuan guru dan dosen, Imam menyebut mendengar kabar Bagus setelah ia baru kembali dari Finlandia.

Bagus terancam tidak bisa lulus jika tidak merampungkan studinya dalam 30 hari. Imam kemudian menghubungi Bagus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Gus, kalau kamu nggak ke rumah Mas Imam, kamu aku jemput ke Jakarta, ke rumah orang tuamu," kata Imam dalam acara Inspiring Educators ParagonCorp 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026) ditulis Minggu (27/9/2026).

Imam menuturkan, mahasiswanya itu kemudian tiba di rumahnya. Fasilitas ITB untuk dosen tersebut berupa apartemen kecil. Di sana ada 10 orang mahasiswa lain yang tinggal bersama Imam.

ADVERTISEMENT

Ia menyebut juga sempat menego ke kampus untuk memberikan dukungan agar Bagus bisa lulus. Dengan dukungan kebijakan kampus pada masa pandemi Covid-19, tenggat kelulusan Bagus diperpanjang. Bersama Imam, mahasiswa Teknik Metalurgi ITB itu berhasil menyelesaikan tugas akhirnya dan berhasil lulus.

Pendidik Harus Hadir dan Percaya

Melalui kisah Bagus, Imam mengingatkan satu pesan penting yang perlu diingat guru dan dosen. Menurutnya, pendidik harus bisa hadir dan percaya pada murid atau mahasiswanya.

"Kadang mahasiswa itu tidak perlu seseorang yang menceritakan kehebatan mereka. Mereka perlu seseorang yang percaya kepada mereka, sehingga rasa percaya dirinya kembali dengan sendirinya," kata Imam.

Rasa percaya menjadi kekuatan yang bisa membuat Bagus bangkit hingga akhirnya lulus. Dengan rasa haru, Imam menyatakan kala itu ia memberikan rasa percaya pada Bagus.

"Kalau kamu nggak percaya pada dirimu sendiri, kali ini biarkan Mas Imam yang percaya padamu," sampainya.

Pendidik dan Media Sosial

Di era dengan teknologi yang kian maju, pendidik tidak pernah kehilangan perannya. Guru dan dosen kini bisa memanfaatkan media sosial untuk menumbuhkan kepercayaan diri peserta didik yang bahkan bukan muridnya di sekolah.

"Dulu, ketika belum ada media sosial, mungkin saya hanya bisa datang ke satu sekolah dan bertemu sepuluh anak. Sekarang, melalui media sosial, kita bisa mendidik dan memotivasi bukan hanya siswa di satu kelas, tetapi jutaan orang tanpa mengenal batas ruang dan waktu," ungkapnya.

Untuk itu, pendidik perlu hadir di ruang digital. Namun, bukan untuk menggantikan ruang kelas, tetapi untuk memperluas ruang digital.

"Kalau generasi muda sekarang banyak menghabiskan waktunya di ruang digital, maka pendidik juga perlu hadir di sana. Bukan untuk menggantikan ruang kelas, tetapi untuk memperluas ruang belajar," ujarnya.

Meski demikian, Imam menilai teknologi hanyalah alat. Pendidik tetap dibutuhkan untuk memberi konteks, membangun karakter, dan membantu generasi muda menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.

Imam juga menegaskan kemajuan pendidikan membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah, komunitas, hingga sektor swasta, secara berkelanjutan.

Ia menyoroti rangkaian program pendidikan ParagonCorp, yakni Wardah Inspiring Teacher (WIT) untuk guru, Inspiring Lecturer Program (ILP) untuk dosen, dan Paragon Scholarship Program (PSP) untuk mahasiswa.

Diketahui, Inspiring Educators 2026 sekaligus menjadi graduation WIT dan ILP 2026 yang meluluskan 5.000 guru dan 1.000 dosen. Sejak 2017, kedua program telah menjangkau lebih dari 43.000 pendidik di 38 provinsi.



(det/twu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads