Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai menjadi salah satu sumber ketakutan utama masyarakat Amerika Serikat (AS). Survei terbaru Chapman University menunjukkan, kekhawatiran terhadap dampak AI terhadap proses politik dan perekonomian masuk dalam 10 besar ketakutan warga AS pada 2026, bahkan melampaui ketakutan terhadap serangan teroris.
Hasil tersebut terungkap dalam 2026 Chapman University Survey of American Fears, survei tahunan yang memetakan berbagai hal yang dikhawatirkan masyarakat AS. Penelitian ini dilaksanakan oleh NORC melalui panel AmeriSpeak, dengan melibatkan 1.221 responden yang diwawancarai secara daring pada 7-21 April 2026. Survei ini memiliki margin of error sebesar plus minus 3,79%.
Dalam survei tersebut, sebanyak 51,9 % responden mengaku takut AI digunakan untuk merusak proses politik. Kekhawatiran ini menempati peringkat ketiga dalam daftar ketakutan masyarakat AS.
Sementara itu, 49,7 % responden khawatir AI akan berdampak buruk terhadap perekonomian. Isu tersebut berada di peringkat ketujuh.
Adapun ketakutan terhadap serangan teroris berada di peringkat kesepuluh, dengan 47,3 % responden mengaku takut terhadap ancaman tersebut.
"Temuan ini memperjelas bahwa warga Amerika tidak hanya khawatir tentang apa arti AI bagi pekerjaan mereka, tetapi juga tentang potensi dampaknya pada sistem politik dan ekonomi kita," kata Christopher Bader, PhD, profesor sosiologi di Chapman University dan pendiri survei tersebut seperti dikutip dari laman resmi kampus.
Korupsi Pemerintah Masih Jadi Ketakutan Terbesar
Meski AI mulai menempati posisi penting dalam daftar ketakutan warga AS, persoalan pemerintahan masih menjadi sumber kecemasan terbesar.
Sebanyak 61,1 % responden menyatakan takut terhadap pejabat pemerintah yang korup. Isu ini kembali menduduki peringkat pertama, melanjutkan posisinya pada tahun sebelumnya.
"Faktanya, ketakutan terhadap pejabat pemerintah yang korup telah menempati posisi teratas selama 11 survei terakhir. Tahun ini, sekitar 61% warga Amerika mengaku takut atau sangat takut terhadap hal tersebut," ujar Bader.
Rekan sejawatnya, Steven Pfaff, menilai tingginya kekhawatiran terhadap korupsi mencerminkan persepsi masyarakat bahwa praktik tersebut tersebar di berbagai tingkat pemerintahan, baik federal, negara bagian, maupun lokal, serta melintasi perbedaan afiliasi politik.
"Ketakutan yang meluas terhadap korupsi ini mencerminkan suasana publik ketika masyarakat meyakini bahwa pemerintah didominasi oleh kelompok-kelompok berkepentingan yang memiliki kekuasaan dan sumber daya besar, dengan mengorbankan kepentingan rakyat Amerika dan dengan cara-cara yang merusak demokrasi. Kekhawatiran mengenai peran uang dalam politik menjadi salah satu pendorong utama fenomena ini," ujar Pfaff.
Dua Kekhawatiran soal AI Masuk 10 Besar
Survei tahun ini untuk pertama kalinya memasukkan sejumlah pertanyaan khusus mengenai AI. Hasilnya, dua kekhawatiran terkait teknologi tersebut langsung masuk dalam daftar 10 besar.
"Seiring dengan semakin terintegrasinya kecerdasan artifisial dalam kehidupan sehari-hari, memahami berbagai kekhawatiran ini akan menjadi semakin penting. Kami memperkirakan kekhawatiran tentang AI akan tetap menjadi bagian penting dalam diskusi nasional pada tahun-tahun mendatang," ujar Bader.
Selain ketakutan terhadap AI yang dapat merusak proses politik dan perekonomian, survei juga mengungkap sejumlah faktor yang berkaitan dengan tingkat kecemasan masyarakat terhadap teknologi tersebut.
Seth Benzell, asisten profesor yang meneliti ekonomi AI, menjelaskan kekhawatiran masyarakat tidak hanya berkaitan dengan kemungkinan otomatisasi pekerjaan dan penggantian tenaga manusia oleh mesin. Dampak AI terhadap masyarakat dan lingkungan juga menjadi perhatian.
Hasil survei menunjukkan tingkat penggunaan AI berkaitan dengan perbedaan tingkat ketakutan. Responden yang menggunakan AI setidaknya sekali seminggu cenderung lebih sedikit merasa takut dibandingkan mereka yang tidak pernah menggunakannya.
Sebagai contoh, sebanyak 46 persen pengguna AI mingguan mengaku takut teknologi tersebut merusak proses politik. Angka ini lebih rendah dibandingkan 55 persen responden yang tidak pernah menggunakan AI.
Perbedaan juga terlihat pada kekhawatiran terhadap dampak AI terhadap lingkungan. Sebanyak 32 persen pengguna AI mingguan menyatakan takut terhadap dampak tersebut, dibandingkan 50 persen pada kelompok yang tidak pernah menggunakan AI.
Menurut Benzell, temuan tersebut memberikan sedikit optimisme mengenai perkembangan kekhawatiran terhadap AI. Seiring meningkatnya penggunaan teknologi ini, pengalaman langsung dalam menggunakannya mungkin berkaitan dengan berkurangnya ketakutan.
Namun, hubungan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa penggunaan AI menyebabkan seseorang menjadi lebih percaya atau tidak takut terhadap teknologi tersebut.
(pal/pal)