Lebaran 2026 tinggal menghitung hari. Jelang Lebaran, tradisi mudik gratis menjadi bagian dari program pemerintah, perusahaan, hingga pihak lainnya. Namun, sudah efektif atau belum program mudik gratis sebenarnya?
Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Hengki Purwoto, SE, MA, mengatakan program mudik gratis bisa membantu masyarakat dari kelompok rentan yang ingin pulang kampung dengan aman dan nyaman. Dalam hal ini, masyarakat dengan ekonomi yang pas-pasan.
Meski dalam keseluruhan arus mudik, program gratis hanya mencakup sebagian kecil kelompok, tetapi penting dalam kacamata pengurangan risiko kecelakaan kendaraan pribadi.
"Peran program mudik gratis ini memang tidak terlalu besar namun isu mudik gratis menjadi penting karena tingginya risiko kecelakaan di jalur Jabodetabek ke Jawa," ujarnya, dikutip dari laman resmi UGM, Selasa (10/3/2026).
Dengan mudik gratis memakai bus, Hengki menilai cukup ampuh menekan kecelakaan kendaraan roda dua. Pasalnya, program tersebut menargetkan masyarakat berdaya beli rendah seperti buruh pabrik, atau pelaku UMKM yang terbiasa mudik menggunakan motor.
Kuota Mudik Gratis Hanya 0,01 Pemudik Lebaran
Secara nasional, ada sekitar 144 juta pergerakan selama mudik lebaran. Pergerakan tertinggi terjadi di pulau jawa dengan total 70 hingga 80 juta. Sementara kuota mudik gratis dari Jabodetabek ke Jawa dan Sumatera, hanya tersedia sekitar 15.000 tiket atau setara dengan 0,01 persen.
Proporsi arus mudik didominasi oleh pemudik dari Jabodetabek yang bergerak ke arah timur seperti, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, Bali, serta Nusa Tenggara. Sementara itu, sebagian kecil sisanya mengarah ke Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Program ini paling banyak menyediakan rute Jabodetabek menuju Jawa dan sebagian kecil Sumatera. Para pemudik akan mendapatkan fasilitas berupa tiket kendaraan umum seperti bus, sekaligus jasa angkut sepeda motor menggunakan truk.
Hengki menilai, secara perhitungan program mudik gratis belum dikatakan efisien. Namun program tersebut tetap memiliki beberapa sisi positif. Seperti meminimalisir kecelakaan lalu lintas, kemacetan, hingga tekanan berlebih pada infrastruktur jalan akibat tingginya volume kendaraan.
Maka dari itu, agenda mudik gratis akan efisien jika dibandingkan dengan biaya kesehatan dan kerusakan infrastruktur. Lebih lanjut, ia menjelaskan semuanya dapat dikonversi secara ekonomi, apabila total biaya mudik kecelakaan dan kerusakan infrastruktur menurun.
Jika nilai manfaat sosial, lebih tinggi dari pada biaya penyelenggaraan mudik sekitar 2 miliar rupiah, maka dinilai efisien. Karena, meski secara kuantitatif angkanya rendah, program ini telah menekan biasa fiskal yang mungkin lebih tinggi.
Menurut dosen UGM sekaligus peneliti infrastruktur dan transportasi tersebut, mudik gratis adalah bentuk intervensi yang lebih efektif, dibanding membatasi tarif yang justru merugikan operator transportasi.
"Dengan kata lain, pemerintah tetap menjaga keberlanjutan usaha transportasi namun sekaligus melindungi kelompok rentan," jelasnya.
Rekomendasi Kebijakan bagi Pemerintah
Menurut Hengki, pemerintah perlu menetapkan agenda mudik sebagai bagian dari manajemen transportasi regional yang berkelanjutan.
1. Efek jangka pendeknya, pemerintah dapat mengatur tarif perjalanan dan jadwal libur lebaran agar tidak terjadi penumpukan penumpang dalam satu waktu.
2. Sementara efek jangka menengah, pemerintah perlu mengembangkan tiket terpadu atau terintegrasi antar kendara umum. Jadi, masyarakat hanya perlu membeli satu tiket dalam satu perjalanan.
3. Untuk efek jangka panjangnya, pemerintah dapat melakukan perombakan kapasitas armada transportasi, menciptakan iklim industri transportasi yang menarik bagi pelaku usaha, memperkuat infrastruktur hingga mengembangkan bisnis penunjang seperti perusahaan ticketing dan asuransi.
"Bagaimanapun transportasi umum harus menjadi andalan. Karena itu, perencanaan layanan harus mencakup peningkatan kualitas dan kuantitas yang dilakukan secara simultan agar setiap tahun kita tidak menghadapi beban fiskal berulang dengan pola yang sama," pungkasnya.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
Simak Video "Video: Polri Ungkap Kecelakaan Mudik Lebih Sering di Jalan Arteri Dibanding Tol"
(sls/faz)